BANDUNG — Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Auliyaa menjadi satu-satunya penerima Bantuan Pemerintah untuk Komunitas Literasi (Banpem Komlit) tahun anggaran 2026 di Kabupaten Bandung. Bantuan tersebut diberikan setelah melalui proses verifikasi dan penilaian Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.
Salah satu bentuk kegiatan yang diselenggarakan TBM Auliyaa melalui dukungan Banpem Komlit tersebut adalah Kelas Menulis Berdampak: Lokakarya Menulis Cerpen, yang berlangsung di Perpustakaan Kabupaten Bandung, Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bandung (Dispusip Kab. Bandung), Sabtu, 22/08.
Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 15.00 WIB itu diikuti 50 peserta. Jumlah tersebut merupakan hasil seleksi dari 92 orang yang mendaftar.
Lokakarya menghadirkan sejumlah pemateri dari kalangan penulis, penerbit, editor, dan pegiat literasi, yakni Sultan Prabu, penulis dan komikus; Rike Damayanti, S.Pd., editor penerbit Naraya sekaligus pegiat literasi; M. Ihsan Maulana, S.Pd., Founder Penerbit Naraya; serta Ida Susanti, S.Pd.I., pendiri TBM Auliyaa sekaligus Ketua Forum TBM Kabupaten Bandung.
Selain memperoleh materi dan pengalaman menulis, peserta mendapatkan sertifikat, makan siang, kudapan, uang transportasi, serta ebook hasil karya sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Hadir pula perwakilan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bandung, Dra. Lusy Widhiyanti, MM. Dalam sambutannya, Lusy mengaku senang dapat berada di tengah forum yang mempertemukan para pegiat dan komunitas literasi.
Menurutnya, kegiatan semacam ini bukan hanya menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga membuka kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi di antara para penggerak literasi.
“Saya merasa senang bisa berada di tengah forum literasi seperti ini, karena selain mendapatkan berbagai pengalaman, juga dapat menambah tali silaturahmi,” ujar Lusy.
Kehadiran Lusy dalam kegiatan tersebut sekaligus menjadi momen khusus. Ia menyampaikan bahwa pertemuan tersebut merupakan salah satu pertemuan terakhirnya dalam kapasitas sebagai bagian dari Dispusip Kabupaten Bandung.
“Ini adalah pertemuan pertama dan terakhir sebagai bagian dari Dispusip, karena beberapa hari ke depan saya memasuki masa pensiun,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut memberikan nuansa tersendiri dalam kegiatan lokakarya. Forum literasi yang biasanya menjadi ruang belajar dan berbagi pengalaman, juga menjadi momentum silaturahmi sekaligus perpisahan bagi salah satu aparatur yang selama ini berada dalam lingkungan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bandung.
Mewakili Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat, Nandang R. Pamungkas, menjelaskan bahwa penerima Banpem Komlit tahun ini harus melewati proses penyaringan yang lebih ketat. Menurutnya, pada 2026 hanya terdapat delapan TBM dari Jawa Barat yang masuk sebagai penerima, dari total 120 penerima Banpem Komlit secara nasional.
“Tahun ini penerima Banpem Komlit hanya 8 TBM dari 120 total penerima Banpem Komlit Badan Bahasa,” ujar Nandang.
Nandang menjelaskan, Balai Bahasa Jawa Barat memiliki posisi sebagai verifikator dalam proses tersebut. Ia sendiri terlibat sebagai salah satu penilai.
“Posisi Balai Bahasa sebagai verifikator, dan saya adalah salah satu penilaiannya,” katanya.
Menurut Nandang, salah satu aspek penting yang menjadi pertimbangan dalam proses penilaian adalah konsistensi TBM atau komunitas literasi serta sejauh mana dampak positif yang dihasilkan di tengah masyarakat.
Kriteria tersebut diperlukan agar bantuan pemerintah benar-benar diberikan kepada lembaga yang memiliki aktivitas literasi nyata dan berkelanjutan.
Ia mengatakan, mekanisme penyaringan tersebut mulai diterapkan pada tahun anggaran 2025. Sebelumnya, lembaga yang memenuhi persyaratan administratif dapat lebih mudah masuk sebagai penerima bantuan tanpa proses penyaringan yang dilakukan secara langsung oleh Balai Bahasa di daerah.
“Dulu tanpa campur tangan Balai Bahasa banyak lembaga hanya sekadar memenuhi syarat administratif langsung lolos,” ungkapnya.
Penerapan proses verifikasi dan penilaian tersebut, kata Nandang, dilakukan agar keterbatasan anggaran pemerintah dapat digunakan secara lebih tepat sasaran dan efisien.
Data penerima bantuan juga menunjukkan adanya perubahan jumlah penerima dari tahun ke tahun. Pada 2025, Jawa Barat mendapatkan sekitar 26 penerima Banpem Komlit dari total 120 lembaga penerima secara nasional. Sementara pada 2024, jumlah penerima secara nasional mencapai sekitar 340 lembaga.
“Namun tanpa proses penyaringan dari Balai Bahasa daerah masing-masing,” jelas Nandang mengenai mekanisme pada periode sebelumnya.
Ketua TBM Auliyaa, Ida Susanti, menyambut baik kepercayaan yang diberikan Badan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kepada lembaganya.
Ida mengatakan, bantuan tersebut merupakan amanah yang diperoleh setelah TBM Auliyaa mengikuti proses penyaringan yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Barat.
“Alhamdulillah kita mendapatkan amanah dan kepercayaan dari Badan Bahasa Kemendikdasmen, melalui hasil penyaringan Balai Bahasa Jabar, untuk menyelenggarakan empat kegiatan yang didanai sebesar Rp50 juta,” ujar Ida.
Menurut Ida, dukungan tersebut tidak hanya memungkinkan TBM Auliyaa menyelenggarakan kegiatan literasi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap pembelajaran, pengalaman, dan ruang berkarya.
Dalam lokakarya menulis cerpen tersebut, peserta juga memperoleh sejumlah fasilitas penunjang kegiatan.
“Sehingga kita dapat berkumpul mendapatkan uang transport, makan siang dan kudapan. Ini bukan dari Bunda ya… tapi dari Kemendikdasmen,” ujar Ida disambut suasana hangat peserta.
Ia menegaskan, fasilitas yang diterima peserta merupakan bagian dari dukungan pemerintah melalui program Banpem Komlit, bukan berasal dari dana pribadi pengelola TBM.
Kegiatan Kelas Menulis Berdampak: Lokakarya Menulis Cerpen menjadi salah satu upaya TBM Auliyaa menerjemahkan bantuan pemerintah ke dalam kegiatan literasi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pemilihan menulis cerpen sebagai materi lokakarya memberikan ruang kepada peserta untuk mengembangkan kemampuan literasi produktif. Peserta tidak hanya diarahkan untuk membaca, tetapi juga menghasilkan karya tulis yang dapat menjadi bagian dari dokumentasi pengalaman, gagasan, maupun realitas sosial di lingkungan mereka.
Dengan jumlah peserta yang dibatasi menjadi 50 orang dari 92 pendaftar, kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap aktivitas menulis.
Bagi TBM Auliyaa, kepercayaan sebagai satu-satunya penerima Banpem Komlit 2026 di Kabupaten Bandung menjadi tanggung jawab untuk menjaga konsistensi kegiatan serta memastikan program yang dijalankan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Proses seleksi yang dilakukan Balai Bahasa Jawa Barat pun menempatkan konsistensi dan dampak sebagai bagian penting dalam menentukan penerima bantuan. Dengan demikian, Banpem Komlit diharapkan tidak berhenti sebagai dukungan administratif dan finansial, tetapi benar-benar menjadi instrumen untuk memperkuat gerakan literasi di tengah masyarakat.
































Discussion about this post