Oleh : Dra. Evi Heviani
Saya seorang guru sebuah sekolah dasar. Saya mengajar di kelas 6. Sekolah tempat saya mengajar sekolah umum tetapi menerapkan program inklusi. Yaitu sistem penyelenggaraan pendidikannya memberikan kesempatan kepada semua siswa yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan dan pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan siswa pada umumnya dalam satu kelas.
Sebagai seorang guru saya diuji kesabaran dan keihklasan untuk mengajar dan mendidik siswa dalam satu kelas dengan bermacam-macam karakter siswa yang berbeda-beda. Inilah yang harus saya hadapi setiap hari bertatap muka dengan siswa. Ada dua siswa yang bermasalah yang perlu saya lebih fokus menghadapi kedua peserta didik ini yaitu Raja dan Galih siswa yang cerdas tapi selalu bikin ulah. Sementara Galih adalah siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).
Raja adalah anak yang cerdas dan Non ABK, namun sering membuat kesal semua teman-temannya. Setiap awal pembelajaran dimulai siswa dibiasakan berbaris, saat berbaris siswa seperti biasa ada tepuk sekolah, dan yel-yel sekolah, games, kuis, bernyanyi, bersalaman kepada guru tetapi bersalaman secara konvensional dengan berbagai cara dan sikap masing-masing. Sehingga siswa semangat untuk belajar diawali dengan tidak membosankan, tetapi tetap memperhatikan aturan sopan santun sekolah, tapi saat berbaris ada saja siswa yang telat berbaris yaitu Raja (nama samaran) dia selalu datang terlambat tetapi dia ingin selalu baris di depan membuat kesal teman-temannya kalau disuruh memimpin baris tidak mau.
Sebelum pembelajaran berlangsung membaca doa waktu pagi, asmaul husna, dan membaca qur’an walau beberapa ayat. Tepuk rukun islam, Raja lebih senang menggangu teman-temannya kadang membuat gaduh ramai dan bikin kesal. Kadang melempar buku, mengeluarkan buku semuanya dari kantong sehingga meja penuh berantakan dengan buku-buku Raja. Karena yang lainnya fokus belajar, Raja mulai mengganggu siswa ABK sehingga anak ABK menjerit melempar buku, berteriak sangat keras.
Kelas menjadi gaduh, ribut, buku saling lempar dengan anak ABK, sehingga anak ABK menangis teman sekitarnya menjadi tidak nyaman. Raja selalu merebut pinsil temannya, kadang menggeser bangkunya kalau disuruh diam oleh temannya dia memukulnya, menendang, lari kesana kemari, ditariknya buku temannya karena Raja sering iseng mengganggu. Saat kelas sudah tenang dan saat guru menerangkan Raja sudah cape berulah dia malas belajar dan tidur di kelas.
Sedangkan Galih siswa ABK (anak berkebutuhan khusus) adalah siswa yang sangat lambat belajar, motoriknya lambat, pandangan tidak fokus. Kalau dihadapkan ke pembelajaran dia lebih banyak diam, kalau diajak berbicara pandangan tidak mengarah, ke arah yang mengajak bicara. Dia cepat bosan dengan sikap yang diam, sikapnya gelisah tidak fokus senang berteriak dan lari keluar kelas, setiap ada benda yang asing dilemparnya.
Dia baru bisa menyebut “Bu”, serta baru bisa menyebut tiga nama temanya Raja, Dio, dan Ria. Dalam menulis motorik tangannya masih perlu diarahkan lebih suka membuat garis jadi menerapkan menulis masih jauh dari kata bisa. Teman-temannya karena sudah biasa sosialisasi dengan Galih tidak pernah mengolok-olok, walau sosialisasi Galih masing sulit diarahkan.
Dampak terhadap prestasi akademiknya dan terhadap kelas adalah kelas menjadi tidak kondusif, prestasi menurun tidak sesuai KKM, belajar belum tuntas. Raja mendapat nilai di bawah KKM , Galih masih harus dalam pengawasan belum ada perubahan sikap di kelas sering keluar kelas saat guru menerangkan, sehingga pandangan siswa lainnya tidak fokus.
Strategi atau pendekatan yang diterapkan sebagai upaya mengatasinya adalah sebagai seorang guru harus menangani setiap muridnya dengan tidak membedakan satu dengan yang lainnya. Siswa semua mempunyai energi yang positif, energi yang kuat pada masa-masanya.
Saya mencoba untuk mengatasi apabila dihadapkan pada masalah seperti yang dijelaskan di atas. Saya harus bisa meraih semua siswa di kelas, harus hapal satu demi satu namanya, harus mengetahui latar belakang siswa, harus banyak komunikasi dengan orangtuannya. Untuk itu dicoba dibuat buku penghubung.
Jadi buku penghubung diisi oleh guru kegiatan hari ini di sekolah, apabila ada masalah dengan siswa pada hari itu orangtua mengetahuinya. Sehingga ada kerjasama yang baik antara guru dengan orangtua untuk kelancararan siswanya dalam pembelajaran.
Ada juga jurnal harian untuk diisi oleh siswa, isi jurnalnya apakah siswa mengerjakan tugas, siswa mengikuti baris, siswa ikut berdoa tercatat di buku jurnal harian. Selanjutnya awal pembelajaran supaya tidak bosan di kelas buat suasana baru dengan cara kursi tempat duduk dibuat sedemikian rupa supaya tidak kaku.
Dibentuk cara duduk siswa dalam bentuk kotak guru di tengah, kadang Raja dan Galih ingin duduk di tengah. Kadang tempat duduk dibuat perkelompok bisa juga tempat duduk dibuat melingkar, guru di tengah. Lagi-lagi Raja dan Galih ingin ikut di tengah.
Selanjutnya dalam pembelajaran membuat game yang menarik, menonton vidio yang berkaitan dengan pembelajaran menggunakan proyektor yang disediakan sekolah (pendidikan harus disesuaikan dengan jaman). Menarik respon siswa yang umum dan yang ABK, bisa menceritakan kembali dengan baik, untuk Raja dan Galih bisa mengapresiasikan dengan pujian, “Raja hebat hari ini bisa bercerita“, “hebat, good job, bagus”, dengan mengacungkan jempol, tidak diberi bentakan atau marah-marah cukup dialihkan dengan tugas siswa yang lain apabila selesai tugas diberi pujian.
Kadang selalu dicoba untuk menggantikan menjadi KM jadi yang ke depan Raja dan KM “Coba hari ini Raja mendampingi KM” perhatiannya dialihkan dengan memberi tanggung jawab penuh yang membuat Raja senang. Ayo, Raja kita tukar bukunya! Yang sudah selesai tukar buku, mari tempel gambar bunga untuk perempuan dan gambar binatang atau kendaraan untuk anak laki-laki jadi Raja dan Galih senang.
Kalau untuk Galih harus banyak diajak ngobrol sehingga pandangan perlahan-lahan fokus. Kalau mulai jenuh untuk belajar di luar dulu supaya semua tidak jenuh yang disebut pengenalan lingkungan. Apabila selesai tugasnya tidak lupa pujian tetap harus diucapkan walaupun di luar kelas. Galih dialihkan dengan belajar menutup botol membuka botol supaya belajar fokus, pujian tidak cukup acungkan jempol katakan dengan kasih sayang, “yaa, Raja pintar”, “Galih hebat”, acungkan jempol, beri bintang yang terbuat dari kertas warna apabila tugas selesai .
Tetapi guru tidak hanya mengawasi dua orang siswa. Guru harus memperhatikan siswa yang lainnya di kelas. Kalau sulit terkendali maka mencoba “Baiklah anak-anak sekarang ibu akan bercerita, mengapa semut jalannya berbaris?” Dibawakan cerita dengan judul yang menarik, membuat penasaran siswa, mereka akan merespon dengan antusias, karena kita harus memahami pilihan siswa walaupun tidak setuju.
Lalu dengan diberi pujian anak yang hebat, pintar, hebat, good joob, anak yang cantik, cakep, soleh, dan sholehah. Tawarkan bantuan apabila menolak tergantung pilihan atau alihkan dengan tugas lain, tertawa bersama, disisipkan elusan kepala sebagai apresiatif, sehingga merasa nyaman. Tapi kalau untuk Galih elusan itu merasa terganggu, dia lebih berontak, dia cukup diajak ngobrol dan dialihkan dengan mengamati benda.
Walaupun saya sebagai guru tahu kondisi Galih tapi sadar guru butuh bantuan orang yang mendampingi supaya tidak keluar kemana saja, bukan hanya Galih yang perlu diawasi dan diajar, maka Galih ada helper untuk mendampingi belajar saja, tetapi tetap guru kelas yang mengarahkan.
Hasilnya alhamdulilah dengan hasil kerja keras dan konsisten pada pekerjaan, harus sabar walau hal itu tidak mudah dan perlu energi yang kuat serta kesabaran yang ekstra. Raja sudah bisa mengikuti pembelajaran dengan semangat. Raja mulai datang tepat waktu, tidak berulah lagi malahan dia mau membantu siswa yang ABK.
Galih siswa yang ABK juga sama bisa mengenal Raja. Tertawa bersama dan mulai berubah sikap. ”Raja dan Galih tidak mau duduk di tengah lingkaran lagi sekarang Raja mau bareng teman-temannya.” Galih sudah bisa sedikit-sedikit bersosialisasi.
Kadang saya lagi istirahat Raja menghampiri dan duduk dipinggir saya sambil bawa buku gambar. “Bu lihat! Ini gambar Raja sama ibu lagi duduk. Raja tidak akan nakal lagi dan mau belajar, mau dapat bintang banyak, Raja sayang ibu dan teman-teman” katanya.
Rasanya terharu mendengarnya. Galih pun sama sedikit-sedikit bisa bersosilisasi walaupun belum sempurna, setidaknya mau duduk di kelas.
Pesan dan pengalaman dari pembelajaran itu adalah sebagai guru harus ihklas, dan konsisten dalam mengajar. Apabila ada yang tidak sesuai jangan pernah membentak kepada siswa ikuti pilihan siswa yang sesuai dengan pembelajaran. Berilah pujian yang membuat siswa nyaman di tengah-tengah kita. Kklata-kata “sayang, hebat, bagus” melekat di hati siswa. Anak mempunya pribadi yang unik, jangan membedakan siswa dari kelebihan dan kekurangannya. Kalau kita berusaha insya Alloh akan ada buahnya yang bisa kita petik. Semangat pagi!! Salam literasi.




































Discussion about this post