Portalnusa.id – Ketua DPRD Kota Cirebon, Andrie Sulistio, memastikan bahwa pihak yayasan pengelola program telah menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab penuh menanggung biaya pengobatan korban yang sempat mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.
Pernyataan tersebut disampaikan usai pihak legislatif melakukan koordinasi dengan pengurus yayasan, yang diwakili Kepala SPPG Kalijaga Andi yang menegaskan kesiapan mereka untuk menanggung seluruh biaya dampak dari penerima manfaat yang sempat dilarikan ke rumah sakit pada malam sebelumnya.
Meski demikian, pihak DPRD Kota Cirebon menegaskan tidak akan tinggal diam dan akan terus memantau penanganan kasus ini secara berkala. Mengingat insiden ini menimpa langsung warga Kota Cirebon, pengawasan ketat akan terus dilakukan terhadap operasional Sentra Pengolahan Pangan Gizi (SPPG).
“Kita pantau teruslah. Kita masih akan pantau terus ya, kita tidak akan juga meninggalkan karena ini posisinya ada di Kota Cirebon dan yang terdampak juga adalah warga daripada warga kami di Kota Cirebon,” ujar Andrie Sulistio usai meninjau, Rabu (21/10).
Dalam kesempatan yang sama, Andrie membeberkan sejumlah poin penting hasil evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali, di antaranya:
Pengelola diminta memastikan tidak ada proses memasak makanan yang dilakukan di luar fasilitas resmi SPPG.
Penggunaan bahan baku wajib dijaga kualitasnya agar tetap steril dan higienis.
Proses pengolahan harus berjalan bersih, higienis, dan sesuai standar.
Pengelola diminta jujur mengenai kapasitas pelayanan; jika merasa sudah keteteran atau tidak mampu, pengelola diminta untuk tidak memaksakan diri.
“Jangan memaksakan kemudian akhirnya membuat ide-ide di luar daripada SOP yang akhirnya menjadi masalah,” tegas Andrie.
DPRD berharap tereksposnya kasus ini melalui media dapat menjadi peringatan luas bagi seluruh pengelola SPPG agar senantiasa menaati standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku di dalam dapur demi keselamatan warga.
Sementara itu Kepala SPPG Kalijaga, Andi, menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada masyarakat, khususnya warga Cirebon, orang tua, dan anak-anak penerima manfaat. Andi mengaku merasakan kesedihan dan amarah yang mendalam akibat insiden yang terjadi dari dapur mereka pada hari kemarin.
”Saya merasakan kesedihan, amarah, akibat insiden terjadi di hari kemarin dari dapur kita. Saya mohon maaf, minta maaf yang sebesar-besarnya kepada mohon memang kita dimaafkan,” ujar Andi saat memberikan keterangan.
Terkait insiden tersebut, pihak pengelola menyatakan akan bertanggung jawab penuh atas segala bentuk biaya dan dampak dari program ini. Andi menegaskan bahwa yayasan dan pihak pengelola akan bertanggung jawab sampai anak-anak yang menjadi korban benar-benar pulih.
”Segala bentuk biaya, dampak dari program ini, MBG yang kita salurkan di hari kemarin, akan kita bertanggung jawab dari yayasan, tribakti-tribakti akan bertanggung jawab ya, sampai benar-benar nanti anak-anak kita pun sembuh ya,” tambahnya.
Sanksi Penutupan Sementara Dapur
Sebagai tindak lanjut dari insiden tersebut, Andi mengungkapkan bahwa dapur SPPG Kalijaga untuk sementara waktu harus menerima sanksi penutupan operasional. Dapur tersebut disuspensi dan ditutup sampai waktu yang belum ditentukan, sembari menunggu anak-anak yang terdampak pulih sepenuhnya.
”Untuk saat ini dapur kita, di-suspend juga ya, saya harus menyampaikan sanksi yang kita terima terkait insiden kemarin. Dapur kita di-suspend, ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan. Jadi sampai dulu, sampai kita menunggu anak-anak ini pulih dulu, ya,” jelas Andi.
Penjelasan Mengenai Menu Makanan
Menanggapi pertanyaan seputar menu makanan yang didatangkan dari luar, Andi memberikan penjelasan bahwa sebagian bahan baku memang didatangkan dari luar, sementara proses pengolahan dilakukan langsung di dapur mereka.
Mengenai menu telur puyuh yang sempat menjadi sorotan, pihak pengelola mengakui adanya kendala teknis dan kekurangan di lapangan sehingga sebagian proses memasak dilakukan di luar. Pihak pengelola memastikan akan mengevaluasi sistem kerja kedepannya agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
Saat ini, pihak pengelola juga masih menunggu hasil uji laboratorium resmi dari sampel makanan yang telah diambil oleh Dinas Kesehatan.
































Discussion about this post