Karya: Uten Sutendy
Aku sudah pulang dan pernah mengajakmu ikut. Tapi engkau terus saja berjalan cepat menuju kota- kota impian.
Aku juga pernah berkata padamu, ayolah kita duduk di surau seperti dulu. Makan nasi liwet di atas daun pisang sambil bercerita tentang isteri dan anak-anak kita.
Tapi engkau malah bergegas pergi meninggalkan ku sendiri dan berkata: “aku tak akan pulang sebelum puncak -puncak kekuasaan itu kulewati.”
Aku juga pernah mengajakmu, cobalah bermain ke tempat dulu dimana kita bisa tertawa lepas sambil bermain air di sungai, berlarian di pematang, menaiki bukit dan gunung.
Tapi engkau selalu bilang: “Itu bukan tempatku. Sekarang aku sudah berada diantara para penguasa dengan cerutu dan wine beserta para bidadari malam yang selalu tersenyum renyah di ruang remang-remang.”
Dan kau juga bilang, sebentar lagi engkau akan duduk di atas kursi singgasana bersama para cukong-cukong.
“Kami akan atur negeri ini..!” Begitu kamu bilang.
Aku hanya tertunduk sedih sambil berdoa bersama butiran-butiran air mata yang jatuh pada sajadah lusuhku.
“Ya Allah, aku titip padaMu. Jangan sampai para sahabat dan saudara -saudaraku tak melupakan arah jalan menuju pulang.
Get the feeling
Mr. Ten




































Discussion about this post