Buah Nalar Tumbuh dari Akar Kontradiktif (Bagian 4)
Oleh Doddi Ahmad Fauji
SIFAT Tuhan yang utama dan pertama ialah pengasih (maha rahman), yang ditiupkan dalam lubuk nurani mahluk. Rasa kasih yang bervibrasi di dalam batin, akan memancarkan sikap ‘menyayangi’. Begitulah saya memaknai kalimat ‘bismillahi-arrahman-arrahim’. Berangkat dari pemikiran di atas, konsep puisi kontradiktif dirumuskan sebagai upaya untuk memendarkan rasa kasih, yang dapat menjadi pembeda dari laku yang tidak dilandasi oleh rasa kasih.
Kalimat ‘bismillahi-rahmanir-rahim’ yang diperintahkan untuk dibacakan kaum muslimin sebelum bertindak, bukanlah semata doa, juga bukan mantra atau jampi, melainkan suatu peringatan dini agar tindakan yang akan dilakukan manusia, senantiasa dilandasi oleh rasa ‘kasih’, hingga melahirkan perbuatan yang memancar nilai ilahiah atau ke-Allah-an. Seribu kali membaca bismillah sebelum bertindak, bila yang dikerjakan ternyata tidak mencerminkan rasa kasih, misalnya malah mengumbar amarah, maka dia sebenarnya tidak ber-bismillah, alias tengah melupakan Allah dalam diri dan batinnya.
Kalimat bismillah dibacakan, agar tiap kerja yang ditunaikan, bermuara pada kebaikan-kebaikan, yang diawali oleh sifat utama dan pertama Allah, yaitu pengasih. Selanjutnya, rasa kasih akan menjadi pupuk bagi tumbuh-kembangnya benih-benih harapan, dan berkat harapan akan lahir semangat.
Kehilangan harapan sangat berbahaya. Sekaya apapun orang, punya kuasa, cerdas, namun jatuh sakit, akan dibawa ke rumah sakit. Bila ia kehilangan harapan, sekalipun ditangani oleh dokter terbaik, di rumah sakit terbaik, akhir yang nyata dari upaya itu ialah ‘mati’.
Kehilangan harapan membuat manusia bisa kehilangan pula semangatnya. Apapun yang dikerjakan, hasilnya kurang maksimal atau malah buruk, bila tidak dilandasi oleh semangat. Karena itu, harapan dan semangat harus selalu dipupuk dengan mengamalkan ‘bismillah’ dalam batin, ucapan, dan perbuatan.
Itulah keyakinan saya, yang muncul dari naluri dan intuisi sebagai mahluk yang wajib bertafakur (berpikir waras). *
Perkara ‘Ada’ dan ‘Tidak Ada’
BERPIKIR dan memikirkan zat Tuhan yang pertama dan utama ialah ‘wujud’ atau ‘ada’. Karena keberadaan ‘Sang Ada’ ini memiliki kuasa dalam mencipta (kholik), maka yang semula ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’. Zat dan sifat yang semula ‘tidak ada’ kemudian menjadi ‘ada’ itulah yang dimiliki oleh makhluk, tak terkecuali manusia. Melalui perkara ‘ada’ dan ‘tidak ada’ ini, dapat diajukan pernyataan radikal bahwa lawan atau kebalikan Allah adalah ‘tidak atau bukan Allah’. Yang tidak atau bukan Allah itulah yang disebut makhluk.
Perkara ‘ada’ dan ‘tidak ada’ ini dapat mendasari teknik tata dan cara bernalar, atau berlogika. Dan, Berangkat dari ‘nalar’ tersebut, dapat dikembangkan cara bernalar untuk merumuskan ilmu filsafat sendiri, yang berbeda dari titik berangkat filsafat barat dan timur.
Lawan atau kebalikan dari ‘ada’ ialah ‘tidak ada’. Tetapi ketika diajukan pertanyaan lawan dari ‘warna putih’ adalah warna apa?
Banyak orang yang spontan menjawab warna hitam. Jawaban spontan itu lahir dari konstruksi sosial yang terdoktrin oleh dogma, yang kerap menilai soal secara ‘hitam’ lawan ‘putih’, semisal ada ilmu hitam lawan ilmu putih. Bahkan dulu, ada papan tulis berwarna hitam, dan kapur tulis putih. Televisi dan foto jaman dulu juga berwarna hitam dan putih. Seakan hitam telah otomatis menjadi lawan atau kebalikan dari warna putih. Persoalan dogma ini, harus dipertanyakan dan dibongkar ulang, guna melahirkan kewarasan dalam bernalar.
Lawan atau kebalikan putih adalah ‘tidak putih’, sebagaimana lawan atau kebalikan ‘ada’ adalah ‘tidak ada’. Apa yang tidak putih? Ya bisa hitam, hijau, kuning, merah, dan semua warna yang tidak putih adalah bisa menjadi lawan atau kebalikan dari putih.
Ada di dalam hidup ini perkara yang tiada lagi pilihan, kecuali ‘itu’. Misalnya pertanyaan lawan ‘ada’ adalah ‘tidak ada’, jika diajukan pertanyaan berikutnya, apa yang ‘tidak ada’? tiada pilihan kecuali ‘ada’. Tapi ada pilihan beragam ketika ditanya lawan dari putih ialah tidak putih, dan apa yang tidak putih adalah seluruh warna selain putih.
Nalar Terikat
LAWAN warna putih adalah tidak putih. Namun dalam kaitan bendera Republik Indonesia, lawan warna putih adalah ‘tidak putih’, lalu apa yang tidak putih dalam bendera Indonesia, hanya ada warna merah. Maka dalam nalar terikat, jawaban bisa diberikan langsung merujuk pada ‘itu’ yang memang tiada lagi pilihan, yang dalam kaitan bendera Indonesia, hanya ada warna merah dan putih.
Melalui paparan di atas, tentang ‘ada’ dan ‘tidak ada’ serta ‘putih’ dan ‘tidak putih’ dapat ditarik kesimpulan, bahwa dalam kerja bernalar itu terdapat nilai ‘kontradiktif’ atau bertentangan makna kata. Guna mengembangkan cara bernalar hingga ke hakikat kata yang medasar atau radikal itulah penulisan puisi dengan tema atau topik yang kontradiktif, terasa perlu untuk diuji-cobakan terus-menerus.
Hakikat Berpuisi dan Kepenyairan
BAGI saya, berpuisi setara dengan berfilsafat, maka dengan demikian, hakikat kepenyairan ialah melakoni hidup sebagai filsuf. Menulis puisi dengan tema apapun, memiliki tujuan untuk merenungkan nilai-nilai yang bisa ditempatkan sebagai jalan untuk mencari dan menyuarakan kebenaran, sekalipun kebenaran di tangan manusia bersifat pilihan (lternatif). Kebenaran dari hasil olah pikir manusia adalah keberan alternatif, sedangkan kebenaran mutlak hanya milik Allah.
Upaya mencari dan menyuarakan keberan selaras dengan arti harfiah dari filsafat, yaitu mengkaji kebenaran masalah mendasar dan umum tentang pelbagai persoalan yang menyangkut keberadaan diri, nilai, akal, pikiran, etika, bahasa, pengetahuan, dan lain-lain.
Metodologi atau tatacara untuk mencapai pikiran yang benar, bernas, waras itu, dalam ilmu filsafat barat, digunakanlah cara berpikir logis atau waras. Terkadang logis (logika) dijadikan sebagai metode untuk berfilsafat, namun di sekempatan yang lain, logis atau waras itu, logika atau nalar itu, ditempatkan sebagai bagian atau hanya cabang dari ilmu filsafat.
Jika menyebut Filsafat Barat, akan menyebut bangsa Yunani, terutama setelah lahir pertanyaan, pernyataan, pendapat, dan karya trio filsuf akal budi: Sokrates, Plato, Artistoteles.
Sebelum ketiga tokoh filsafat akal budi itu, telah muncul para filsuf termasyhur, yang merenungi hakikat alam dan penciptaannya, yang karena itulah, mereka disebut sebagai filsuf helenisme (filsafat alam). Bahasan tentang alam ini berkisar pada unsur utama (arkhe) yang telah menyusun alam semesta ini. Filsfuf Thales berpendapat ‘air’ menjadi unsur utama, Anaximandros mengatakan sesuatu yang nonfisik dan tak terbatas, lalu Anaximenes mengatakan unsur udara.
Nah, setelah filsafat helenisme, lahirlah filsuf yang membahas ilmu pasti dan matematika, yaitu Phytagoras, Heraklitus, Parmenides, Anaximendes, dll. Teori Phytagoras (570–495 SM) yang disebut teorama, dianggap paling bernas dalam matematika, hingga namanya diabadikan menjadi salah satu cabang dalam ilmu matematika, selain cabang aljabar, aritmetika, kalkulus, geometri, dll.
Sebelum lahir tatacara berpikir (filsafat) itu, jawaban untuk pertanyaan tentang unsur yang membentuk alam ini, orang Yunani selalu berpaling pada dongeng atau mitos, yang di Indonesia, hingga kini masih banyak masyarakat yang mengedepankan dongeng, mitos, babad, legenda, dll. Indonesia mesti mencari tatacara berpikir sendiri, untuk melahirkan filsafat sendiri. Perlukah?
Dalam persebaran ilmu filsafat, dikenal dua aliran, yaitu Barat dan Timur. Filsafat Barat diawali dan diwakili oleh bangsa Yunani, sedangkan Filsafat Timur yang sering dijadikan rujukan adalah bangsa China, India, dan Jazirah Arabia. Indonesia merski berada di Timur, tidak disebut atau dicatat sebagai bangsa yang punya sejarah filsafat dan masuk ke dalam golongan filsafat timur. Indonesia tidak masuk ke dalam barisan Barat pun Timur. Artinya, Indonesia harus merumuskan sendiri, dan itu dapat dimulai dari pertanyaan apa lawan dari ‘ada’?
Bandung, November 2021
Doddi Ahmad Fauji




































Discussion about this post