Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Perkumpulan Inisiatif mengadakan acara diskusi nasional dengan tajuk, “Dampak Disrupsi Global Terhadap Kebijakan Pemerintah: Pendidikan, Kesehatan dan Perlindungan Sosial”. Diskusi berlangsung di hotel Sari Ater Kamboti, Bandung, 24/4.
Diskusi ini diisi oleh tiga orang narasumber, yaitu; Drs. Hamid, M.Si (Direktorat Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN), DR. Wahyu Septiono S.KM, MIH (Akademisi FKM UI), dan Mickael B Hoelman S.E, M.Si (Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional). Selain itu, hadir juga Dr, Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP (Ketua Komisi X DPR RI) sebagai Keynote Speaker, serta Sapei Rusin, ST (Ketua Dewan Pimpinan Perkumpulan Inisiatif) yang memberikan opening speech.
Menurut Hamid, yang dimaksud dengan disrupsi global adalah sebuah era perubahan fundamental dan cepat yang mengguncang tatanan lama (sistem, bisnis, sosial) yang digantikan oleh metode baru, terutama dipicu oleh inovasi teknologi digital. Pendorong utama berupa kemajuan pesat teknologi, inovasi digital, dan perubahan sosial.
“Karakteristik dari disrupsi global ini ada 4, yaitu; Volatility (perubahan cepat), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (rumit), dan Ambiguity (ketidakjelasan),” ungkap Hamid.
Hamid juga menyampaikan bahwa Disrupsi global memiliki dampak positi seperti kemudahan akses informasi dan juga dampak negative berupa tradisi instan dan longgarnya kontrol pemerintah dalam pendidikan nasional.
Wahyu Septiono menyampaikan jika disrupsi global tidak hanya menyasar politik, ekonomi dan teknologi, tetapi berdampak juga terhadap Kesehatan populasi. Wahyu mencontohkan COVID19 sebagai bentuk disrupsi global terhadap Kesehatan populasi nasional. Wahyu menekankan agar system Kesehatan nasional harus adaftif, resilien, dan antisipatif.
Sementara Mickael B Hoelman lebih menyoroti peran penting jaminan sosial dalam meanggulangi dampak negatif dari disrupsi global. Mickael berharap Indonesia mampu terhindar dari permasalahan “sadikin” yang bermakna sakit sedikit langsung miskin dan terhindar dari generasi ‘groaners” atau penggerutu yang bersandar hidup padai gererasi “sandwich” (generasi terjepit).
Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR RI, lebih menyoroti peran NGO lokal dalam mengimbangi dinamika yang terjadi sebagai dampak dari disrupsi global. Ada 5 hal yang harus menjadi perhatian NGO local. Lima hal tersebut berupa literasi dan penguatan jejaring, pemetaan dan pendampingan komunitas, pelayanan pelengkap untuk kelompok rentan, menjadi mitra implementasi program pemerintah yang berbasis data dan evaluasi dampak, serta akuntabilitas sosial (berupa pemantauan layanan publik dan memastikan suara publik tersampaikan).
Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai kalangan NGO dan LSM lokal. Seperti biasa, diskusi diakhiri dengan sesi tanya jawab dari para peserta.
































Discussion about this post