Portalnusa.id – Perum Bulog Cabang Cirebon memastikan stok beras di wilayah Cirebon, Indramayu, dan sekitarnya aman dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama libur Natal–Tahun Baru (Nataru) hingga Lebaran Idul Fitri 2026.
Meskipun demikian, kenaikan harga beberapa komoditas pangan lain seperti ayam, telur, dan cabai rawit menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah kota menjelang akhir tahun.
Stok Beras Jauh di Atas Konsumsi Regional
Kepala Perum Bulog Kancab Cirebon, Imam Mahdi, mengatakan, jumlah stok beras yang tercatat di gudang Bulog Cirebon mencapai 153.220,00 ton, angka yang jauh melampaui tingkat konsumsi regional sehingga dinilai cukup untuk menutup permintaan hingga pertengahan tahun depan.
Untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga, Bulog bersama instansi terkait telah melakukan sidak pasar sejak awal pekan ini, menyisir berbagai pasar tradisional seperti Pasar Kanoman, Pasar Jagasatru, Pasar Perumnas, dan Pasar Kalitanjung di Kota Cirebon serta jejaring pedagang di Kabupaten Cirebon.
Tujuan utama sidak tersebut adalah mengantisipasi kelangkaan stok dan memantau harga beras di pasar agar tetap dalam batas wajar.
“Kami memastikan stok beras di Bulog Cirebon dalam kondisi cukup dan tersebar merata di gudang-gudang penyimpanan. Selama periode Nataru hingga Lebaran 2026, pasokan ini aman dan siap disalurkan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan,” ujar Imam Mahdi.
Sidak pasar kali ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan menjaga stabilitas pasokan dan harga beras, sejalan dengan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dijalankan Bulog di berbagai daerah.
Menurut data harga komoditas rata-rata di Kota Cirebon pada 25 Desember 2025, beras medium dijual sekitar Rp13.667 – Rp14.000 per kilogram, sementara beras premium berada di kisaran Rp15.300 – Rp15.667 per kilogram. Harga ini menunjukkan fluktuasi namun relatif stabil dalam beberapa pekan terakhir dibandingkan periode sebelumnya.
Merespons sidak yang dilakukan Bulog, sejumlah pedagang beras tradisional menyatakan bahwa pasokan beras dari Bulog dan pasokan lokal dari panen petani cukup membantu menjaga ketersediaan barang di toko mereka, meskipun harga di tingkat konsumen masih bergerak di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Naiknya Harga Ayam, Telur dan Cabai Jadi Keluhan Masyarakat
Sebelum sidak yang dilakukan Bulog, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Cirebon telah melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) terpadu di sejumlah pasar tradisional pada Kamis (18/12).
Kegiatan tersebut dilakukan bersama Bank Indonesia (BI), Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPPP), serta Perusahaan Daerah Pasar Berintan, dengan tujuan memantau harga, stok, pasokan, serta keamanan pangan yang beredar di masyarakat.
“Hari ini kami melakukan pemantauan di tiga pasar, yakni Pasar Jagasatru, Pasar Kanoman, dan Pasar Pagi. Selain memantau harga dan pasokan, kami juga melakukan pengujian keamanan pangan,” ujar Elmi Masruroh, Kepala DKPPP Kota Cirebon.
Di tengah kegiatan sidak, seorang warga bernama Darman menyampaikan keluhan terkait kenaikan harga bahan pangan.
“Ayam Rp37 ribu, telur Rp31 ribu per kilo. Sejak ada Program Makanan Beras dan Gabah (MBG) harga-harga melonjak naik, jadi memberatkan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Plt Direktur Utama Pasar Berintan, Winda Meliyana mengakui adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas. Ia menyebut cabai rawit super mengalami kenaikan dari Rp60.000 menjadi Rp65.000 per kilogram, sedangkan wortel justru mengalami penurunan dari Rp20.000 menjadi Rp18.000 per kilogram.
“Yang masih tinggi itu daging ayam dan telur. Daging ayam sekarang di kisaran Rp38.000 per kilogram, sebelumnya Rp36.000-an. Telur saat ini sekitar Rp30.500, biasanya Rp27.000 sampai Rp28.000,” jelasnya.
Menurut Winda, kenaikan harga disebabkan oleh keterbatasan pasokan dari pemasok, sementara permintaan tetap tinggi. Ia juga mengakui permintaan dari program MBG turut memengaruhi lonjakan harga.
“Permintaan dari MBG sangat besar, sementara pasokan terbatas, sehingga harga ikut naik. Namun secara umum masih dalam kategori aman,” katanya.
Pemerintah Rutin Monitoring Harian dan Antisipasi Operasi Pasar Murah
Kepala DKUKMPP Kota Cirebon, Iing Daiman menyampaikan pemerintah terus melakukan pengendalian harga melalui TPID Kota Cirebon.
“Kami melakukan monitoring harga setiap hari melalui sistem E-TUKU (Telusuri Harga Komoditas Kotaku). Jika terjadi eskalasi harga yang cukup lama, TPID bersama BI akan melakukan intervensi, salah satunya melalui operasi pasar,” jelas Iing.
Ia menilai kenaikan harga saat ini masih dalam batas wajar, terutama menjelang hari besar keagamaan dan akhir tahun. Selain itu, tingginya permintaan, termasuk dari MBG, turut memengaruhi dinamika harga. “Kami mengimbau masyarakat agar tidak panik. Kenaikan harga selama masih dalam batas toleransi adalah bagian dari dinamika pasar,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkot Cirebon juga mengoptimalkan kerja sama antar daerah (KAD), khususnya di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan), untuk memastikan pasokan komoditas seperti telur, cabai, dan daging ayam tetap terjaga.
“Kami berharap harga tetap terjangkau oleh masyarakat. Tugas kami adalah mengontrol agar kenaikan tidak berlangsung lama dan tidak memicu inflasi. Jika diperlukan, operasi pasar murah akan kami lakukan,” pungkasnya.


































Discussion about this post