• Latest
Dari Soedjatmoko Kepada Agamawan

Dari Soedjatmoko Kepada Agamawan

14 July 2022
Perkuat Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,50%

Perkuat Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,50%

9 June 2026
Pemkot Cirebon Buka-bukaan Soal Postur APBD dan Tantangan Pembayaran Gaji ke-13 ASN

Pemkot Cirebon Buka-bukaan Soal Postur APBD dan Tantangan Pembayaran Gaji ke-13 ASN

8 June 2026
ADVERTISEMENT
Kajari Baru Dedi Sutendy Ditantang Tuntaskan Temuan BPK Rp30,5 M

Kajari Baru Dedi Sutendy Ditantang Tuntaskan Temuan BPK Rp30,5 M

5 June 2026
Edial Kembali Dilantik, Ketua PMI Kota Cirebon Apresiasi Dukungan Penuh Pemkot dan Sinergi Media

Edial Kembali Dilantik, Ketua PMI Kota Cirebon Apresiasi Dukungan Penuh Pemkot dan Sinergi Media

3 June 2026
Digantikan Anita, Doddy Fokus Kawal Gugatan

Digantikan Anita, Doddy Fokus Kawal Gugatan

3 June 2026

Jalur Heritage, Satpol PP Tertibkan PKL di Yos Sudarso

2 June 2026

Anita Gantikan Doddy Pimpin PPP Kota Cirebon

2 June 2026

BK Sudah Panggil Para Saksi Masih Belum Dapat emutuskan

2 June 2026
Kompak, Mantan Wabup dan Mantan Istri HSG, Berikan Kesaksian di BK DPRD Kota Cirebon

Kompak, Mantan Wabup dan Mantan Istri HSG, Berikan Kesaksian di BK DPRD Kota Cirebon

2 June 2026
Miris, Dinas Yang Dibutuhkan Masyarakat, Minim Fasilitas. Dewan Desak Pemkot Optimalkan Sarpras Damkar

Miris, Dinas Yang Dibutuhkan Masyarakat, Minim Fasilitas. Dewan Desak Pemkot Optimalkan Sarpras Damkar

25 May 2026
Perkuat Konektivitas Internasional, Biznet Implementasikan Teknologi Ciena 400G di Jalur Kabel Bawah Laut

Perkuat Konektivitas Internasional, Biznet Implementasikan Teknologi Ciena 400G di Jalur Kabel Bawah Laut

25 May 2026
Sukses Jaga Ketertiban Perayaan Persib, KNPI Cirebon Apresiasi Kapolres AKBP Eko Iskandar

Sukses Jaga Ketertiban Perayaan Persib, KNPI Cirebon Apresiasi Kapolres AKBP Eko Iskandar

24 May 2026
  • Tentang Kami
  • Personalia
  • Kontak Kami
  • Iklan
Wednesday, June 10 2026
  • Login
  • Register
portalnusa.id
Advertisement
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Perkuat Konektivitas Internasional, Biznet Implementasikan Teknologi Ciena 400G di Jalur Kabel Bawah Laut

    Perkuat Konektivitas Internasional, Biznet Implementasikan Teknologi Ciena 400G di Jalur Kabel Bawah Laut

    Perpusnas Perkuat Gerakan Literasi, Relima Bertambah Jadi 360 Orang di 322 Wilayah

    Perpusnas Perkuat Gerakan Literasi, Relima Bertambah Jadi 360 Orang di 322 Wilayah

    Awas Modus Filter Wajah, OJK Cirebon Ingatkan Mahasiswa Uniku Jaga Kerahasiaan 

    Awas Modus Filter Wajah, OJK Cirebon Ingatkan Mahasiswa Uniku Jaga Kerahasiaan 

    Belum Juga Setahun, Pengaduan Masyarakat ke OJK Cirebon Sudah 900 Aduan

    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • All
    • Esai
    • Prosa
    • Puisi
    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Majelis Seni dan Tradisi Desak Pemerintah Beri Penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Ayip Muh

    Wisuda ke-76 UGJ: 30% Lulusan Langsung Terserap Dunia Kerja Nasional dan Internasional

    Festival Literasi Tingkatkan Daya Baca Masyarakat

    Deklarasi Dukungan KH. Abas Buntet Jadi Pahlawan Nasional Menggema di Bukit Maneungteung

    SMK Muhammadiyah Lemahabang Kembali Jadi Rujukan Studi Banding Sekolah Binaan Yamaha.

    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Perkuat Konektivitas Internasional, Biznet Implementasikan Teknologi Ciena 400G di Jalur Kabel Bawah Laut

    Perkuat Konektivitas Internasional, Biznet Implementasikan Teknologi Ciena 400G di Jalur Kabel Bawah Laut

    Perpusnas Perkuat Gerakan Literasi, Relima Bertambah Jadi 360 Orang di 322 Wilayah

    Perpusnas Perkuat Gerakan Literasi, Relima Bertambah Jadi 360 Orang di 322 Wilayah

    Awas Modus Filter Wajah, OJK Cirebon Ingatkan Mahasiswa Uniku Jaga Kerahasiaan 

    Awas Modus Filter Wajah, OJK Cirebon Ingatkan Mahasiswa Uniku Jaga Kerahasiaan 

    Belum Juga Setahun, Pengaduan Masyarakat ke OJK Cirebon Sudah 900 Aduan

    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • All
    • Esai
    • Prosa
    • Puisi
    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Peringatan May Day 2026, Wali Kota Dorong Hubungan Harmonis Pekerja dan Pengusaha

    Majelis Seni dan Tradisi Desak Pemerintah Beri Penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Ayip Muh

    Wisuda ke-76 UGJ: 30% Lulusan Langsung Terserap Dunia Kerja Nasional dan Internasional

    Festival Literasi Tingkatkan Daya Baca Masyarakat

    Deklarasi Dukungan KH. Abas Buntet Jadi Pahlawan Nasional Menggema di Bukit Maneungteung

    SMK Muhammadiyah Lemahabang Kembali Jadi Rujukan Studi Banding Sekolah Binaan Yamaha.

    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
No Result
View All Result
portalnusa.id
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Sastra
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
Home Sastra Esai

Dari Soedjatmoko Kepada Agamawan

M Fadli by M Fadli
14 July 2022
in Esai, Uncategorized
0
Share on FacebookShare on WhatsAppShare on Twitter


Oleh Faudzil Adhiem


Menghidupkan agama
Bahkan, untuk mencapai kebucinan yang legal secara hukum, prasyarat agama tidak bisa menyatukan dua insan beda agama menjadi sepasang kekasih yang bahagia. Sekalipun cinta mereka begitu rupa. Sebab, membina rumah tangga tidak terlepas dari wilayah teologis (aqidah), dan berpagutan dengan aturan agamanya. Paling tidak, gambaran itu terjadi dalam agama Islam. Saya tidak tahu, apakah ketika lelaki Buddhis membangun bahtera rumah tangga dengan perempuan Kristen agamanya memperbolehkan? Bila iya, berarti setiap agama memiliki aturan yang berbeda, setidaknya dalam urusan pernikahan, dan disanalah toleransi bekerja: aturanmu untukmu, aturanku untukku. Namun, bukan berarti antar agama tidak punya jembatan untuk bisa berjalan seiring.

Pada jembatan sosiologislah, dan nasib sepenanggungan dapat jadi jembatan, dan ruang yang membuat duduk bersama tokoh lintas agama, penganut agama, dan agamanya itu sendiri. Gampangnya, pada masalah sosial dan kemanusiaan. Secara gamblang, sejarah bangsa kita telah menyuguhkannya. Dalam BUPKI, delapan dari 63 orang Indonesia di BPUPKI beragama non-Islam. Ada orang Tionghoa yang beragama Buddha atau Kristen¹. Tentu, terlepas dari persoalan polarisasi, dominasi etnis dan agama di dalamnya, serta perang horizontal sebelum BPUPKI ke belakang yang bermuasal dari devide at imperanya Belanda.

Tahun-tahun menjelang merdeka, rakyat yang berlatar belakang beragam etnis dan agama memiliki cita-cita bersama: merdeka! Serta memiliki musuh bersama: kolonialisme! Hal serupa bagi negara-negara yang pernah dan sedang dijajah (secara fisik), serupa Palestina, bahwa semua penganut agama di Palestina bersatu melawan musuh dan mengusir penjajahnya. Sikap sepenanggungan bersama, musuh bersama dan kesadaran sosialistik itulah yang bisa menjadi peluang antar agamawan di Indonesia untuk duduk ngopi bersama, melakukan diseminasi, dan gerakan nyata revolusioner. Tanpa itu, agamawan dan dalil-dalil agama hanya akan jadi bahan devide at impera seseorang, kelompok (musuh bersama sebenarnya).

Timbullah pertanyaan yang kurang mengenakkan dan mesti kita jawab: Apakah karena tiada musuh bersama, setiap agama, agamawan saling bertengkar, dan menjadikan satu dengan yang lain sebagai musuh? Apakah antar agama itu musuh? Apa sebetulnya yang menjadi musuh bangsa ini? Ketidak-adilan? Kapitalisme? Perusak bumi? Oligarki? Neo-kolonialisme? Siapa melawan apa, siapa melawan siapa?


***


Tak satu agama pun yang memerintahkan kepada penganutnya untuk melakukan tindakan buruk, dan jahat. Sebab secara istilah pun, agama berasal dari bahasa sansakerta, a: tidak dan gama: chaos/kacau: tidak chaos². Berarti, agama ada, sebagai aturan yang hadir di tengah manusia agar tidak terjadi chaos. Kalau agama menjadi sumber chaos — dan itu sebenarnya tak mungkin—mengindikasikan cara beragama dan tafsir agama ada yang keliru, dan perlu dikoreksi.

Sebagaimana aturan, agama mulanya ‘mati’. Ia tak bisa berjalan ke sana kemari mencari telinga, merekrut orang, menyebarkan pesan-pesannya. Barulah agama hidup dan dapat mengatur, ketika nabinya menyampaikan, menghadirkan, dan menghidupkannya ke hadapan manusia (umatnya). Dalam konteks hari ini, yang menjadi tombak menghidupkan agama adalah Ustad, Pastor, Biksu, yang dalam bahasa umum disebut agamawan. Oleh karena itu, seluruh wacana agama, dinamika beragama, dan keabsenan agama dalam masalah sosial umat: IPTEK, ketidakadilan, kemiskinan, kriris iklim, dan hubungan kekerabatan antar agama berakar pada keabsenan agamawan dalam menghidupkan agamanya, dan memberikan wacana keberagamaan yang membumi pada umatnya.

Menghadirkan agama dalam IPTEK


Agamawan itu menutup salam, setelah berhotbah begini:
“Kerusakan alam merupakan bukti gagal pahamnya kita, menilik di sebalik alam adalahdi sebalik alam adalah Tuhan.
Jagat raya ini adalah manifestasi dari Tuhan. Ia bahasa yang mesti dibaca dan direnungi. Apakah hadirin mengira bahwa gunung dan bumi itu diam? Ia benda mati? Tidak! Dia bergerak seperti awan, ia hidup dan menghidupi kita. Hadirin … jamaah yang bijaksana lagi budiman. Sudah sepatutnya kita mengelola sumber daya alam dengan lebih baik, tidak boleh rakus, dan secukupnya sajalah. Saya kira, kita memang tak rakus-rakus amat. Mereka para pengusahalah yang rakus dan kita merupakan konsumennya. Benar adanya kata orang: yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, tetapi kita kena imbasnya dari kerusakan alam. Sudah mah miskin, tambah pula menanggung imbasnya.


Apa yang mesti kita lakukan Bapak/Ibu hadirin? Banyak sekali Bapak Ibu. Mari kita mulai dengan memilah sampah rumah tangga kita, dan mengelolanya agar menjadi uang. Disana kita bisa sisihkan, dari sebagian uang yang masuk untuk membantu saudara kita yang sempit rezekinya, dan mencoba menerangi rumah dan tempat ibadat kita dengan energi terbarukan, seperti air dan surya. Kampung kita kan dekat sungai. Nah, pertama sebagai orang yang beragama, berakal sehat, tak boleh lagi kita membuang sampah ke sungai, dipilah ya, Bu, Pak, antara organik dan non-organik, lalu dibuanya ke tempat pengelolaan sampah di dekat tempat ibadat ini. Kedua, kita bisa coba membuat pembangkit listrik tenaga air. Sebenarnya, alangkah lebih baik kalau kita bisa pakai energi surya yang lebih melimpah. Apapun itu hadirin … Tuhan telah mengamanatkan kepada kita untuk menjaga bumi. Oleh karena itu, sebagai wujud menjaga amananahnya, kita beralih ke energi yang lebih baru dan ramah lingkungan. Serta sesuai dengan ajaran kita, bahwa tetangga yang papa mesti ditolong, tidak boleh tidak. Demikian, hadirin saya tutup saja dengan doa.”


Apatah banyak agamawan yang menyodorkan wacana seperti itu: ‘ progresif’ dalam mimbar-mimbar agama? Lalu apa hubungannya antara dominasi wacana di mimbar dengan IPTEK dan kerusakan alam? Oh, tentu ada. Soedjatmoko dalam tulisanya spiritualitas dan etika pembebasan di Indonesia mengatakan: agama merugi karena bercerai dengan IPTEK. Mengapa merugi? Karena Perceraian agama dan IPTEK, bisa dilihat dampaknya hari ini. Dimana pemanasan global makin tak terkira dan kriris iklim sudah di depan mata.


IPTEK dan agama, tentu memiliki paradigma yang beda dalam memahami alam. Paradigma yang dibangun IPTEK adalah antroprosen yang dimulai oleh Descartes dengan ungkapannya yang populer: Cogito ergo sum, serta fisikanya Isac Newton. Dimana alam dipandang sebagai sebuah mesin raksasa, dan secara terpotong-potong. Lalu paradigma ini diterima sebagai satu-satunya pemahaman yang benar tentang alam semesta, sekaligus membentuk perilaku, dan peradaban (Barat) modern yang mempunyai dampak luar biasa dalam berbagai bidang, termasuk di bidang lingkungan hidup sendiri³. Bagi Descartes, tumbuhan dan binatang pun dipandangnya sekadar sebagai mesin, begitupun tubuh manusia⁴. Karena hegemoni paradigma pengetahuan ala barat itu yang mendominasi pengetahuan dunia, sebagian umat-umat beragama di dunia ikut hanyut di dalamnya, anak-anak sekolah di didik dengan pengetahuan serba rasional, melupakan rasa dan pegetahuan lokalnya (local wisdom). Sementara itu, agamawan tak kunjung mendekat, dan mempreteli IPTEK.

Barulah tatkala Einsten memaparkan teori relativitasnya, paradigma ilmu pengetahuan bergeser ke arah yang lebih baik dalam memandang alam. Alam dipandang secara holistik, sebagai sebuah sistem organis, dan kesatuan. Tetapi, kemajuan teknologi makin tak terkirakan pula dampaknya. Ketika berapa juta orang meninggal, dua kota Jepang koyak-moyak di bom Amerika, Einsten sebagai ilmuwan menyesal, karena teorinya yang dimaksudkan untuk ‘meluruskan’ tetapi dibelokkan menjadi senjata penghancuran. Tanpa agama, arah gerak ilmu pengetahuan dan teknologi hanya dimaksudkan untuk kepentingan orang dan segolongan.


Agama, yang dalam terminologi islam, selalu digemborkan sebagai rahmatan lil alamin, punya arah, aturan, dan prinsip keadilan bahwa kemasalahan bukan harus dirasakan oleh manusia semata, tetapi gunung, pohon, mata air, sungai, dan burung, harus ikut merasakannya. Sebab itu, seperti ucap Soedjatmoko: IPTEK mesti di integrasikan dengan agama. Kalau antar agamawan, ilmuwan dan ahli teknologi duduk melingkar bersama untuk menciptakan sesuatu atas dasar maslahat, manfaat, keadilan dan moral-spiritual, bencana terburuk yang diterima hari ini dari kemajuan, tidak akan begitu edan kita rasakan. Kunci untuk masuk ke sana, ada di antara orang-orang yang bergelut dalam bidangnya masing-masing. Sebaiknya, agamawanlah yang memulai menyebrang jembatan sosiologis tersebut. Sebab, ia punya umat atau massa yang mesti dibimbing. Kalau agamawan bisa memobilitas jamaah dalam kepentingan politik praktis, pemilu, mengapa untuk kepentingan politik moral, dan agenda revolusioner yang maslahat tak bisa?


Masa kini adalah esok yang lain
Dalam tulisannya, dan ceramahnya di hadapan agamawan kristen, Soedjatmoko sudah mewanti-wanti. Ia membeberkan segudang masalah, dan solusi kepada agamawan agar bisa menjawab tantangan zaman. Problemnya amat kompleks, dari cerainya IPTEK dengan agama, krisispangan, kemiskinan, pembangunan, dll.

Saya yakin, bahwa masalah-masalah yang dipaparkan Soedjatmoko di hadapan agamawan Kristen adalah bentuk penyadaran, bahwa agama mesti jadi solusi bagi umatnya.

Secara tersirat Bung Koko (agar lebih akrab) memberikan klunya: kita mesti mandiri pangan, menciptakan teknologi, wawasan agama yang lebih progresif, penguatan moral etis spiritual yang ekologis, solid secara sosial, tanpa harus beralih dari worldfiew agamanya dan pancasila, serta tidak saling siku sana-sini: harmonis-progresif!


***


Bonus demografi yang digaung-gaungkan, tanpa mengikis sikap feodal, dan merawat local wisdom (pendidikan rasa) sejak dalam bangku sekolah, rumah, dan kebijakan, hanya akan menghasilkan manusia kriris identitas yang linglung. Pun agamawan di mimbar agama, sebagai pendidik umat, harus punya arah dan tujuan: quo vadis anak-anak Indonesia? Para orang tua, yang merupakan madrasah pertama: quo vadis anak-anak? Tentu, terlepas dari cengkraman kemiskinannya.

Amat pelik dan komplek serta saling terkait untuk membentuk anak-anak, muda-mudi Indonesia menjadi manusia seutuhnya, di hari depan. Tetapi, masa depan adalah masa kini, tulis Winston dalam novel Gorge Orwel, 1984. Itu artinya, tak ada perubahan di masa depan, tanpa tindakan di hari ini. Esok yang lain, tergantung pada apakah kita bergerak ke arah yang baik atau buruk? Maka, bagi bung Koko masa depan ditentukan oleh moralitas keputusan hari ini. Tanpa moralitas dan spiritual, sebuah pisau akan melenceng dari hakikat kegunaanya: ia akan mencabut jantung orang.


Apa-apa yang dipaparkan bung Koko adalah penguatan kualitas manusia Indonesia seutuhnya yang dibangun secara arif oleh hubungan yang karib antara kesadaran ilahiyah dan kesemestaan. Akan tetapi, pembentukan diri menjadi manusia seutuhnya adalah suatu proses panjang, dan eksistensi yang lain yang membentuk juga mesti dipikirkan.

Bagaimana mungkin anak-anak sekolah akan mencintai pohon? Sementara ada orang yang memasangkan kain hitam disebut sesat? Bagaimana mungkin anak-anak sekolah akan jujur? Sementara para pejabat memberikan contoh korupsi? Bagaimana mungkin anak-anak akan menghargai perbedaan? Sementara agamawan tidak menghargai kebenanaran orang atau golongan? Bagaimana mungkin anak-anak bisa menjadi manusia seutuhnya? Sementara ‘eksistensi yang lain’ yang membentuk dirinya tak mendukung? Maka itu, esok yang lain bagi anak-anak Indonesia, hari depan Indonesia di tentukan oleh ucapan Bung Koko juga: moralitas keputusan. Serta, spiritualitas, etika pembebasan, dan pembangunan eksistensi yang lain (pendukung).

_________________________________________

¹https://tirto.id/komposisi-etnis-dan-agama-para-perumus-pancasila-cpMq

²https://id.wikipedia.org/wiki/Portal:Agama

³Sonny, A keraf. (2014). Filsafat Ligkungan hidup: alam sebagai sistem kehdiupan bersama Fritjof Capra. Yogyakarta: Kanisius.

⁴Sonny, A keraf. (2014). Filsafat Ligkungan hidup: alam sebagai sistem kehdiupan bersama Fritjof Capra. Yogyakarta: Kanisius.

Tags: SOEDJATMOKO
Iklan Iklan Iklan
ADVERTISEMENT
Previous Post

Oligarki Industri Jurnalistik

Next Post

Kemenpora Bersama BAPPENAS, BPS dan Kemendagri Laksanakan Kegiatan Konsolidasi Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP)

M Fadli

M Fadli

Wartawan PortalNusa dan Jurdik.id. Selain itu ia menulis cerpen, puisi dan esai.

Related Posts

Aston Villa Juara Europa League!

Aston Villa Juara Europa League!

by Rudi Subagja
23 May 2026
0
4

Portalnusa.id - Kota Istanbul menjadi saksi bisu sebuah malam bersejarah ketika Aston Villa menegaskan dominasinya di panggung sepak bola Eropa....

Aksi PSDK das Citarum dan Walhi Jabar dalam Resistence Climbing for Citarum [Istimewa]

PSDK dan Walhi Gelar Aksi Sambut Hari Citarum 2026

by M Ankawijaya
22 May 2026
0
36

Pusat Sumber Daya Komunitas (PSDK) Daerah Aliran Sungai (das) citarum Bersama Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar menggelar aksi pemasangan spanduk...

10 Tahun Hari Citarum: Evaluasi Total Pengelolaan DAS Citarum

10 Tahun Hari Citarum: Evaluasi Total Pengelolaan DAS Citarum

by M Ankawijaya
16 May 2026
0
3

Citarum Harum, sebuah program yang dicanangkan pemerintah untuk perbaikan DAS Citarum (Istimewa)

Next Post
Kemenpora Bersama BAPPENAS, BPS dan Kemendagri Laksanakan Kegiatan Konsolidasi Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP)

Kemenpora Bersama BAPPENAS, BPS dan Kemendagri Laksanakan Kegiatan Konsolidasi Data Indeks Pembangunan Pemuda (IPP)

Lee Joon Gi, Si Ganteng Korea Paket Komplit

Lee Joon Gi, Si Ganteng Korea Paket Komplit

Ancam Kebebasan Pers, Dewan Pers Desak Pemerintah Hapus Sejumlah Pasal RUU KUHP

Ancam Kebebasan Pers, Dewan Pers Desak Pemerintah Hapus Sejumlah Pasal RUU KUHP

Hari Jadi Kota Cirebon Ke-653, Wali Kota Ajak Warga Jaga Lingkungan

Discussion about this post

Advertorial

https://youtu.be/jk4SPl9IYFs

Trending

  • Kajari Baru Dedi Sutendy Ditantang Tuntaskan Temuan BPK Rp30,5 M

    Kajari Baru Dedi Sutendy Ditantang Tuntaskan Temuan BPK Rp30,5 M

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembongkaran Rel Zaman Belanda Dinilai Tak Hargai Jejak Sejarah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Digantikan Anita, Doddy Fokus Kawal Gugatan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkuat Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,50%

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkot Cirebon Buka-bukaan Soal Postur APBD dan Tantangan Pembayaran Gaji ke-13 ASN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Perkuat Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,50%

Perkuat Stabilitas Rupiah, Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,50%

9 June 2026
5
Pemkot Cirebon Buka-bukaan Soal Postur APBD dan Tantangan Pembayaran Gaji ke-13 ASN

Pemkot Cirebon Buka-bukaan Soal Postur APBD dan Tantangan Pembayaran Gaji ke-13 ASN

8 June 2026
4
Kajari Baru Dedi Sutendy Ditantang Tuntaskan Temuan BPK Rp30,5 M

Kajari Baru Dedi Sutendy Ditantang Tuntaskan Temuan BPK Rp30,5 M

5 June 2026
94
Edial Kembali Dilantik, Ketua PMI Kota Cirebon Apresiasi Dukungan Penuh Pemkot dan Sinergi Media

Edial Kembali Dilantik, Ketua PMI Kota Cirebon Apresiasi Dukungan Penuh Pemkot dan Sinergi Media

3 June 2026
2

RSS PortalNusa Youtube

  • Warga pengguna jalan, mengeluhkan rusaknya jalan di Desa Cikarang, Kec. Cidolog, Sukabumi, Jabar. 5 July 2025
  • Warga Desa Cikarang, Kec. Cidolog, Sukabumi, meminta jalan diperbaiki agar mendongak perekonomian. 6 May 2025
  • Komplain Oppo F11 23 April 2025
  • Penampakan angin puting beliung di Desa Bugis Kab. Indramayu, Minggu 16/03/25 sore. 17 March 2025
  • Puluhan Rumah di Desa Bugis, Kab. Indramayu hancur diterjang angin puting beliung, sore 16/03/25 17 March 2025
  • Viral lagu "Bayar Bayar Bayar", Band Punk Sukatani cabut lagu dan minta maaf pada Polri. 21 February 2025
  • Bahlil Buat Gaduh Penjualan Gas Subsidi, Seekor Ular Okupasi Gudang Agen Gas LPG di Kab. Mamuju 4 February 2025
  • Dosen ASN Gaduh karena Disebut Bukan Pegawai 4 February 2025
  • Kondisi Warga Kp. Sidang Hayu, Desa Curugluhur, Kec. Sagaranten, Sukabumi pasca banjir bandang 4/12 9 December 2024
  • Aspirasi Masyarakat terdampak banjir Sukabumi 04/12, 9 December 2024
ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Personalia
  • Kontak Kami
  • Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers

© 2022 - PortalNusa - PT. Pers Kita Bersama

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan

© 2022 - PortalNusa - PT. Pers Kita Bersama

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?