Kepada Anjing Jarian yang Suka Nongkrong Tepi Pantai Ketika Buncahan Ombak Seperti Bawa Pesan Kijne
Di Wasior, selepas banjir menerjang hingga ratusan orang hilang. Kampung Rado kini dihuni rumah-rumah hantu diratapi rerumputan jangkung. Buah pinang masih bernafas di pohonnya. Rumpun pohon sagu terseret air sejauh 3 km dan menjadi gundukan tanggul hitam di batas pertemuan rasa asin dan rasa tawar.
Bocah bertelanjang dada memanggul seekor babi. Seekor babi mati digilas ketaksengajaan kendaraan roda dua.
Aku masih nongkrong tepi Kuri Pasai, membayangkan telaga purba penuh cerita di mana di rumpun bakau itu kepitinglah presidennya dan akar-akar istananya. Mungkinkah kepiting bakau menikah dengan ikan Pari?
Ombak menegur dengkulku. Ikan Julung-julung menampakkan diri berlari-lari kian ke pinggir lalu sembunyi di balik daun kering yang tenggelam dekat tanggul jembatan sebuah dermaga di mana banyak Engkang-Engkang berenang mencipta snorkling
Aku menunggu kapal yang melintas di atas tol laut. Menanti suara peluit mengajakku pulang.
Sayangnya, ombak masih seperti dulu membawa pesan Kijne untuk salawasna diam nan tawakal sebagai si Tumang saba Papua.
Air timur semakin menggodaku membuai raga ini dalam pelbagai pertanyaan. Kenapa harus ada di sini, di planet ini, di ini pulau?
Kapan aku pulang bawa bongkahan sagu atawa sunting gadis rambut keriting?
Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku semakin menjadi anjing karang batu dalam silhuet bersemedi di atas batu inspirasi bukit Aitumeri
Teluk Wondama, Papua Barat, 2015-2020




































Discussion about this post