Portalnusa.id – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Kota Cirebon menjadi momentum evaluasi penting terhadap pola pengasuhan dalam keluarga. Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, S.A.P., M.Si., menekankan bahwa sosok ayah memiliki peran vital yang jauh melebihi sekadar pencari nafkah materi.
Hal tersebut disampaikan Effendi Edo saat membuka Peringatan Harganas ke-33 dan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tingkat Kota Cirebon yang berlangsung di kantor DPPPAP2KB Kota Cirebon, Rabu (29/7/2026). Mengangkat tema “Ayah Wajib Hadir”, ia mengingatkan pentingnya ikatan emosional dan kehadiran fisik maupun psikologis ayah di rumah.
“Kehadiran ayah tidak bisa lagi direduksi hanya pada fungsi ekonomi atau pencari nafkah semata. Ayah dituntut hadir secara psikologis dan sosial untuk memberikan fondasi karakter bagi anak,” ujar Wali Kota Effendi Edo di hadapan para undangan dan kader keluarga.
Menurutnya, berbagai program perlindungan anak yang digulirkan pemerintah tidak akan membuahkan hasil maksimal jika tidak didukung oleh penguatan di tingkat keluarga.
“Intervensi kebijakan perlindungan anak dan ketahanan keluarga yang digagas pemerintah tidak akan optimal jika peran ini diabaikan oleh unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga itu sendiri,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, M.Si., menegaskan bahwa peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-31 dan Hari Anak Nasional ke-41 bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan, melainkan momen penting untuk memperkuat peran keluarga dalam mencetak generasi penerus bangsa.
Dalam sambutannya, Dr. Dadi menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berada dalam jendela peluang historis berupa bonus demografi. Momentum ini menjadi peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional jika dikelola dengan baik mulai dari tingkat keluarga.
Namun, sejumlah tantangan masih harus dihadapi bersama, salah satunya angka prevalensi stunting. Meski mengalami penurunan secara persentase, angka absolut kasus stunting di Jawa Barat masih relatif tinggi. Di wilayah Indramayu, angka stunting tercatat mendekati 18%, sementara di Cirebon berada di kisaran 17%.
Untuk mencegah lahirnya kasus stunting baru, Dr. Dadi menekankan pentingnya pengawasan dan pendampingan sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pendekatan ini dinilai krusial agar tumbuh kembang anak terkelola dengan optimal sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.
Selain aspek fisik, perhatian juga diberikan pada pengawasan penggunaan gawai (gadget) pada anak. Di era digital, gawai sering kali menjadi “anggota keluarga baru” yang dapat mengurangi interaksi langsung antara orang tua dan anak. Penggunaan yang tidak terawasi berpotensi mendekatkan anak pada ancaman kejahatan di dunia maya.
Menyesuaikan dengan tema Harganas tahun ini, yaitu “Ayah Dampingi”, Dr. Dadi menyoroti fenomena fatherlessness (kehilangan sosok/peran ayah). Di Jawa Barat, sekitar 29,5% anak diperkirakan mengalami kondisi ini—artinya hampir 3 dari 10 anak kehilangan kehadiran sosok ayah secara emosional maupun keterlibatan pengasuhan, bukan semata karena ketidakhadiran secara fisik.
”Bukan berarti ayahnya tidak ada secara fisik, tetapi kurang memberikan perhatian dan pengawasan terhadap tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Untuk mendukung para orang tua yang bekerja, BKKBN menghadirkan program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak) melalui peningkatan kualitas tempat penitipan anak (TPA). Program ini memfokuskan pada standar pola pengasuhan, kesehatan, serta konsep parenting yang terintegrasi.
Di akhir sambutannya, Dr. Dadi mengimbau seluruh pihak untuk merapatkan barisan dan menyatukan langkah demi memperkuat peran keluarga sebagai pondasi utama pembangunan bangsa.
































Discussion about this post