Portalnusa.id – Pengawasan keamanan pangan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon mendapati fakta bahwa sebagian bahan baku masakan diolah di luar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon pun mengingatkan pentingnya mengontrol rentang waktu pengolahan guna mencegah timbulnya bakteri pada makanan.
Temuan tersebut didapatkan saat tim DKP3 melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap bahan pangan yang digunakan di SPPG Kalijaga 5. Salah satu menu yang disorot adalah telur puyuh yang dikirim dalam kondisi sudah melalui proses perebusan awal dari luar daerah.
Kepala DKP3 Kota Cirebon, Elmi Masruroh, menjelaskan bahwa perebusan telur puyuh langsung di lokasi dapur SPPG jauh lebih direkomendasikan untuk menjamin kesegaran dan memperpanjang batas aman konsumsi.
“Supaya lebih lama jangka waktunya tidak cepat basi, ya lebih baik mentah kemudian direbusnya di SPPG. Itu akan lebih lama jangka waktu untuk konsumsinya,” ujar Elmi usai sidak, Kamis (21/10).
Elmi menambahkan, makanan matang atau setengah matang yang disimpan terlalu lama berpotensi menjadi tempat berkembangnya bakteri berbahaya jika dikonsumsi melebihi batas waktu ideal.
“Yang penting jangka waktunya masih terpenuhi, untuk menjadi basi itu kan berapa jam, sebenarnya masih aman-aman saja kemungkinan. Tapi ketika kemudian ini sudah melampaui batas waktunya ya, seharusnya jam 12 atau jam 1 paling lama sudah dikonsumsi seumpama, ini sudah melebihi. Nah itu yang menjadi bakteri berkembang,” jelas Elmi.
Terkait kondisi bahan baku tersebut, terdapat perbedaan penjelasan mengenai status pengolahan telur puyuh sebelum sampai di dapur SPPG Kalijaga 5. Menurut Elmi, bahan pangan tersebut sudah matang dari lokasi asal.
“Untuk telur puyuh itu ternyata sudah dalam bentuk telurnya sudah direbus dari Kuningan. Jadi bukan bahan pangan segar asal hewan lagi, sehingga kami tidak memeriksa dengan rapid test karena sudah dalam bentuk olahan, sudah matang datang ke SPPG itu,” kata Elmi.
Namun, Kepala SPPG Kalijaga 5, Andi Rahmat Gea, sebelumnya mengungkapkan bahwa telur puyuh tersebut didatangkan dari luar dapur dalam kondisi setengah matang sebelum dimasak kembali hingga matang sempurna di SPPG.
“Itu setengah matang, jadi memang dimasak di sini lagi sampai benar-benar matang,” terang Andi.
Di luar temuan pengolahan telur puyuh, DKP3 Kota Cirebon memastikan bahan pangan segar lainnya yang diuji di SPPG Kalijaga 5 aman dan layak dikonsumsi. Pemeriksaan sampel kelengkeng, wortel, dan kol menunjukkan hasil negatif pestisida, sementara sampel beras dinyatakan negatif klorin.
DKP3 menegaskan akan terus mengawal pemeriksaan pangan segar asal tumbuhan, hewan, maupun ikan sebagai bentuk kewenangan dan tanggung jawab menjaga kualitas masakan yang disajikan kepada para penerima manfaat program MBG.

































Discussion about this post