• Latest
Dari Soedjatmoko Kepada Agamawan

Dari Soedjatmoko Kepada Agamawan

14 July 2022
Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

Pindah Sementara ke Grage City Hub, Wakil Wali Kota Cirebon: Makin Erat dan Semangat Layani Warga

11 August 2026
​Kantor Setda Kota Cirebon Pindah Sementara ke Grage City Hub, Dorong Sinergi Pemkot dan Swasta

Kantor Setda Resmi Pindah Sementara ke Grage City Hub

11 August 2026
ADVERTISEMENT
Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

11 August 2026
Petugas PKH sedang mengunjungi KPM

Bansos Gagal Cair, 923 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Kecamatan Purabaya Kabupaten Sukabumi Terindikasi Judi Online

11 August 2026

Gedung Lama Direnovasi, Wali Kota, Wakil Wali Kota dan Sekda Mulai Berkantor di GCM

11 August 2026
Kasus Korupsi Kredit BPR Bank Cirebon: Kejari Terima Pelimpahan 3 Tersangka dan Barang Bukti

Kasus Korupsi Kredit BPR Bank Cirebon: Kejari Terima Pelimpahan 3 Tersangka dan Barang Bukti

10 August 2026
Kinerja BNI Menguat, Laba Capai Rp10,8 Triliun, PPOP Tembus Rp18,5 Triliun

Kinerja BNI Menguat, Laba Capai Rp10,8 Triliun, PPOP Tembus Rp18,5 Triliun

9 August 2026
Fantastis! Temuan BPK di SMAN 1 Batujajar Capai Rp.161,18 Juta, Koalisi Minta Pengusutan Tuntas

Fantastis! Temuan BPK di SMAN 1 Batujajar Capai Rp.161,18 Juta, Koalisi Minta Pengusutan Tuntas

9 August 2026
Perkuat Ekosistem Literasi, “Kelas Penggerak Literasi” Resmi Dibuka Kepala Balai Bahasa Jabar

Perkuat Ekosistem Literasi, “Kelas Penggerak Literasi” Resmi Dibuka Kepala Balai Bahasa Jabar

8 August 2026
Peringati HUT Ketum Bahlil, Golkar Kota Cirebon Berikan Santunan Anak Yatim-Piatu

Peringati HUT Ketum Bahlil, Golkar Kota Cirebon Berikan Santunan Anak Yatim-Piatu

7 August 2026
Sambut Harlah ke-25, Demokrat Gelar GPM

Sambut Harlah ke-25, Demokrat Gelar GPM

7 August 2026
Workshop di Bandung Dorong Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab untuk Riset dan Advokasi Kebijakan

Workshop di Bandung Dorong Pemanfaatan AI yang Bertanggung Jawab untuk Riset dan Advokasi Kebijakan

5 August 2026
  • Tentang Kami
  • Personalia
  • Kontak Kami
  • Iklan
Wednesday, August 12 2026
  • Login
  • Register
portalnusa.id
Advertisement
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

    Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

    Perkuat Ekosistem Literasi, “Kelas Penggerak Literasi” Resmi Dibuka Kepala Balai Bahasa Jabar

    Perkuat Ekosistem Literasi, “Kelas Penggerak Literasi” Resmi Dibuka Kepala Balai Bahasa Jabar

    Dinilai Saling Lempar Tanggung Jawab, Layanan BCA Cirebon Diadukan ke OJK

    Dinilai Saling Lempar Tanggung Jawab, Layanan BCA Cirebon Diadukan ke OJK

    Renovasi Gedung Setda Kota Cirebon Difokuskan pada Perkuatan Struktur Basement dan Lantai I

    Sinergi OJK, Pemda, dan Perbankan Perkuat Ekosistem Garam Kabupaten Cirebon

    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • All
    • Esai
    • Prosa
    • Puisi
    Lomba Perpustakaan Kelurahan Jabar: Kelurahan Sunyaragi, Kota Cirebon Tembus 8 Besar

    Lomba Perpustakaan Kelurahan Jabar: Kelurahan Sunyaragi, Kota Cirebon Tembus 8 Besar

    Masuk 8 Besar Jabar, Kelurahan Sunyaragi Unggulkan Sejumlah Inovasi Literasi pada Lomba Perpustakaan

    Masuk 8 Besar Jabar, Kelurahan Sunyaragi Unggulkan Sejumlah Inovasi Literasi pada Lomba Perpustakaan

    Menatap Rebana Metropolitan: Episentrum Baru Investasi dan Lokomotif Utama Ekonomi Nasional

    Menatap Rebana Metropolitan: Episentrum Baru Investasi dan Lokomotif Utama Ekonomi Nasional

    Hari Jadi Cirebon ke-599: Festival Kepatihan 2 Diawali Ziarah Makam Syekh Maulana Maghribi

    Hari Jadi Cirebon ke-599: Festival Kepatihan 2 Diawali Ziarah Makam Syekh Maulana Maghribi

    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Majelis Seni dan Tradisi Desak Pemerintah Beri Penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Ayip Muh

    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

    Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

    Perkuat Ekosistem Literasi, “Kelas Penggerak Literasi” Resmi Dibuka Kepala Balai Bahasa Jabar

    Perkuat Ekosistem Literasi, “Kelas Penggerak Literasi” Resmi Dibuka Kepala Balai Bahasa Jabar

    Dinilai Saling Lempar Tanggung Jawab, Layanan BCA Cirebon Diadukan ke OJK

    Dinilai Saling Lempar Tanggung Jawab, Layanan BCA Cirebon Diadukan ke OJK

    Renovasi Gedung Setda Kota Cirebon Difokuskan pada Perkuatan Struktur Basement dan Lantai I

    Sinergi OJK, Pemda, dan Perbankan Perkuat Ekosistem Garam Kabupaten Cirebon

    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • All
    • Esai
    • Prosa
    • Puisi
    Lomba Perpustakaan Kelurahan Jabar: Kelurahan Sunyaragi, Kota Cirebon Tembus 8 Besar

    Lomba Perpustakaan Kelurahan Jabar: Kelurahan Sunyaragi, Kota Cirebon Tembus 8 Besar

    Masuk 8 Besar Jabar, Kelurahan Sunyaragi Unggulkan Sejumlah Inovasi Literasi pada Lomba Perpustakaan

    Masuk 8 Besar Jabar, Kelurahan Sunyaragi Unggulkan Sejumlah Inovasi Literasi pada Lomba Perpustakaan

    Menatap Rebana Metropolitan: Episentrum Baru Investasi dan Lokomotif Utama Ekonomi Nasional

    Menatap Rebana Metropolitan: Episentrum Baru Investasi dan Lokomotif Utama Ekonomi Nasional

    Hari Jadi Cirebon ke-599: Festival Kepatihan 2 Diawali Ziarah Makam Syekh Maulana Maghribi

    Hari Jadi Cirebon ke-599: Festival Kepatihan 2 Diawali Ziarah Makam Syekh Maulana Maghribi

    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Majelis Seni dan Tradisi Desak Pemerintah Beri Penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Ayip Muh

    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
No Result
View All Result
portalnusa.id
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Sastra
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
Home Sastra Esai

Dari Soedjatmoko Kepada Agamawan

Faudzil Adhiem by Faudzil Adhiem
14 July 2022
in Esai, Uncategorized
0
Share on FacebookShare on WhatsAppShare on Twitter


Oleh Faudzil Adhiem


Menghidupkan agama
Bahkan, untuk mencapai kebucinan yang legal secara hukum, prasyarat agama tidak bisa menyatukan dua insan beda agama menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Sekalipun cinta mereka begitu rupa. Sebab, membina rumah tangga tidak terlepas dari wilayah teologis (aqidah), dan berpagutan dengan aturan agamanya. Paling tidak, gambaran itu terjadi dalam agama Islam. Saya tidak tahu, apakah ketika lelaki Buddhis membangun bahtera rumah tangga dengan perempuan Kristen agamanya memperbolehkan? Bila iya, berarti setiap agama memiliki aturan yang berbeda, setidaknya dalam urusan pernikahan, dan disanalah toleransi bekerja: aturanmu untukmu, aturanku untukku. Namun, bukan berarti antar agama tidak punya jembatan untuk bisa berjalan seiring.

Pada jembatan sosiologislah, dan nasib sepenanggungan dapat jadi jembatan, dan ruang yang membuat duduk bersama tokoh lintas agama, penganut agama, dan agamanya itu sendiri. Gampangnya, pada masalah sosial dan kemanusiaan. Secara gamblang, sejarah bangsa kita telah menyuguhkannya. Dalam BUPKI, delapan dari 63 orang Indonesia di BPUPKI beragama non-Islam. Ada orang Tionghoa yang beragama Buddha atau Kristen¹. Tentu, terlepas dari persoalan polarisasi, dominasi etnis dan agama di dalamnya, serta perang horizontal sebelum BPUPKI ke belakang yang bermuasal dari devide at imperanya Belanda.

Tahun-tahun menjelang merdeka, rakyat yang berlatar belakang beragam etnis dan agama memiliki cita-cita bersama: merdeka! Serta memiliki musuh bersama: kolonialisme! Hal serupa bagi negara-negara yang pernah dan sedang dijajah (secara fisik), serupa Palestina, bahwa semua penganut agama di Palestina bersatu melawan musuh dan mengusir penjajahnya. Sikap sepenanggungan bersama, musuh bersama dan kesadaran sosialistik itulah yang bisa menjadi peluang antar agamawan di Indonesia untuk duduk ngopi bersama, melakukan diseminasi, dan gerakan nyata revolusioner. Tanpa itu, agamawan dan dalil-dalil agama hanya akan jadi bahan devide at impera seseorang, kelompok (musuh bersama sebenarnya).

Timbullah pertanyaan yang kurang mengenakkan dan mesti kita jawab: Apakah karena tiada musuh bersama, setiap agama, agamawan saling bertengkar, dan menjadikan satu dengan yang lain sebagai musuh? Apakah antar agama itu musuh? Apa sebetulnya yang menjadi musuh bangsa ini? Ketidak-adilan? Kapitalisme? Perusak bumi? Oligarki? Neo-kolonialisme? Siapa melawan apa, siapa melawan siapa?


***


Tak satu agama pun yang memerintahkan kepada penganutnya untuk melakukan tindakan buruk, dan jahat. Sebab secara istilah pun, agama berasal dari bahasa sansakerta, a: tidak dan gama: chaos/kacau: tidak chaos². Berarti, agama ada, sebagai aturan yang hadir di tengah manusia agar tidak terjadi chaos. Kalau agama menjadi sumber chaos — dan itu sebenarnya tak mungkin—mengindikasikan cara beragama dan tafsir agama ada yang keliru, dan perlu dikoreksi.

Sebagaimana aturan, agama mulanya ‘mati’. Ia tak bisa berjalan ke sana kemari mencari telinga, merekrut orang, menyebarkan pesan-pesannya. Barulah agama hidup dan dapat mengatur, ketika nabinya menyampaikan, menghadirkan, dan menghidupkannya ke hadapan manusia (umatnya). Dalam konteks hari ini, yang menjadi tombak menghidupkan agama adalah Ustad, Pastor, Biksu, yang dalam bahasa umum disebut agamawan. Oleh karena itu, seluruh wacana agama, dinamika beragama, dan keabsenan agama dalam masalah sosial umat: IPTEK, ketidakadilan, kemiskinan, kriris iklim, dan hubungan kekerabatan antar agama berakar pada keabsenan agamawan dalam menghidupkan agamanya, dan memberikan wacana keberagamaan yang membumi pada umatnya.

Menghadirkan agama dalam IPTEK


Agamawan itu menutup salam, setelah berhotbah begini:
“Kerusakan alam merupakan bukti gagal pahamnya kita, menilik di sebalik alam adalahdi sebalik alam adalah Tuhan.
Jagat raya ini adalah manifestasi dari Tuhan. Ia bahasa yang mesti dibaca dan direnungi. Apakah hadirin mengira bahwa gunung dan bumi itu diam? Ia benda mati? Tidak! Dia bergerak seperti awan, ia hidup dan menghidupi kita. Hadirin … jamaah yang bijaksana lagi budiman. Sudah sepatutnya kita mengelola sumber daya alam dengan lebih baik, tidak boleh rakus, dan secukupnya sajalah. Saya kira, kita memang tak rakus-rakus amat. Mereka para pengusahalah yang rakus dan kita merupakan konsumennya. Benar adanya kata orang: yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, tetapi kita kena imbasnya dari kerusakan alam. Sudah mah miskin, tambah pula menanggung imbasnya.


Apa yang mesti kita lakukan Bapak/Ibu hadirin? Banyak sekali Bapak Ibu. Mari kita mulai dengan memilah sampah rumah tangga kita, dan mengelolanya agar menjadi uang. Disana kita bisa sisihkan, dari sebagian uang yang masuk untuk membantu saudara kita yang sempit rezekinya, dan mencoba menerangi rumah dan tempat ibadat kita dengan energi terbarukan, seperti air dan surya. Kampung kita kan dekat sungai. Nah, pertama sebagai orang yang beragama, berakal sehat, tak boleh lagi kita membuang sampah ke sungai, dipilah ya, Bu, Pak, antara organik dan non-organik, lalu dibuanya ke tempat pengelolaan sampah di dekat tempat ibadat ini. Kedua, kita bisa coba membuat pembangkit listrik tenaga air. Sebenarnya, alangkah lebih baik kalau kita bisa pakai energi surya yang lebih melimpah. Apapun itu hadirin … Tuhan telah mengamanatkan kepada kita untuk menjaga bumi. Oleh karena itu, sebagai wujud menjaga amananahnya, kita beralih ke energi yang lebih baru dan ramah lingkungan. Serta sesuai dengan ajaran kita, bahwa tetangga yang papa mesti ditolong, tidak boleh tidak. Demikian, hadirin saya tutup saja dengan doa.”


Apatah banyak agamawan yang menyodorkan wacana seperti itu: ‘ progresif’ dalam mimbar-mimbar agama? Lalu apa hubungannya antara dominasi wacana di mimbar dengan IPTEK dan kerusakan alam? Oh, tentu ada. Soedjatmoko dalam tulisanya spiritualitas dan etika pembebasan di Indonesia mengatakan: agama merugi karena bercerai dengan IPTEK. Mengapa merugi? Karena Perceraian agama dan IPTEK, bisa dilihat dampaknya hari ini. Dimana pemanasan global makin tak terkira dan kriris iklim sudah di depan mata.


IPTEK dan agama, tentu memiliki paradigma yang beda dalam memahami alam. Paradigma yang dibangun IPTEK adalah antroprosen yang dimulai oleh Descartes dengan ungkapannya yang populer: Cogito ergo sum, serta fisikanya Isac Newton. Dimana alam dipandang sebagai sebuah mesin raksasa, dan secara terpotong-potong. Lalu paradigma ini diterima sebagai satu-satunya pemahaman yang benar tentang alam semesta, sekaligus membentuk perilaku, dan peradaban (Barat) modern yang mempunyai dampak luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk di bidang lingkungan hidup sendiri³. Bagi Descartes, tumbuhan dan binatang pun dipandangnya sekadar sebagai mesin, begitupun tubuh manusia⁴. Karena hegemoni paradigma pengetahuan ala barat itu yang mendominasi pengetahuan dunia, sebagian umat-umat beragama di dunia ikut hanyut di dalamnya, anak-anak sekolah di didik dengan pengetahuan serba rasional, melupakan rasa dan pegetahuan lokalnya (local wisdom). Sementara itu, agamawan tak kunjung mendekat, dan mempreteli IPTEK.

Barulah tatkala Einsten memaparkan teori relativitasnya, paradigma ilmu pengetahuan bergeser ke arah yang lebih baik dalam memandang alam. Alam dipandang secara holistik, sebagai sebuah sistem organis, dan kesatuan. Tetapi, kemajuan teknologi makin tak terkirakan pula dampaknya. Ketika berapa juta orang meninggal, dua kota Jepang koyak-moyak di bom Amerika, Einsten sebagai ilmuwan menyesal, karena teorinya yang dimaksudkan untuk ‘meluruskan’ tetapi dibelokkan menjadi senjata penghancuran. Tanpa agama, arah gerak ilmu pengetahuan dan teknologi hanya dimaksudkan untuk kepentingan orang dan segolongan.


Agama, yang dalam terminologi islam, selalu digemborkan sebagai rahmatan lil alamin, punya arah, aturan, dan prinsip keadilan bahwa kemasalahan bukan harus dirasakan oleh manusia semata, tetapi gunung, pohon, mata air, sungai, dan burung, harus ikut merasakannya. Sebab itu, seperti ucap Soedjatmoko: IPTEK mesti di integrasikan dengan agama. Kalau antar agamawan, ilmuwan dan ahli teknologi duduk melingkar bersama untuk menciptakan sesuatu atas dasar maslahat, manfaat, keadilan dan moral-spiritual, bencana terburuk yang diterima hari ini dari kemajuan, tidak akan begitu edan kita rasakan. Kunci untuk masuk ke sana, ada di antara orang-orang yang bergelut dalam bidangnya masing-masing. Sebaiknya, agamawanlah yang memulai menyebrang jembatan sosiologis tersebut. Sebab, ia punya umat atau massa yang mesti dibimbing. Kalau agamawan bisa memobilitas jamaah dalam kepentingan politik praktis, pemilu, mengapa untuk kepentingan politik moral, dan agenda revolusioner yang maslahat tak bisa?


Masa kini adalah esok yang lain
Dalam tulisannya, dan ceramahnya di hadapan agamawan kristen, Soedjatmoko sudah mewanti-wanti. Ia membeberkan segudang masalah, dan solusi kepada agamawan agar bisa menjawab tantangan zaman. Problemnya amat kompleks, dari cerainya IPTEK dengan agama, krisispangan, kemiskinan, pembangunan, dll.

Saya yakin, bahwa masalah-masalah yang dipaparkan Soedjatmoko di hadapan agamawan Kristen adalah bentuk penyadaran, bahwa agama mesti jadi solusi bagi umatnya.

Secara tersirat Bung Koko (agar lebih akrab) memberikan klunya: kita mesti mandiri pangan, menciptakan teknologi, wawasan agama yang lebih progresif, penguatan moral etis spiritual yang ekologis, solid secara sosial, tanpa harus beralih dari worldfiew agamanya dan pancasila, serta tidak saling siku sana-sini: harmonis-progresif!


***


Bonus demografi yang digaung-gaungkan, tanpa mengikis sikap feodal, dan merawat local wisdom (pendidikan rasa) sejak dalam bangku sekolah, rumah, dan kebijakan, hanya akan menghasilkan manusia kriris identitas yang linglung. Pun agamawan di mimbar agama, sebagai pendidik umat, harus punya arah dan tujuan: quo vadis anak-anak Indonesia? Para orang tua, yang merupakan madrasah pertama: quo vadis anak-anak? Tentu, terlepas dari cengkraman kemiskinannya.

Amat pelik dan komplek serta saling terkait untuk membentuk anak-anak, muda-mudi Indonesia menjadi manusia seutuhnya, di hari depan. Tetapi, masa depan adalah masa kini, tulis Winston dalam novel Gorge Orwel, 1984. Itu artinya, tak ada perubahan di masa depan, tanpa tindakan di hari ini. Esok yang lain, tergantung pada apakah kita bergerak ke arah yang baik atau buruk? Maka, bagi bung Koko masa depan ditentukan oleh moralitas keputusan hari ini. Tanpa moralitas dan spiritual, sebuah pisau akan melenceng dari hakikat kegunaanya: ia akan mencabut jantung orang.


Apa-apa yang dipaparkan bung Koko adalah penguatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya yang dibangun secara arif oleh hubungan yang karib antara kesadaran ilahiyah dan kesemestaan. Akan tetapi, pembentukan diri menjadi manusia seutuhnya adalah suatu proses panjang, dan eksistensi yang lain yang membentuk juga mesti dipikirkan.

Bagaimana mungkin anak-anak sekolah akan mencintai pohon? Sementara ada orang yang memasangkan kain hitam disebut sesat? Bagaimana mungkin anak-anak sekolah akan jujur? Sementara para pejabat memberikan contoh korupsi? Bagaimana mungkin anak-anak akan menghargai perbedaan? Sementara agamawan tidak menghargai kebenanaran orang atau golongan? Bagaimana mungkin anak-anak bisa menjadi manusia seutuhnya? Sementara ‘eksistensi yang lain’ yang membentuk dirinya tak mendukung? Maka itu, esok yang lain bagi anak-anak Indonesia, hari depan Indonesia di tentukan oleh ucapan Bung Koko juga: moralitas keputusan. Serta, spiritualitas, etika pembebasan, dan pembangunan eksistensi yang lain (pendukung).

_________________________________________

¹https://tirto.id/komposisi-etnis-dan-agama-para-perumus-pancasila-cpMq

²https://id.wikipedia.org/wiki/Portal:Agama

³Sonny, A keraf. (2014). Filsafat Ligkungan hidup: alam sebagai sistem kehdiupan bersama Fritjof Capra. Yogyakarta: Kanisius.

⁴Sonny, A keraf. (2014). Filsafat Ligkungan hidup: alam sebagai sistem kehdiupan bersama Fritjof Capra. Yogyakarta: Kanisius.

Tags: SOEDJATMOKO
Iklan Iklan Iklan
ADVERTISEMENT
Previous Post

Oligarki Industri Jurnalistik

Next Post

Kemenpora Bersama BAPPENAS, BPS dan Kemendagri Laksanakan Kegiatan Konsolidasi Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP)

Faudzil Adhiem

Faudzil Adhiem

Wartawan PortalNusa dan Jurdik.id. Selain itu ia menulis cerpen, puisi dan esai.

Related Posts

Gedung Lama Direnovasi, Wali Kota, Wakil Wali Kota dan Sekda Mulai Berkantor di GCM

by Redaksi PortalNusa
11 August 2026
0
4

Portalnusa.id — Mulai Selasa (11/8/2026), pusat aktivitas Sekretariat Daerah (Setda) resmi berkantor di dalam kawasan mal, tepatnya di Grage City...

Menatap Rebana Metropolitan: Episentrum Baru Investasi dan Lokomotif Utama Ekonomi Nasional

Menatap Rebana Metropolitan: Episentrum Baru Investasi dan Lokomotif Utama Ekonomi Nasional

by Redaksi PortalNusa
22 July 2026
0
38

Portalnusa.id – Koridor utara-timur Jawa Barat tengah bersiap memasuki babak baru pertumbuhan ekonomi. Melalui pengembangan Rebana Metropolitan, wilayah yang mencakup...

Pemkot Sukabumi Perkuat Kolaborasi dengan Bappenas, Fokus Perencanaan Jangka Panjang

Pemkot Sukabumi Perkuat Kolaborasi dengan Bappenas, Fokus Perencanaan Jangka Panjang

by Usman A Fakih
21 July 2026
0
11

PortalNusa.ID, Sukabumi - Pemerintah Kota Sukabumi memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas sebagai langkah menyelaraskan arah pembangunan daerah...

Next Post
Kemenpora Bersama BAPPENAS, BPS dan Kemendagri Laksanakan Kegiatan Konsolidasi Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP)

Kemenpora Bersama BAPPENAS, BPS dan Kemendagri Laksanakan Kegiatan Konsolidasi Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP)

Lee Joon Gi, Si Ganteng Korea Paket Komplit

Lee Joon Gi, Si Ganteng Korea Paket Komplit

Ancam Kebebasan Pers, Dewan Pers Desak Pemerintah Hapus Sejumlah Pasal RUU KUHP

Ancam Kebebasan Pers, Dewan Pers Desak Pemerintah Hapus Sejumlah Pasal RUU KUHP

Hari Jadi Kota Cirebon Ke-653, Wali Kota Ajak Warga Jaga Lingkungan

Discussion about this post

Advertorial

https://youtu.be/jk4SPl9IYFs

Trending

  • Rp395 Juta Dana BOSP SMAN 1 Parongpong Jadi Sorotan BPK, KMS Siapkan Aksi

    Rp395 Juta Dana BOSP SMAN 1 Parongpong Jadi Sorotan BPK, KMS Siapkan Aksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkuat Ekosistem Literasi, “Kelas Penggerak Literasi” Resmi Dibuka Kepala Balai Bahasa Jabar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kinerja BNI Menguat, Laba Capai Rp10,8 Triliun, PPOP Tembus Rp18,5 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bansos Gagal Cair, 923 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Kecamatan Purabaya Kabupaten Sukabumi Terindikasi Judi Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fantastis! Temuan BPK di SMAN 1 Batujajar Capai Rp.161,18 Juta, Koalisi Minta Pengusutan Tuntas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

Pindah Sementara ke Grage City Hub, Wakil Wali Kota Cirebon: Makin Erat dan Semangat Layani Warga

11 August 2026
4
​Kantor Setda Kota Cirebon Pindah Sementara ke Grage City Hub, Dorong Sinergi Pemkot dan Swasta

Kantor Setda Resmi Pindah Sementara ke Grage City Hub

11 August 2026
3
Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

Bukan Sekadar Mall, Grage City Hub Hadirkan Ekosistem Terpadu Pelayanan Publik dan Komunitas

11 August 2026
3
Petugas PKH sedang mengunjungi KPM

Bansos Gagal Cair, 923 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Kecamatan Purabaya Kabupaten Sukabumi Terindikasi Judi Online

11 August 2026
12

RSS PortalNusa Youtube

  • 6 Agustus 2026 6 August 2026
  • Kondisi Ciliwung bendungan Katulampa tadi siang seperti ini.."Waspada kemarau panjang " 23 July 2026
  • Datangi Dewan Pers, Mahmud Marhaba: PJS Resmi Menjadi Calon Konstituen Dewan Pers. 23 July 2026
  • Warga pengguna jalan, mengeluhkan rusaknya jalan di Desa Cikarang, Kec. Cidolog, Sukabumi, Jabar. 5 July 2025
  • Warga Desa Cikarang, Kec. Cidolog, Sukabumi, meminta jalan diperbaiki agar mendongak perekonomian. 6 May 2025
  • Komplain Oppo F11 23 April 2025
  • Penampakan angin puting beliung di Desa Bugis Kab. Indramayu, Minggu 16/03/25 sore. 17 March 2025
  • Puluhan Rumah di Desa Bugis, Kab. Indramayu hancur diterjang angin puting beliung, sore 16/03/25 17 March 2025
  • Viral lagu "Bayar Bayar Bayar", Band Punk Sukatani cabut lagu dan minta maaf pada Polri. 21 February 2025
  • Bahlil Buat Gaduh Penjualan Gas Subsidi, Seekor Ular Okupasi Gudang Agen Gas LPG di Kab. Mamuju 4 February 2025
ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Personalia
  • Kontak Kami
  • Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers

© 2022 - PortalNusa - PT. Pers Kita Bersama

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan

© 2022 - PortalNusa - PT. Pers Kita Bersama

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?