Bandung, – Sosok pendidik sekaligus khodim Majelis Dzikir Alfatih Cibiru Wetan, Nono Daryono, kembali menorehkan prestasi gemilang di dunia pendidikan dan literasi. Dalam ajang Parasamya Anugerah Aksara Indonesia VI yang digelar oleh Komunitas Pengajar dan Penulis Jawa Barat (KPPJB) di Hotel Travello Kota Bandung, Minggu (26/10/2025), Nono berhasil menyabet dua gelar bergengsi sekaligus.
Dedikasi Tanpa Batas di Dunia Pendidikan
Selama 27 tahun mengabdi di dunia pendidikan, kiprah Nono Daryono tidak diragukan lagi. Ia dikenal bukan hanya sebagai guru, melainkan juga penggerak literasi dan dakwah yang konsisten menebarkan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
Buku karyanya berjudul “Guru Teduh” menjadi cermin perjalanan dan filosofi hidupnya sebagai pendidik.
Menurutnya, kata “Teduh” merupakan akronim dari Tawadhu, Edukatif, dan Humoris.
“Guru hendaknya mengedepankan kesantunan dalam pembawaannya—baik dalam kata, sikap, maupun perilaku. Ia harus menjadi teladan, memberi rujukan ilmu pengetahuan, serta menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan,” ujar Nono dalam kesempatan wawancara usai menerima penghargaan.
Sikap rendah hati dan santunnya membuat sosok Nono begitu dekat dengan para murid, rekan sejawat, dan masyarakat. Banyak yang menganggapnya sebagai tempat bertukar pikiran dan mencari solusi berbagai persoalan pendidikan maupun sosial.
Guru Inspiratif dan Penggerak Literasi
Bukan kali pertama Nono Daryono mendapat pengakuan publik. Sebelumnya, pada tahun 2018, ia meraih Gelar Guru Inspiratif Jawa Barat dalam ajang Een Sukaesih Award.
Baginya, penghargaan semacam ini bukan sekadar simbol prestasi, melainkan energi untuk terus menebar keteladanan.
“Ajang seperti ini harus terus digalakkan dan digelorakan guna memberikan teladan kepada anak-anak dalam menyongsong generasi emas 2045,” tutur Nono penuh semangat.
Rasa Syukur dan Harapan
Dalam momen penerimaan penghargaan, Nono mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian yang diperoleh dari perjuangan panjang.
“Capaian ini diraih dengan cucuran keringat dan lelah yang mendera. Terima kasih kepada panitia KPPJB, pengurus Yayasan Krida Nusantara, rekan sejawat di SDT Krida Nusantara, Ibu Kepala Sekolah, guru-guru, jamaah Majelis Al Fatih Cibiru Wetan, dan keluarga kecil saya. Semoga kiprah ini membawa atsar kebaikan bagi kehidupan,” ucapnya dengan penuh haru.
Keteladanan dalam Keberkahan
Dengan perpaduan peran sebagai guru, penulis, dan khodim majelis, Nono Daryono menjadi sosok yang mengharmonikan ilmu dan akhlak. Ia percaya bahwa pendidikan sejati tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menenangkan jiwa.
“Guru sejati bukan hanya pengajar, tetapi penenang dan penuntun,” tutupnya dengan senyum teduh—sebuah refleksi dari filosofi hidupnya sendiri.




































Discussion about this post