Portalnusa.id – Di aliran Sungai Singaraja Desa Pengarengan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, puluhan perahu nelayan menjadi saksi bisu sebuah tradisi agung. Larung Saji. Lebih dari sekadar ritual, ini adalah denyut jantung kehidupan nelayan, sebuah persembahan syukur yang diukir dalam gelombang dan doa.
Prosesi larung saji menjadi puncak dari rangkaian kegiatan sakral dalam tradisi Nadran di Desa Pengarengan. Ritual ini bukan sekadar perayaan, melainkan juga ungkapan syukur dan harapan akan berkah dari laut yang menjadi sumber kehidupan para nelayan.
Kuwu Pengarengan, Carsadi, menjelaskan bahwa kegiatan Nadran tahun ini dimulai pada Sabtu, 8 November 2025, dengan acara arak-arakan karnaval yang meriah. Salah satu yang menjadi pusat perhatian dalam karnaval tersebut adalah replika perahu yang nantinya akan dilarung ke laut. Iringan berbagai kreasi seni dan hiburan semakin menambah semarak suasana karnaval, menarik perhatian ratusan warga sekitarnya.
“Nadran adalah tradisi yang sangat penting bagi kami. Ini adalah cara kami berterima kasih kepada Tuhan atas segala limpahan rezeki yang telah diberikan,” ujar Carsadi, Minggu (9/11/2025).
Carsadi menambahkan, Nadran merupakan identitas masyarakat nelayan begitu pun halnya nelayan Pengarengan. Menurutnya, Nadran bukan hanya sekadar seremonial, tetapi juga memiliki nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
“Nadran ini sudah menjadi bagian dari hidup kami. Dari kecil, kami sudah diajarkan tentang pentingnya menjaga tradisi ini,” katanya.
Dijelaskannya, prosesi larung saji sendiri dilaksanakan pada Minggu pagi, 9 November 2025. Replika perahu yang telah diarak dalam karnaval dibawa ke laut, diiringi oleh para nelayan dan tokoh masyarakat. Di atas perahu tersebut, diletakkan berbagai macam sesaji, seperti hasil bumi, makanan tradisional, dan berbagai persembahan lainnya.
Setelah dilakukan doa bersama, perahu tersebut kemudian dilarung ke laut lepas. Para nelayan berharap, dengan melarung sesaji ini, mereka akan mendapatkan berkah dan hasil tangkapan yang melimpah di tahun mendatang.
“Kami berharap, dengan Nadran ini, laut akan terus memberikan rezeki kepada kami. Kami juga berharap agar kami selalu diberikan keselamatan saat melaut,” tutur Carsadi.
Selain sebagai ungkapan syukur dan harapan, Nadran juga menjadi ajang silaturahmi antar nelayan dan masyarakat Pengarengan. Momen ini dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan.
“Nadran ini adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-teman. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman, serta memperkuat hubungan antar sesama,” pungkas Carsadi.
Tradisi Nadran di Pengarengan bukan hanya sekadar pesta rakyat, melainkan janji suci. Janji untuk menjaga laut, menghormati alam, dan terus memelihara harapan. Karena di setiap ombak, di setiap doa, ada berkah yang menanti untuk diraih.
Dan ini juga merupakan bagian penting dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat nelayan. Melalui Nadran, mereka menjaga hubungan harmonis dengan alam, mempererat tali persaudaraan, dan memohon berkah untuk kehidupan yang lebih baik.
Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G: Bawa “Awesome Intelligence” ke Segmen Menengah
Portalnusa.id – Samsung Electronics Co., Ltd. secara resmi memperkenalkan lini terbaru dari keluarga Galaxy A series, yakni Galaxy A57 5G...




































Discussion about this post