Agustus 2, 2022 AhmadFauji 0 Komentar IKM, Kurikulum Merdeka Belajar, KurmedSunting
Galeri Pendapat 02
Berikut adalah pendapat Gorby Saputra, pendidik di SMK Al-Muhadjirin, Kab. Bekasi, Jawa Barat, dalam menjawab pertanyaan yang diajukan Doddi Ahmad Fauji, Wartawan Senior PortalNusa dalam menjalankan IKM (implementasi Kurikulum Merdeka), yang dilakukan oleh para pelaksana terdepan: Pendidik, Kepala Sekolah, Pengawas, dan pemangku kebijakan dalam bidang pendidikan.

Bagaimana Anda memaknai Kurikulum Merdeka?
Saya memaknainya adanya kurikulum merdeka belajar serta P5 Projects Profil penguatan pelajar Pancasila.
Apa kelebihan dan atau kekurangan dari Kurikulum Merdeka, bila dibandingkan Kurtilas (Kurikulum 2013)?
Sepertinya Mas Nadiem, di akhir akhir masa jabatannya ingin meninggalkan bekas dalam hal capaian kurikulum, namun jika melihat kondisi pasca Pandemi Covid-19.
Memang dunia pendidikan akan mengarah lebih berkurangnya metode Pedagogik. Walaupun dengan beban serta risiko yg besar dalam menerapkan kurikulum merdeka belajar.
Kendala apa yang segera terasa dan tampak di lapangan saat menjalankan Kurmed?
Akselerasi, habit/kebiasaan, yang tak mudah untuk diaktualisasikan di masing-masing daerah.
Apakah perlu diadakan pelatihan atau bimtek besar-besaran seperti Kurtilas, para guru dighiring ke hotel, tapi belum juga terpahami benar Kurtilas, itu kurikulum menemukan jalan buntu.
Untuk mengejar ketertinggalan mutu pendidikan bukan hal sederhana. Berandai-andai peserta didik/siswa/i bebas, merdeka : Berkreasi, Kritis, Budaya kerjanya, jiwa demokratisnya.
Wah seakan ideal sekali jika itu Goal diterapkan di akhir masa jabatan mas Nadiem, karena kita tahu ganti Mendikbud ganti lagi kurikulum. Nasib pendidikan selalu di ujung tanduk oleh selembar ijazah
Stempel berpendidikan manusia di Indonesia di tentukan jenjang pendidikan yang diraih bukan letaknya pada: Penguasaan, Mengerti, Memahami, Atas apa yg sudah di pelajari selain masuk di dalam lembaga formal.

Tujuan Kurikulum Merdeka, bila melihat dari juklak (tanya jawab), bertumpu pada kemerdekaan siswa dalam mengembangkan kreasi untuk belajar. Bagaimana pendidik memaknainya supaya tujuan tersebut tercapai?
Sebagai guru, tentu akan bingung dalam pembentukan siswa/i nya. Tak ada jaminan yang katakanlah setelah mengenyam pendidikan dari SD sampai SMK (bagi yang mampu mentok), bisa mengkolerasikan ilmu pengetahuan di dunia kerja/kehidupan.
Semoga dengan kurikulum merdeka belajar, ilmu pengetahuan ada nyambungnya dengan keadaan di sekitar yang semestinya berdampak baik terhadap siswa/i di Indonesia, dan semoga bukan hanya proyek untuk menghabiskan anggaran di kementerian pendidikan dan kebudayaan.




































Discussion about this post