Portalnusa.id – Penurunan nilai Transfer Keuangan Daerah (TKD) dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah mulai dirasakan dampaknya secara signifikan di Kabupaten Cirebon.
Anggota DPRD Kabupaten Cirebon dari Fraksi PDI Perjuangan, Aan Setiawan, mengungkapkan bahwa pemangkasan anggaran ini menjadi tantangan berat bagi percepatan pembangunan di tingkat desa dan kecamatan.
Hal tersebut diungkapkan usai menghadiri kegiatan Pra Musyawarah Rencana Pembangunan ( Musrenbang) tingkat Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, Selasa (20/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Aan menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cirebon seharusnya berada di angka Rp4,8 triliun. Namun, saat ini kapasitas fiskal daerah hanya menyentuh angka Rp4,2 triliun.
“Kita kehilangan hampir Rp600 miliar. Penurunan ini kemungkinan besar karena pemerintah pusat membutuhkan alokasi anggaran yang besar untuk program strategis nasional, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program lainnya. Dampaknya sangat terasa pada pembangunan di daerah,” ujar Aan Setiawan saat ditemui di sela kegiatannya di Kecamatan Gebang.
Dampak adanya penurunan tersebut. Salah satu dampak nyata yang disoroti Aan adalah merosotnya Dana Pagu Indikatif Kewilayahan (PIK) di tingkat kecamatan. Di Kecamatan Gebang, misalnya, anggaran yang semula diproyeksikan mencapai Rp2 miliar lebih, kini menyusut drastis menjadi hanya Rp1 miliar.
Ironisnya, dari angka Rp1 miliar tersebut, sekitar Rp200 juta telah dialokasikan untuk kegiatan rutin kecamatan seperti MTQ dan operasional lainnya. Praktis, hanya tersisa Rp800 juta yang harus dibagi untuk kebutuhan pembangunan di 13 desa di wilayah Kecamatan Gebang.
“Uang Rp800 juta itu kalau dipakai bangun satu jalur jalan saja sudah habis Rp750 juta. Jadi sangat terbatas. Oleh karena itu, saya arahkan agar desa-desa fokus pada program kerakyatan yang menunjang ketahanan pangan dan perbaikan irigasi pertanian agar manfaatnya langsung dirasakan ekonomi warga,” lanjutnya.
Selain infrastruktur jalan, Aan juga menyoroti kondisi sarana pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) yang sangat memprihatinkan. Ia berjanji akan mengupayakan tambahan anggaran di luar dana PIK untuk membantu renovasi sekolah.
“Kondisi SD banyak yang rusak. Jika mengandalkan PIK jelas tidak cukup. Saya akan coba usulkan melalui jalur pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD atau dana fisik lainnya untuk dibawa ke Gebang,” tegas legislator banteng tersebut.
Masalah klasik yang juga menjadi perhatian serius adalah banjir tahunan. Aan mencatat bahwa wilayah Gebang merupakan titik hilir yang menerima kiriman air dan sampah dari hulu di daerah Waled hingga Kuningan. Desa-desa seperti Melakasari, Pelayangan, dan Gebang kerap menjadi “tempat akhir” tumpukan sampah kiriman.
“Solusinya adalah normalisasi. Saya meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas PUTR bagian pengairan maupun Balai Besar Wilayah Sungai ( BBWS) Cimanuk Cisanggarung untuk ‘mengeroyok’ masalah ini. Harus ada sinergi untuk pembersihan sampah dan normalisasi saluran agar air lancar,” katanya.
Dorong Ekonomi Lewat UMKM dan Pemuda
Meskipun anggaran terbatas, Aan menekankan agar skala prioritas tetap mengacu pada peningkatan ekonomi masyarakat. Ia mendorong adanya keberpihakan anggaran bagi pelaku UMKM serta pembinaan bagi Karang Taruna.
Menurutnya, pelatihan kerja bagi pemuda sangat penting agar mereka memiliki daya saing dan dapat menekan angka pengangguran di desa. “Skala prioritas kita adalah yang berdampak ekonomi. UMKM butuh modal dan akses, Karang Taruna butuh pelatihan. Inilah yang harus dilakukan pemerintah daerah meskipun di tengah keterbatasan anggaran,” pungkasnya.
Edo Ajak Kader PKK dan Posyandu Cirebon Buang Ego Sektoral Demi Pelayanan Publik
Portalnusa.id – Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, meminta seluruh kader Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dan Posyandu untuk...





































Discussion about this post