Portalnusa.id — Sektor Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) mulai menunjukkan sinyal positif dan perbaikan efisiensi operasional pada triwulan II. Hal ini terungkap dalam acara Media Update Triwulan II yang diselenggarakan Kantor OJK Cirebon di Kuningan, Rabu (23/9).
Meski tantangan konsolidasi industri sempat menekan pertumbuhan secara tahunan, indikator kinerja bulanan (month-on-month) mencatat tren perbaikan kualitas dan efisiensi lembaga keuangan mikro tersebut.
Kepala Bagian Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) OJK Cirebon, Otto Marganda Sinaga, mendampingi Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib, membeberkan indikator membaiknya rasio keuangan BPR.
“Kalau kita melihat data secara bulanan (month-on-month), rasio ROA dan BOPO menunjukkan perbaikan. Antara bulan Juni dibandingkan Mei sebelumnya, ROA mengalami peningkatan 0,03%, sementara BOPO justru turun menjadi 85,80%. Bagi pengawas, ini merupakan indikasi yang cukup baik dalam konteks kinerja keuangan,” jelas Otto.
Selain efisiensi yang membaik, tingkat risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) juga berhasil ditekan.
“NPL turun dibandingkan tahun lalu sebesar 2,12%. Sementara itu, permodalan atau CAR masih sangat kuat dan terjaga di angka 22,55%. Secara umum kami melihat kinerja keuangan perbankan BPR di wilayah Ciayumajakuning masih terjaga dengan baik,” tambah Otto.
Pilar Penting Perekonomian Jawa Barat
Meskipun secara tahunan (year-on-year) agregat kredit, DPK, dan aset sempat tertekan akibat adanya penataan industri—seperti pencabutan izin usaha satu BPR dan pengalihan portofolio pengawasan BPR lain—peran BPR Ciayumajakuning tetap sangat vital di tingkat provinsi.
BPR di Ciayumajakuning menyumbang 18,85% dari total aset BPR se-Jawa Barat dan menyalurkan 18,49% dari total kredit BPR di tingkat provinsi. Penyaluran kredit BPR di wilayah ini fokus menopang sektor-sektor produktif dan riil.
“Penyaluran kredit BPR di Ciayumajakuning didominasi oleh dua sektor besar, yaitu sektor bukan lapangan usaha lainnya sebesar 42,78% dan sektor perdagangan besar maupun eceran. Berdasarkan tujuan penggunaannya, kredit lebih banyak tersalurkan untuk kebutuhan konsumsi dan modal kerja,” tutur Otto.
Guna menjaga stabilitas industri keuangan secara menyeluruh, OJK Cirebon terus mengintensifkan pengawasan. Selain terhadap BPR, pengawasan juga mencakup 1 manajer investasi, 3 perusahaan sekuritas, 8 agen penjual reksadana, dan 22 perusahaan efek di wilayah Cirebon dan sekitarnya.
































Discussion about this post