Portalnusa.id – Majelis Seni dan Tradisi Kota Cirebon secara resmi mengajukan usulan kepada Pemerintah Kota untuk memberikan penghargaan kepada dua tokoh bersejarah, yakni Mayor Tan Tjin Kiedan Ayip Muh.
Usulan ini disampaikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi besar kedua tokoh tersebut bagi masyarakat Kota Cirebon dan sekitarnya.
Ketua Majelis Seni dan Tradisi Dedi Kampleng menyatakan bahwa penghargaan yang diminta bukan sekadar gelar pahlawan di atas kertas, melainkan aksi nyata dari pemerintah.
Untuk Mayor Tan Tjin Kie, pihak Majelis mendesak pemerintah untuk segera melakukan revitalisasi makam sang tokoh di lokasi asalnya agar lebih layak dan terawat.
Sementara itu, untuk Ayip Muh, pemerintah diminta menyusun buku biografi yang komprehensif guna mendokumentasikan sejarah dan kiprah beliau.
“Kami memberikan tenggat waktu (deadline) satu tahun kepada pemerintah. Jika sampai Hari Jadi tahun depan (2027) belum ada tindakan nyata, kami masyarakat akan bergerak secara swadaya melalui gotong royong dan iuran untuk memberikan penghargaan tersebut sendiri,” ujarnya usai Rapat Dengar Pendapat dengan DPRD setempat, Senin (2/2/2026)
Mayor Tan Tjin Kie dikenal sebagai tokoh filantropis yang mampu mengharmoniskan berbagai keberagaman suku, etnis, dan agama.
Jasanya mencakup bantuan pembangunan berbagai rumah ibadah, mulai dari Klenteng di Kanoman, Gereja Santa Maria, hingga Masjid Noni.
Selain itu, jejak sejarah Mayor Tan Tjin Kie masih dirasakan manfaatnya hingga kini melalui keberadaan infrastruktur penting, seperti, Rumah Sakit Gunung Jati, Kantor PLN di Jalan Yos Sudarso dan Kantor BBWS
Di sisi lain, Ayip Muh dikenang sebagai sosok kiai kharismatik yang aktif dalam kegiatan sosial, agama, dan budaya, serta menjadi perekat hubungan antarumat beragama di masanya.
Terkait teknis pelaksanaan, Majelis menawarkan dua opsi. Pertama, jika pemerintah kota tidak mampu mengelola, makam Mayor Tan Tjin Kie rencananya akan dipindahkan ke Malang, mengingat Pemerintah Kota Malang juga telah menyatakan ketertarikan untuk menghargai jasa-jasa beliau di sana. Opsi kedua adalah pemugaran secara mandiri oleh masyarakat Cirebon dengan cara “patungan”.
“Jangan sampai karena urusan orang yang sudah tiada, orang yang masih hidup jadi sengsara. Kami mohon pemerintah memanusiakan kembali jasa-jasa mereka dengan memindahkan atau merawat makam di tempat yang lebih layak,” pungkasnya.
Sementara itu Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon Yusuf, menegaskan komitmennya untuk mengawal aspirasi para budayawan terkait penguatan literasi kebudayaan lokal.
Hal ini disampaikan Yusuf merespons gerakan para pegiat budaya yang berupaya membangkitkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap tokoh-tokoh bersejarah di Cirebon, salah satunya sosok Mayor dan kiai.
Yusuf menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para budayawan yang terus konsisten merawat sejarah. Menurutnya, upaya mengembalikan literasi budaya adalah langkah krusial agar generasi muda tidak melupakan jasa para pahlawan dan tokoh daerah.
”Kami berterima kasih kepada budayawan dan pihak lainnya yang telah berupaya mengembalikan ingatan kita kepada orang-orang yang berjasa, seperti sosok Mayor. Ini adalah bagian penting dari identitas kita,” ujar Yusuf.
Lebih lanjut, Yusuf menyatakan bahwa dukungan legislatif tidak hanya berhenti pada apresiasi lisan. Ia menekankan perlunya langkah serius dari pemerintah daerah untuk merumuskan regulasi atau kebijakan yang konkret.
”Bentuk terima kasih kita harus diwujudkan dengan mencari formula yang serius agar bisa menjawab apa yang diinginkan para budayawan. Persoalan ini harus segera dibawa ke Walikota,” tambahnya.
Sebagai tindak lanjut, Komisi III DPRD Kota Cirebon akan mendorong Pemerintah Kota Cirebon agar memberikan perhatian khusus terhadap usulan-usulan pelestarian sejarah ini. Yusuf berharap sinergi antara legislatif, eksekutif, dan budayawan dapat membuahkan hasil nyata dalam waktu dekat.
”Kami di Komisi III mendorong penuh agar pemerintah merealisasikan apa yang disampaikan oleh teman-teman budayawan. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga warisan Cirebon,” tutupnya.


































Discussion about this post