Portalnusa.id— PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terus memperkuat penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha di berbagai segmen, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perusahaan menengah hingga korporasi.
Langkah tersebut dilakukan seiring dengan semakin terbukanya peluang pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan pelaku usaha terhadap dukungan permodalan.
Upaya ini juga sejalan dengan arah pengelolaan BUMN dalam ekosistem Danantara Indonesia yang mendorong peningkatan daya saing, pertumbuhan usaha yang sehat, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.Hingga akhir Juni 2026, total kredit BNI tercatat tumbuh 24,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp968,5 triliun.
Pertumbuhan kredit tersebut ditopang portofolio yang semakin terdiversifikasi di berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis. Dalam penyalurannya, BNI tetap menerapkan pendekatan selektif dengan mempertimbangkan prospek industri, kelayakan usaha, kapasitas pembayaran, serta profil risiko masing-masing debitur.
Pembiayaan tersebut dapat digunakan pelaku usaha untuk berbagai kebutuhan, seperti memperkuat modal kerja, menambah persediaan, meningkatkan kapasitas produksi, membeli peralatan, memperluas jaringan pemasaran dan distribusi, hingga mengembangkan proyek dan membuka akses ke pasar baru.
Dorong Usaha Naik Kelas
Seiring perkembangan bisnis, kebutuhan pembiayaan pelaku usaha turut mengalami perubahan. UMKM, misalnya, membutuhkan tambahan modal untuk meningkatkan produksi, menambah persediaan, membeli peralatan hingga memperluas pemasaran.
Sementara perusahaan menengah dan korporasi membutuhkan pembiayaan untuk memperkuat modal kerja, mengembangkan proyek baru, memperluas jaringan distribusi, serta memperkuat rantai pasok.
Untuk mendekatkan solusi pembiayaan dengan kebutuhan di daerah, BNI juga memperkuat jaringan melalui implementasi BRAVE (Branch, Region & Area Value Empowerment) di seluruh wilayah operasional.
Melalui pendekatan tersebut, kantor wilayah dan kantor cabang BNI didorong untuk memahami karakteristik ekonomi lokal, menggali potensi bisnis daerah, serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan pelaku usaha.
Dengan demikian, pembiayaan yang diberikan diharapkan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan kredit, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan potensi bisnis nasabah di masing-masing wilayah.
Pertumbuhan Kredit Diiringi Perbaikan Kualitas Aset
Di tengah ekspansi pembiayaan, BNI tetap menempatkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko sebagai bagian penting dalam menjaga kualitas aset.
Hingga akhir Juni 2026, rasio loan at risk (LAR) BNI membaik dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen. Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.
Direktur Risk Management BNI David Pirzada mengatakan, kualitas aset yang terjaga merupakan hasil penerapan manajemen risiko secara disiplin dan konsisten pada seluruh tahapan proses bisnis perseroan.
“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pasca penyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat,” ujar David.
Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan melanjutkan strategi pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi. Perseroan juga akan mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.
Strategi tersebut diperkuat melalui transformasi BRAVE dan digitalisasi untuk meningkatkan produktivitas jaringan, menggali potensi ekonomi lokal, serta menghadirkan solusi pembiayaan yang semakin sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
Sebagai bagian dari portofolio BUMN dalam ekosistem Danantara Indonesia, BNI menegaskan komitmennya untuk menjalankan ekspansi bisnis dengan tetap mengedepankan kualitas, tata kelola, dan penciptaan nilai secara berkelanjutan.
Melalui pembiayaan yang selektif serta dukungan jaringan yang luas, BNI berupaya mendorong pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus membawa usahanya ke tahap pertumbuhan berikutnya.

































Discussion about this post