Portalnusa.id — Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi I Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sujanto, memaparkan pentingnya peningkatan literasi dan inklusi pasar modal di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan sosialisasi yang berlangsung di Aula Cakrabuana OJK Cirebon pada Senin (26/10).
Dalam pemaparannya, Sujanto mengungkapkan bahwa indeks literasi pasar modal nasional saat ini masih berada di angka 17,78%, sedangkan indeks inklusi atau akses terhadap produk pasar modal masih rendah di angka 1,34%. Angka ini dinilai masih sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga atau negara lain yang memiliki tingkat literasi jauh lebih tinggi.
Untuk mengakselerasi pertumbuhan tersebut, OJK telah meluncurkan program nasional bertajuk PINTAR yang diresmikan pada 27 April 2026 lalu oleh Menteri Airlangga Hartarto bersama Ketua Dewan Komisioner OJK.
“Program investasi PINTAR ini sebenarnya program nasional yang sudah dilaunching pada tanggal 27 April 2026 kemarin. Harapannya ini akan menyebar kepada banyak penduduk yang ada di Indonesia ini, termasuk nanti apakah pelajar, mahasiswa, pekerja, dan sebagainya,” ujar Sujanto di Aula Cakrabuana OJK Cirebon.
Dua Pilar Utama Program PINTAR
Program PINTAR dirancang untuk menjangkau berbagai kalangan melalui dua sub-program utama:
PINTAR Reksa Dana Umum:
Program investasi terencana dan berkala yang ditujukan bagi seluruh calon investor tanpa batasan usia, mencakup reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, hingga saham.
PINTAR Reksa Dana “Si Muda Investasiku”:
Program khusus yang menyasar generasi muda berusia 18 hingga 30 tahun guna membangun budaya investasi sejak dini.
“Nama programnya Si Muda Investasiku, yang memang secara khusus menyasar masyarakat muda berusia 18 hingga 30 tahun. Jalur ini merupakan wujud nyata komitmen OJK untuk membangun kebiasaan investasi sejak dini karena mereka adalah calon-calon investor yang sofistikated di masa depan,” jelasnya.
Perkembangan Investasi di Wilayah Ciayumajakuning
Sujanto juga memaparkan pertumbuhan aset investasi secara nasional yang kini telah mencapai Rp1.003 triliun, di mana sektor reksa dana menyumbang sekitar Rp637 triliun dengan jumlah investor mencapai 30,87 juta secara nasional (meningkat 60% dibanding tahun sebelumnya).
Khusus untuk wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan):
Jumlah investor reksa dana telah mencapai sekitar 750.000 investor, menyumbang 12% dari total investor di Provinsi Jawa Barat yang mencapai 6,2 juta orang.
Khusus Kota dan Kabupaten Cirebon, total investor mencapai 400.000 investor, dengan Cirebon dan Kuningan mencatatkan angka tertinggi hampir 270.000 investor.
Total kepemilikan aset reksa dana di Ciayumajakuning mencapai Rp1,37 triliun, di mana Kota dan Kabupaten Cirebon menyumbang hampir Rp1 triliun.
Untuk reksa dana syariah, terdapat sekitar 34.000 investor dengan nilai aset mencapai Rp378 miliar, yang sebagian besar didominasi oleh investor di bawah usia 30 tahun.
Pentingnya Prinsip “Legal dan Logis
Dalam kesempatan yang sama, Sujanto mengingatkan masyarakat agar senantiasa berhati-hati dalam memilih produk investasi dengan memegang prinsip 2L (Legal dan Logis).
“Legal dalam artian produk-produknya itu adalah legal, dikeluarkan produknya maupun yang mengeluarkan dan itu adalah mendapatkan izin dari otoritas tertentu dalam hal ini adalah OJK. Dan logis, imbal hasil yang diberikan itu juga logis, bisa diterima secara akal,” tegas Sujanto.
Ia mencontohkan bahwa investasi di reksa dana kini sangat terjangkau karena dapat dimulai dari nominal kecil, yakni Rp10.000, melalui berbagai platform aplikasi resmi yang menyediakan fitur investasi berkala (Systematic Investment Plan / SIP).
Sementara itu, Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib, mengajak warga negara yang memiliki “uang dingin” untuk berani masuk ke pasar modal sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menjaga ketahanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menurut Agus, langkah tersebut merupakan bentuk pemikiran yang out of the box dan berorientasi jauh ke depan dalam menghadapi kelesuan pasar.
”Kita justru meminta kepada rekan-rekan itu berpikir secara jauh ke depan, out of the box, bahwa kalau sistem saham kita ini memang lagi tertekan, dan upaya kita untuk membantu sebagai warga negara yang baik dan memiliki uang dingin, mulailah kemudian masuk di pasar modal supaya IHSG kita, bursa saham kita itu masih bisa bertahan dari kemerosotan dari IHSG itu sendiri,” ujar Agus.
Untuk memperkuat fundamental pasar dan kesadaran investasi jangka panjang, OJK Cirebon tidak berjalan sendiri. Pihaknya mengandalkan unsur pentahelix serta bersinergi dengan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan mitra kerja SRO Pasar Modal — seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), KPEI, dan KSEI.
Edukasi ini digencarkan hingga ke tingkat sekolah dan kampus di wilayah Ciayumajakuning, meniru langkah progresif negara tetangga.
”Seperti kita belajar dari Singapura, anak-anak SMA itu sudah diajarkan dibekali bagaimana bertransaksi di pasar modal,” jelasnya.
Melalui program yang berkesinambungan ini, OJK berharap literasi dan partisipasi aktif di pasar modal tidak hanya terbatas pada kalangan akademisi atau media saja, melainkan merata ke berbagai elemen masyarakat luas, termasuk komunitas perempuan dan pramuka.































Discussion about this post