Portalnusa.id – Tren digitalisasi keuangan di wilayah Ciayumajakuning menunjukkan performa yang sangat menggembirakan pada awal tahun 2026.
Berdasarkan data terbaru dari Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Cirebon, volume transaksi melalui kanal digital QRIS dan Uang Elektronik (UE) terus mengalami peningkatan yang signifikan. Kepala KPw BI Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis menjelaskan, hingga periode Februari 2026, tercatat akumulasi volume transaksi QRIS di wilayah ini telah mencapai 41,88 juta transaksi. “Dari sisi nilai ekonomi, nominal transaksi yang dihasilkan juga sangat besar, yakni menembus angka Rp3,58 triliun,”katanya saat Ngopi Bareng Media Maning, di Kantor KPw BI Cirebon, Kamis (2/4/2026). Wihujeung menyebutkan, penggunaan UE atau Qris di wilayah Ciayumajakuning, yang pengunaannya mendominasi di Kota Cirebon dibandingkan Kabupaten Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan. “Secara spasial, Kota Cirebon masih menjadi lokomotif utama dalam adopsi pembayaran digital menyumbang proporsi tertinggi dengan andil sebesar 54,14% dari total keseluruhan transaksi di wilayah Ciayumajakuning selama periode Januari hingga Februari 2026,”katanya. Transaksi Berdasarkan Jenis Merchant mengungkap bahwa sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung ekosistem QRIS, seperti Usaha Kecil (UKE) Nendominasi dengan pangsa 49,28%. Usaha Menengah (UME), berada di posisi kedua dengan 19,77%. Usaha Mikro (UMI) menyusul dengan 19,34%. “Sisanya berasal dari Usaha Besar (UBE) sebesar 10,58%, serta sektor BLU/PSO dan lainnya,”katanya. Hal ini menunjukkan bahwa pedagang di tingkat akar rumput sudah semakin melek teknologi dan nyaman menggunakan sistem pembayaran nirkontak. Dikesempatan yang sama Deputi Kepala Perwakilan BI Cirebon Himawan menambahkan, ekosistem non-tunai ini juga didukung oleh ketersediaan titik pembayaran yang semakin luas. “Selama dua bulan pertama tahun 2026, terdapat penambahan sekitar 37,67 ribu merchant baru. Secara akumulatif, total merchant QRIS di wilayah Ciayumajakuning per Februari 2026 telah mencapai 914,07 ribu merchant,”tambahnya. Meski gencar melakukan akselerasi digital, Bank Indonesia menegaskan bahwa sistem pembayaran non-tunai tidak akan sepenuhnya menggantikan uang kartal (tunai). Keduanya diposisikan untuk saling melengkapi (komplementer). ”Kehadiran sistem pembayaran digital tidak serta-merta mensubstitusi atau menggantikan uang tunai. Di negara maju sekalipun, uang tunai tetap ada. Kami di Bank Indonesia tetap menjalankan mandat untuk memastikan ketersediaan uang layak edar dalam jumlah dan pecahan yang cukup bagi masyarakat,” tambah Himawan sembari berseloroh mengenai pentingnya tetap menyimpan uang tunai di dompet sebagai pendamping dompet digital (e-wallet). Bank Indonesia memproyeksikan tren ini akan terus tumbuh positif seiring dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap keamanan dan efisiensi transaksi digital.Pemkot Cirebon Buka Seleksi Dewan Pengawas dan Direksi BUMD, Libatkan Akademisi hingga Psikolog
Portalnusa.id – Pemerintah Kota Cirebon resmi membuka seleksi calon Dewan Pengawas dan Direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Proses pendaftaran...




































Discussion about this post