Bandung, | Menyikapi kondisi sosial kultur yang makin enigmatik, seperti jalan bercabang-cabang, namun semuanya tampak samar bahkan menakutkan, sejumlah seniman membangun wadah Aliansi Bandung Ngagoak pada pekan ketiga Agustus 2026 ini, dan langsung menggelar Aksi Estetik ke-1, dengan menampilan beragam aliran kesenian, dari mulai puisi, musik, perpformance, melukis on-the spot, hingga orasi.
Aksi Estetik 1 dihelat di Kebun Seni Teras Kebun Binatang, Jl. Tamansari 69 Bandung, pada Sabtu, 29 Agustus 2026, mulai pukul 13.00 – 17.00. Ikut mengisi acara antara lain dari kalangan seniman, guru, dosen, pedagang pasar tradisional Ciroyom yang terhimpun dalam Hibara, teater jalanan, Komunitas Penyanyi Jalan, hingga masyarakat luas sebagi apresiator. Puluhan rakyat berhimpun turut menggelorakan semangat perlawanan dan pembangkanan terhadap jalannya pelaksanaan roda pemerintahan di republik kita ini.
Dua hari sebelum pelaksanaan aksi, sejumlah seniman berkumpul untuk merencanakan acara, membentuk Tim Kurator, dan merumuskan manifesto yang dibacakan oleh akrot Rinrin Candraresmi.
Para kurator adalah aktivis seni-budaya di Kota Bandung, yaitu Doddi Ahmad Fauji (Ketua), Deddy Koral, Priston Sagara, Cepi Suhendra, dan Trisno Yowono. Kepanitiaan dibantu oleh Galih Permana (Sekretaris) dan Tuty Susana (Bendahara).
MANIFESTO BANDUNG
KESENIAN lahir dan tumbuh dari rahim tanah, bernapas bersama rakyat, dan membaca gerak zaman. Kesenian adalah kompas nurani yang mesti menjaga martabat manusia agar tidak luluh digilas roda zaman.
Di tengah Indonesia yang memar dihantam ketidakadilan, jurang kesenjangan yang membelalak, kerusakan lingkungan, cengkeraman korupsi, krisis kebudayaan, serta ruang kebebasan yang terus menyempit, kami menyatakan sikap:
- KESENIAN adalah Daulat Kebebasan. Kami menolak segala bentuk pembungkaman, intimidasi, dan garis batas yang membelenggu daya cipta.
- KESENIAN berakar pada Kemanusiaan. Kami memilih berdiri dan bersuara bersama mereka yang terpinggirkan, mereka yang ditanggalkan haknya atas kehidupan yang layak.
- Menjaga Jarak Kritis dari Kekuasaan. Kami menolak karya kami dijadikan gincu panggung, stempel legitimasi, propaganda, atau sekadar ornamen pemanis kekuasaan.
- Menolak Komersialisasi yang Menelanjangi Martabat. Kesenian bukan sekadar komoditas pasar, proyek, deretan angka capaian, atau pemoles wajah pembangunan.
- Kebudayaan Adalah Sumur Ingatan. Kami mengemban kewajiban merawat ingatan kolektif, kebinekaan, serta akar tradisi agar bangsa ini tidak tersapu amnesia sejarah.
- KESENIAN Menunggal dengan Nadi Warga. Kesenian adalah milik bersama untuk mengasah imajinasi, kepekaan emosi, dan kesadaran kritis masyarakat, dan bukan milik sangkar emas segelintir elite.
- Bersuara sebagai Kesaksian. Ketika ketidakadilan terjadi dan kebudayaan dirusak, kami tidak akan memalingkan wajah. Karya-karya kami akan berdiri sebagai mata, telinga, dan kesaksian zaman.
- Kami tidak memusuhi rakyat yang matanya tertutup oleh ilusi kekuasaan, sebab tugas seniman adalah membuka kesadaran siapapun, dan bukan memupuk kebencian. Namun, kami menolak berdamai dengan fasisme dan kesewenang-wenangan.
Dari Bandung, kota yang pernah memercikkan api solidaritas bangsa-bangsa terjajah, Asia Afrika, kami menyerukan:
Rawat kebudayaan. Jaga kebebasan. Bela kemanusiaan. Jangan biarkan kesenian kehilangan taring dan keberpihakannya.
Bandung, 2026
*
Ketua Aliansi Bandung Ngagoak, sekaligus Ketua Peksana Aksi ke-1, Doddi Ahmad Fauji, mengatakan aksi ini akan berkelanjutan, terjadwal, dan diharapkan menjadi agenda seting masyarakat Bandung Raya, bahkan nasional, karena panggung yang disediakan, terbuka untuk aneka kalangan, “Namun kami menolak keterlibatan para politikus, pejabat pemerintahan maupun aparat, karena garis demarkasi harus direntangkan dengan jelas dan tegas, bahwa yang paling banyak digedor adalah kalbu mereka. Namun untuk semua komunitas rakyat, asal memiliki maksud serupa, yaitu mengungkapkan keresahan bahkan merasakan dampak buruk pemerintahan yang lalu hingga berlanjut ke masa kini, kami membuka diri, bahkan mengajak untuk bergandengan tangan, bernegosiasi, bersinergi, untuk membangun solidaritas dan soliditas rakyat sebagai korban dari permainan segelintir elite politik dan oligarki.”
Aksi Estetik kedua direncanakan akan berlangsung hari Sabtu, 12 September 2026, di Kebun Seni teras BunBinBan (kebun Binatang Bandung). (ABN)
*
Foto-foto dan desain grafis: Galih Permana

































Discussion about this post