JAWA BARAT — Sebanyak 23 nama relawan literasi dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat diumumkan Perpusnas sebagai Relima 2026 pada Senin (11/5), merupakan bagian dari penguatan gerakan literasi masyarakat di tingkat daerah. Para relawan berasal dari beragam latar belakang profesi dan wilayah, mulai dari Kabupaten Bandung hingga Kota Sukabumi.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia resmi menetapkan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026 melalui Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2026 tentang Penetapan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026 yang ditetapkan pada 11 Mei 2026, diantaranya 23 Relima untuk Lokus Jawa Barat.
Daftar relawan tersebut mencerminkan keterlibatan aktif masyarakat dalam mendukung peningkatan budaya baca, pengembangan komunitas literasi, serta pelaksanaan program edukasi di daerah masing-masing.
Beberapa nama yang tercantum di antaranya Amran Halim, S.S. dari Kabupaten Bandung, Elis Ratna Suminar, S.Pd. dari Kabupaten Bandung, serta Inten Fajar Utami dan Yogi Suardi, S.I.Kom. dari Kabupaten Bandung Barat.
Selain itu, terdapat pula Rossy Nurhayati dan Wida Waridah dari Kabupaten Ciamis, Farhan Taufik Abdurrofi dari Kabupaten Cianjur, Ahmad Khoeri dari Kabupaten Indramayu, hingga Neneng Nurhasanah dari Kabupaten Karawang.
Wilayah lainnya seperti Kabupaten Majalengka, Pangandaran, Purwakarta, dan Sukabumi juga mengirimkan perwakilannya. Di antaranya Muhammad Rizqi Zulkarnaen, Ari Luthfi Darmawan, Mochamad Fazhri Syamsi, Syaripudin, Karina Noviyanti, serta Lukman Ajis Salendra.
Sementara itu, dari wilayah kota tercatat sejumlah nama seperti Aam Siti Aminah dan Lia Gistina dari Kota Bandung, Reni Nurliani dari Kota Banjar, Yuliyanti Basri dari Kota Bogor, Riyan Haryanto dari Kota Cirebon, Dian Pratiwi dari Kota Depok, serta Cucu Suryati dan Yolan Nur Aulia Elsas dari Kota Sukabumi.
Kehadiran relawan dari berbagai daerah tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan memperluas jangkauan program literasi di Jawa Barat. Dengan keterlibatan masyarakat secara aktif, gerakan literasi dinilai mampu menjadi sarana peningkatan kualitas pendidikan dan pemberdayaan komunitas di tingkat lokal.
Program relawan literasi sendiri menjadi salah satu upaya untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat, sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih edukatif dan inklusif.
































Discussion about this post