Portalnusa.id – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunung Jati Cirebon terus memperkuat kesiagaan dalam menangani pasien campak. Sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan), pihak manajemen memastikan kesiapan sarana dan prasarana guna mengantisipasi lonjakan kasus.
Direktur Utama RSUD Gunung Jati, dr. Katibi, mengungkapkan bahwa pasien rujukan yang datang ke rumah sakit terbagi melalui dua pintu utama, yakni Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Rawat Jalan.
Berdasarkan data tiga bulan terakhir, pasien yang didiagnosis campak lebih banyak masuk melalui jalur darurat (IGD) dibandingkan poliklinik rawat jalan. Berikut rincian datanya, Jalur Rawat Jalan, tercatat total 6 pasien, dengan rincian 3 pasien pada Januari, nihil di bulan Februari, 2 pasien pada Maret, dan 1 pasien pada periode 1-16 April.
Jalur IGD, mengalami angka yang relatif lebih tinggi, yakni 26 pasien pada Januari, 19 pasien pada Februari, dan 5 pasien pada bulan Maret.
”Jika angka rujukan ke rumah sakit sudah sebesar itu, ada kemungkinan kasus di tingkat pelayanan pertama seperti Puskesmas atau di tengah masyarakat jumlahnya jauh lebih banyak,” ujar dr. Katibi.
Menyikapi temuan tersebut, RSUD Gunung Jati telah menyiapkan tata laksana medis yang memadai, mulai dari kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) hingga fasilitas penunjang di seluruh lini pelayanan.
Langkah preventif juga dilakukan untuk mencegah penularan di lingkungan rumah sakit (hospital-acquired infection). dr. Katibi menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan ruang isolasi khusus.
”Di rawat inap, kami siapkan ruang isolasi di setiap gedung. Tujuannya agar proses penularan intra-rumah sakit dapat ditekan seminimal mungkin,”katanya.
Pada kesempatan yang sama, dr. Suci Saptyuni Sp.A, spesialis anak di RSUD Gunung Jati Cirebon, menjelaskan bahwa pada Desember 2025 tercatat hanya 8 kasus, namun angka tersebut meledak saat memasuki Januari 2026. Menurutnya, siklus penularan ini mirip dengan pola yang terjadi pada awal tahun 2025 lalu.
Lonjakan kasus ini diduga kuat dipicu oleh tingginya mobilitas masyarakat selama masa liburan dan tradisi mudik.
“Budaya mudik kita sangat berpengaruh. Banyak orang tua yang sebenarnya sudah tahu anaknya sakit atau demam, tetapi tetap memaksakan berangkat mudik. Di perjalanan atau di kampung halaman, anak tersebut bertemu banyak saudara, sehingga virus menyebar dengan sangat cepat,” ujar dr. Suci.
Selain faktor interaksi sosial, faktor cuaca ekstrem (peralihan panas ke hujan) juga turut memengaruhi kondisi fisik anak, meski dr. Suci menegaskan bahwa campak murni disebabkan oleh infeksi virus yang sangat menular.
Untuk membantu masyarakat membedakan campak dengan ruam merah biasa, dr. Suci memberikan beberapa poin kunci. Campak selalu disertai demam tinggi yang berlangsung sekitar 3 hari sebelum ruam muncul.
“Saat ruam merah mulai keluar, suhu tubuh justru biasanya mencapai titik tertinggi,”jelas Suci.
Ruam muncul mulai dari belakang telinga, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam baru akan menghilang dalam waktu 7 hingga 14 hari setelah fase akut terlewati.
Pihak RSUD Gunung Jati mengapresiasi meningkatnya kesadaran masyarakat berkat bantuan informasi dari media sosial. Saat ini, kunjungan vaksinasi campak di Puskesmas, Posyandu, maupun praktik swasta mengalami peningkatan.
“Vaksinasi adalah langkah pencegahan utama. Memang ada efek samping seperti demam ringan pasca-suntik, namun itu jauh lebih baik daripada terkena penyakitnya,” tambahnya.
Beliau juga menekankan pentingnya isolasi bagi pasien yang terinfeksi. Perawatan di rumah sakit bukan hanya bertujuan untuk memulihkan kondisi pasien, tetapi juga untuk memutus rantai penularan agar tidak menyebar ke anggota keluarga atau lingkungan sekitar.
Jika anak mengalami demam tinggi disertai ruam kemerahan, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan penanganan isolasi jika diperlukan.
































Discussion about this post