Portalnusa.id – Keluarga besar Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung merayakan Hari Bakti Pekerjaan Umum (PU) ke-80 dengan mengusung tema “Hemat Energi Hemat Air, Solusi Irigasi Padi dan Energi Ramah Lingkungan untuk Masa Depan”. Acara tersebut diadakan di lingkungan kantor BBWS Cimanuk-Cisanggarung, di bilangan Jln. Ahmad Yani Kota Cirebon, Senin (01/12/2025).
Kepala BBWS Cimancis Dwi Agus Kuncoro menekankan bahwa tema tahun ini tidak hanya sekadar simbolis, tetapi menjadi landasan aksi nyata untuk mengatasi tantangan sumber daya alam yang semakin terbatas dan perubahan iklim.
“Hari Bakti PU tahun 2025 ini adalah momen untuk kita menyadari bahwa peran PU tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. Hemat energi dan air adalah langkah awal yang sederhana namun berdampak besar, terutama dalam sektor pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian,” ujarnya.
Agus Kuncoro, menyebut salah satu fokus utama adalah pengenalan dan sosialisasi Teknik Irigasi Padi Hemat Air (IPHA), yang telah sukses dioperasikan sebagai proyek percontohan di Daerah Irigasi (DI) Rentang, Kabupaten Cirebon, dan akan diperluas ke DI Kamun, Majalengka, seluas sekitar 2.000 ha yang saat ini dalam tahap sosialisasi.
Menurutnga IPHA adalah teknik budidaya padi yang mengelola tanaman, air, dan tanah secara terpadu untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air.
“Metode IPHA berbeda dari cara tanam tradisional. Kita menggunakan air secara lebih terkontrol, sehingga bisa menghemat air hingga 30 persen, namun produksi gabah malah bisa naik hingga 2 ton per hektar,” jelasnya,
menambahkan bahwa IPHA juga membutuhkan benih lebih sedikit (hanya 10 kg/ha) dan waktu panen yang lebih cepat karena ditanam bibit muda. Hasilnya, petani dapat meningkatkan pendapatan sambil mengurangi beban biaya operasional.
Selain irigasi hemat air, Agus Kuncoro juga menyoroti penerapan teknologi energi ramah lingkungan untuk mendukung sektor pertanian. Sistem irigasi surya ini sangat cocok untuk wilayah pertanian terpencil yang tidak terjangkau listrik. Sumber tenaga berasal dari panel surya, sehingga tidak ada biaya operasional harian dari BBM atau listrik, dan tidak menghasilkan emisi karbon yang merusak lingkungan.
“Intinya adalah bagaimana memompa, tapi energinya free. Kalau ada pergantian dinamo, itu usia 5 tahun sekali. Ini baru tahun ini ada satu yang 2 inch, satu yang 4 inch, dan satu yang 6 inch,” jelasnya.
Sistem ini juga dapat bekerja otomatis sepanjang hari, menjaga kelembaban tanah secara konsisten dan meningkatkan produktivitas tanaman.
“Kami membuat pompa air tenaga surya untuk kekeringan dan sudah selesai 100%. Kapasitas pompa ini bisa mengairi 13 hektar sawah,” ujarnya.
Selanjutnya, BBWS Cimanuk-Cisanggarung mengembangkan pompa air tenaga surya dengan kapasitas yang lebih besar, yaitu 18 liter per detik. Pompa ini tidak hanya berfungsi untuk mengatasi kekeringan, tetapi juga dapat mengendalikan banjir skala kecil, terutama di cluster perumahan.
“Kami juga mencoba yang 6 inch, itu 120 liter per detik. Kalau di PU, itu adalah pompa banjir paling kecil. Kami mencoba optimalkan dengan tenaga surya,” tambahnya.
Selain pompa air tenaga surya, BBWS Cimanuk-Cisanggarung juga mengembangkan alsintan untuk mendukung irigasi padi hemat air (IPHA). Alsintan ini didesain khusus untuk menerapkan irigasi pada mata air.
“Kami kaji ada beberapa yang disempurnakan, yaitu perlunya alsintan untuk irigasi padi hemat air atau IPHA. Itu memang didesain khusus alat mesin pertanian untuk menerapkan irigasi pada mata air,” kata Dwi Agus Kuncoro.
Alsintan tersebut meliputi traktor yang berfungsi untuk membajak, memupuk, dan meratakan tanah. Alat ini menggunakan panel surya dan dikontrol secara remote atau robotik.
“Alat yang kedua itu irigasi padi matahari juga. Kelemahannya adalah sering tumbuhnya gulma, sehingga kami membuat alat yang untuk gulma yang untuk versi cara tanam sebesar logo 41. Alat ini juga dilengkapi alat kuning dan juga untuk memupuk tanaman,” jelasnya.
Alat ketiga yang dikembangkan adalah alat pengusir tikus. Alat ini menggunakan tenaga baterai yang bisa diisi ulang dengan panel surya, serta alat pengubah cabang ke padi.
” Berharap inovasi-inovasi ini dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian, serta menjaga kelestarian lingkungan, ” pungkasnya.
Pemkot Cirebon Matangkan Rencana WFH Bagi ASN, Berlaku Mulai Jumat Depan
Portalnusa.id – Pemerintah Kota Cirebon tengah melakukan pembahasan serius terkait rencana penerapan kebijakan Bekerja dari Rumah atau Work From Home...


































Discussion about this post