Portalnusa.id – Pemerintah Desa (Pemdes) Penpen, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejahtera Mandiri, meluncurkan program ketahanan pangan berbasis peternakan. Fokus utamanya adalah budidaya ayam petelur yang diproyeksikan menjadi motor penggerak baru bagi Pendapatan Asli Desa (PADes).
Bertempat di Blok Oro-oro, RT 01/RW 03, kandang ayam petelur ini berdiri kokoh di atas lahan desa yang dioptimalkan penggunaannya. Program ini merupakan realisasi dari alokasi 20 persen anggaran ketahanan pangan tahun 2025 yang diarahkan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kuwu Penpen, Mustofa, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 750 ekor ayam yang sedang dalam masa pemeliharaan. Ayam-ayam tersebut didatangkan saat berusia 16 minggu dan kini telah memasuki usia 19 minggu.
“Insya Allah, menurut estimasi teknis, pada usia 20 hingga 21 minggu ayam-ayam ini sudah mulai produktif bertelur. Saat ini kami terus melakukan perawatan intensif agar target tersebut tercapai,” ujar Mustofa saat meninjau lokasi kandang.
Meski belum bisa merinci total omzet karena belum memasuki masa panen perdana, Mustofa optimistis tingkat produktivitas bisa mencapai angka 75 persen dari total populasi ayam yang ada. Ia juga telah menyiapkan strategi jangka panjang ketika masa produktif ayam berakhir (afkir) yang biasanya terjadi setelah 18 bulan.
“Jika sudah tidak produktif lagi, ayam-ayam ini akan kami jual sebagai ayam potong, terutama membidik momentum hari besar seperti Lebaran agar nilai jualnya tinggi,” tambahnya.
Mustofa menuturkan, dalam manajemen pakan operasionalnya, dari 750 ekor ayam ini membutuhkan pakan sekitar 75 kilogram per hari. Dengan harga pakan saat ini di kisaran Rp375.000 per karung (50 kg), Pemdes Penpen terus melakukan efisiensi agar biaya operasional tetap terkendali namun kualitas telur tetap terjaga.
Terkait dampak lingkungan, Mustofa tidak menampik adanya keluhan warga mengenai aroma tidak sedap dari kotoran ayam di awal berjalannya program. Namun, pihak desa bergerak cepat dengan menerapkan sistem sanitasi menggunakan metode pelapisan tanah di bawah kandang.
“Alhamdulillah, setelah kami evaluasi dan menerapkan teknik pengolahan alas kandang dengan tanah, aroma menyengat sudah bisa teratasi. Kami berkomitmen agar usaha desa ini berjalan beriringan dengan kenyamanan warga,” jelasnya.
Menariknya, di lokasi yang sama juga terlihat budidaya burung puyuh. Namun, Mustofa menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan inisiatif pribadi sebagai proyek percontohan (pilot project).
“Untuk burung puyuh itu sebenarnya uji coba pribadi saya. Saya ingin melihat perkembangannya terlebih dahulu di sini. Jika hasilnya bagus dan pasarnya menjanjikan, tidak menutup kemungkinan akan kami masukkan ke dalam program ketahanan pangan desa selanjutnya secara resmi,” pungkasnya.
Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G: Bawa “Awesome Intelligence” ke Segmen Menengah
Portalnusa.id – Samsung Electronics Co., Ltd. secara resmi memperkenalkan lini terbaru dari keluarga Galaxy A series, yakni Galaxy A57 5G...




































Discussion about this post