Oleh Doddi Ahmad Fauji
Merensi buku pernah menjadi kegemaran saya, karena mendatangkan beberapa keuntungan. Pertama, dengan membaca buku saja, tanpa diniatkan untuk meresensinya, kita sudah memperoleh pengetahuan dan wawasan. Ketika membaca itu diniatkan untuk merensinya, maka kualitas membaca pun jadi meningkat, sebab dirangsang untuk lebih kritis dan jeli, dan membuat catatan komentar untuk beberapa pokok soal utama yang disajikan dalam buku tersebut.
Bila resensi yang dibuat itu berhasil dimuat oleh koran Bandung Pos, yang menjadi tempat awal saya berlatih meresensi buku dimulai kisaran 1994, maka kebahagiaan tentunya datang berlimpah. Pertama, pemuatan tulisan itu mendapatkan honor. Untuk kelas mahasiswa, honor kala itu rasanya setimpal. Lalu bagian keuangan Bandung Pos, duh saya lupa namanya, memberi tahu saya agar tulisan yang sudah dimuat itu segera diklipingkan, difoto-copy, dan dikirimkan ke penerbit. “Nanti akan dikasih honor oleh penerbit,” kata bagian keuangan itu.
Tentu saja saya mengikuti saran tersebut.
Dengan membawa kliping resensi tadi, saya datangi penerbit Remaja Rosda Karya yang berada di Jl. Ciateul, sekarang berganti nama jadi Jl. Inggit Garnasih. Saya diterima oleh staf karyawan, mungkin semacam humas. Kala itu saya bukan kategori orang yang kepo, sehingga tidak tahu nama sang staf itu. Singkat cerita, saya perlihatkan kliping koran resensi buku terbitan Rosda Karya yang sudah dimuat di Bandung Pos. Staf itu senang, dan benar, ia meminta saya menandatangani kuitansi.
Sebelum pulang, staf itu menahan saya. Ia ngeluyur ke ruangan lain, dan balik lagi dengan membawa buku-buku baru. Saya ingat, ada lima judul buku.
“Nah ini buku baru. Silakan resensi, nanti kalau dimuat, bawa klipingnya ke sini!”
Waktu saya menjadi wartawan di Media Indonesia, saya juga kebagian kerja meresensi buku, kaset, termasuk film. Saya pernah punya dokumentasi buku, kaset, VCD yang berkardus-kardus. Lalu lenyap ditelan banjir Jakarta tahun 2002.
Sekarang ini, saya makin sadar, betapa buruknya pemeliharaan arsip dan dokumentasi yang pernah saya kerjakan. Setumpuk kliping yang pernah saya fotokopi, dan dilampirkan saat melamar jadi jurnalis ke Koran Media Indonesia pada Oktober 1998, ternyata sudah tidak ada. Dulu saya ingat, beberapa kliping tulsian saya pernah disimpan oleh Lukman Azis Sailendra.
Luka-liku jalan hidup saya, yang banting setir ke sana ke mari, saya pernah menjadi pedagang nasi kuning di Bekasi, dan isi ulang gallon minuman di Depok, membuat saya menjadi nomaden sejati di dalam kota. Saya pernah pindah tempat tinggal (kos, kontrak, rumah sendiri). Sedari kecil hingga sekarang, ternyata sudah berpindah kisaran antara 15 – 20 kali. Ini bukan prestasi, meskipun angkanya cukup besar. Sekarang pun, di tempat saya menulis, Sanggar SituSeni, nada kepindahan tempat itu sudah nyata dan mendekati pasti. Sebab rumah ini sudah dibeli oleh DKM Masjid untuk perluasan sarana ibadat dan belajar. Tapi dananya belum lunas.
Saya pernah membayangkan memerinci suasana dan kejadian di tiap tempat yang beda-beda itu, tapi mungkin nanti, ketika mood yang lain dan kesempatannya ada.
Perpindahan demi perpindahan tempat berteduh itulah yang membuat dokumentasi hilang, termasuk catatan manuskrip yang ingin saya baca Kembali, untuk diedit dan direvisi. Saya pernah menulis surat cinta dalam buku ‘diary’, ya semacam ingin mengikuti jejak Kahlil Gibran, yang menulis surat-surat cinta untuk May Ziadah, tulisannya mungkin disalin ulang, atau May mengumpulkannya, sehingga kumpulkan tulisan itu bisa dibukukan.
Gibran tak pernah bertemu dengan dengan May hingga akhir hayatnya. Itulah cinta platonik yang garang. Kalau yang saya tulis, tak pernah dikirimkan ke orangnya, tapi saya datangi orangnya, atau dia yang mendatangi saya, dan ]membaca langsung tulisan tangan di buku diary. Sial sungguh, buku yang isinya pasti mendayu-dayu lagi kenes itu, lenyap entah ke mana.
Di saat koran berguguran anumerta, saya merindukan media massa cetak seperti Bandung Pos. Itu adalah kerinduan platonik. Dunia sudah berubah begitu banyak dan deras, termasuk perubahan lahan atau medium untuk pemuatan tulisan. Internet menawarkan daya jelajah yang lebih luas, serta kesempatan yang lebih lapang. Inilah waktunya, siapapun diharapkan dapat mewartakan kebaikan, guna mengimbangi makin maraknya kabar kabur yang membabi buta, yang terasa lebih unfaedah bagi pembaca. *



































Discussion about this post