PortalNusa.ID. Perkumpulan INISIATIF bersama SUSTAIN menyelenggarakan acara diskusi publik bertajuk “Membaca Arah Kebijakan Ekonomi Pemerintahan Prabowo dan Dampaknya” yang dilaksanakan di hotel Horison Bandung, 14 April 2026.
Acara ini menjadi sebuah forum publik dalam menyoroti kesenjangan yang tajam antara narasi “ekonomi campuran” yang berkeadilan dihadapkan dengan realitas data lapangan yang menunjukan pelemahan kesejahteraan masyarakat dan terjadinya kemerosotan demokrasi.
Ketua Perkumpulan INISIATIF Sapei Rusin dalam pembukaan acara menyatakan, “Forum ini bukan sekadar diskusi, tetapi bagian dari ikhtiar politik, moral dan intelektual untuk mengembalikan arah pembangunan ke rel ideologisnya: mewujudkan kedaulatan ekonomi, keadilan sosial dan kemakmuran yang merata.”
Perkumpulan INISIATIF dan SUSTAIN mendorong pemerintah untuk melakukan beberapa langkah koreksi:
1. Mendorong Desentralisasi Ekonomi: Memberikan ruang lebih besar bagi partisipasi publik dan swasta, bukan sekadar membangun kelompok elit bisnis baru.
2. Transparansi & Partisipasi: Membuka masukan secara luas dari masyarakat dan ahli pengetahuan mengenai kebijakan strategis nasional.
3. Hilirisasi yang Berorientasi Rakyat: Memperkuat sektor padat karya seperti ekowisata dan industri hijau (panel surya, baterai EV) daripada proyek ekstraktif yang hanya memberikan laba berlebih (super normal profit) bagi segelintir korporasi.
4. Akselerasi Energi Terbarukan: Memberikan insentif nyata bagi solar rooftop dan menerapkan skema power wheeling untuk mendorong partisipasi swasta dan publik.
5. Diversifikasi Pendapatan Negara: Meningkatkan pungutan sektor ekstraktif yang memiliki super normal profit, seperti batu bara.
Secara umum, para narasumber dalam diskusi ini memiliki pandangan yang sama, bahwa pemerintahan saat ini menghadapi tantangan besar dalam menyelaraskan visi politik dengan eksekusi kebijakan yang tepat dan efektif.
Adapun narasumber dalam acara ini adalah Tata Mustasya (Direktur Eksekutif Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia/SUSTAIN) dan dua ekonom senior, yakni Diding Sakri serta Alamsyah Saragih.
Hadir juga tiga penanggap yang memberi warna berbeda dalam diskusi ini. Mereka adalah Ekki Syamsulhakin (Dosen Ilmu Ekonomi UNPAD), Irwan Natsir (Pimpinan Redaksi Pikiran Rakyat), dan Pihri Buhaerah (Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN) yang hadir secara daring.

































Discussion about this post