Portalnusa.id — Pemerintah Kota Cirebon secara resmi membuka gelaran Festival Literasi Kota Cirebon Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Launching Donasi Buku untuk masyarakat pada Selasa (27/10).
Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan kolaborasi tersebut dan berharap gerakan literasi di Kota Cirebon dapat semakin masif.
“Alhamdulillah hari ini saya berkesempatan hadir untuk menyaksikan dan launching kegiatan Festival Literasi di Kota Cirebon, serta peluncuran donasi buku yang diberikan dari stakeholder-stakeholder untuk disampaikan kepada masyarakat,” ujar Siti Farida Rosmawati.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota juga menekankan pentingnya membangun budaya gemar membaca dan menulis, serta mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, literasi memiliki cakupan yang sangat luas dan mencakup berbagai bidang kehidupan.
“Ini menjadi bagian dari introspeksi diri saya juga, bagaimana cara gemar membaca, menulis, serta mengamalkannya yang paling penting—yaitu action-nya dalam segala hal ilmu pengetahuan yang didapat. Karena literasi ini sangat luas sekali; literasi menyampaikan bahwa semua bidang wajib dipelajari, dibaca, dipahami, dan diamalkan,” jelasnya.
Beliau mencontohkan bahwa literasi tidak hanya terbatas pada buku bacaan umum, tetapi juga mencakup literasi keuangan, literasi budaya, hingga literasi digital. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih peduli terhadap literasi guna mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kota Cirebon.
“Mari kita kudu aware pada literasi ini supaya lebih meningkat pertumbuhan SDM ini,” tegasnya.
Sementara itu, terkait dengan penilaian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Cirebon tahun 2026, saat ini masih dalam proses penilaian oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan hasilnya diperkirakan akan selesai pada bulan November mendatang.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Cirebon, Mastara, menjelaskan bahwa Festival Literasi merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di Kota Cirebon.
Upaya tersebut dilakukan melalui berbagai program dan inovasi yang mengacu pada amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Menurutnya, festival ini menjadi puncak dari serangkaian kegiatan literasi yang telah dilaksanakan sebelumnya.
“Festival ini merupakan puncak dari berbagai kegiatan literasi yang sebelumnya telah kami laksanakan, sebagai upaya meningkatkan indeks pembangunan literasi masyarakat dan tingkat kegemaran membaca,” ungkap Mastara.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Dispusip Kota Cirebon telah menyelenggarakan berbagai kegiatan yang melibatkan pelajar dan masyarakat. Di antaranya lomba resensi buku, lomba mendongeng bagi siswa sekolah dasar, serta bimbingan teknis literasi informasi.
Kegiatan-kegiatan ini tidak hanya mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan buku, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan menyampaikan gagasan.
“Melalui lomba mendongeng, misalnya, anak-anak didorong untuk membaca dan memahami cerita terlebih dahulu, kemudian menuangkannya kembali melalui kemampuan bercerita. Dengan begitu, kegiatan ini tidak hanya melatih keberanian, tetapi juga menumbuhkan minat baca,” jelasnya.
Selain menumbuhkan minat baca, penguatan kemampuan masyarakat dalam memahami dan memilah informasi juga menjadi perhatian Dispusip Kota Cirebon.
Hal ini dinilai semakin penting seiring dengan perkembangan teknologi digital yang membuat informasi dapat diakses dengan cepat, tetapi tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Karena itu, literasi informasi perlu terus diperkuat agar masyarakat lebih cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi.
“Informasi sekarang sangat mudah diperoleh dan perkembangannya begitu dinamis. Karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menilai dan menyaring informasi agar tidak mudah menerima berita yang belum tentu benar,” kata Mastara.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Festival Literasi Kota Cirebon yang berlangsung pada 27–29 Oktober 2026 menghadirkan beragam kegiatan edukatif dan kreatif.
Mulai dari talkshow, lomba menggambar, bedah buku, hingga pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui rangkaian kegiatan ini, festival diharapkan tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan ketertarikan terhadap buku, tetapi juga membuka ruang interaksi, pertukaran gagasan, dan pengembangan potensi masyarakat.
“Kami ingin festival ini menjadi ruang bersama untuk menumbuhkan kreativitas dan mendekatkan masyarakat dengan dunia literasi. Harapannya, kegiatan ini bisa memberikan manfaat yang berkelanjutan, bukan hanya selama festival berlangsung,” tuturnya.
Lebih jauh, Mastara menekankan bahwa peningkatan budaya literasi perlu dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, kegiatan festival akan memberikan dampak lebih besar apabila semangat membaca yang tumbuh selama acara dapat diteruskan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai salah satu bentuk penerapan, Dispusip Kota Cirebon membiasakan pegawainya membaca buku minimal dua halaman setiap hari setelah apel pagi.
“Awalnya mungkin terasa berat karena belum terbiasa. Namun, kalau dilakukan secara rutin, membaca akan menjadi kebiasaan. Kami berharap semangat ini juga tumbuh di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat luas,” pungkasnya.
































Discussion about this post