Portalnusa.id – Langit biru di Desa Pucuk, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Cirebon menjadi saksi perkembangan Perkebunan Kopi Bontanika sampai saat ini yang pemasarannya sudah mendunia.
Pengelola Perekebunan Kopi Bontanika, Robi, sangat lugas saat diminta untuk bercerita asal-usul Perkebunan Kopi Bontanika.
Hal ini Robi ceritakan, saat Perkebunan Kopi Bontanika kedatangan rombongan insan pers dan Bank Indonesia (BI) Cirebon yang dipimpin Kepala Perwakilan (KPw) BI Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis.
“Sebetulnya untuk berkebun di sini kita berawal dari tahun 2000-an. Nah, dari tahun 2000-an dan kita sekarang melanjutkan di tahun 2022 sampai sekarang,”ungkap Robi, Kamis (10/9).
Pada momen ini, selain puluhan jurnalis yang serius mendengarkan penjelasan Robi, Wihujeng Ayu Rengganis pun yang tidak jauh dari Robi, sangat tertegun dengan cerita Robi.
“Nah, untuk perluasan lahan, kita untuk penanaman pertama ada di 10.000 pohon dengan area di 16 hektar. Dan untuk mitra petani, kita sama mitra petani itu hampir 25 hektar,”ungkap Robi
Dengan cuaca yang masih terasa dingin, padahal saat itu, jam di handphone sudah menunjukkan pukul 10.00 siang. Kabut tebal di langit Desa Pucuk pun masih terlihat. Namun bagi Robi yang Akamsi (Anak Kampung Sini) terlihat tidak seperti kedinginan.
Robi kembali melanjutkan ceritanya, setiap tahunya Perkebunan Kopi Bontanika menghasilkan 20 sampai 25 ton. Tentunya hasil tersebut tidak terlepas dari campur tangan para petani kopi di Bontanika Kopi.
Robi menyampaikan, bahwa perkembangan Perkebunan Bontanika terus mengalami peningkatan. Termasuk ketersedian jenis kopi di Bontanika.
“Untuk jenis kopinya kita ada Arabika, Robusta, dan untuk Liberika kita masih tahap pengembangan,”jelas Robi.
Dari ketiga jenis kopi yang disebutkan Robi, jenis kopi Arabika dipuncuk pertama yang paling banyak diantara dua jenis kopi lainnya.
“Untuk dominasi kita hampir 70% jenis Arabika,”jelasnya.
Selepas wawancara Robi mengajak rombongan ke perkebunan kopi. Perjalanan menuju perkebunan kopi harus dilakukan dengan jalan kaki, melewati bebatuan dan jalur yang menanjak tidak membuat mereka merasa lelah untuk mendokumentasikan setiap langkah.
Sambil berjalan menjadi pemandu, Robi kembali menceritakan, sebelum saat ini hanya ada 5 -10 petani kopi yang tergabung di Bontanika Kopi.
“Awal-awal ya memang dari 5 sampai 10 orang. Alhamdulillah kita untuk tahun ke tahun kita lebih meningkat lagi. Sampai sekarang ini sudah ada 30 petani kopi,”katanya.
Hasil dari usaha petani kopi, termasuk Robi, sangat menggiurkan, termasuk penghasilannya yang menjamin, belum lagi pengiriman kopi Bontanika Kopi ini seluruh provinsi di Indonesia. Bahkan mendunia.
“Kemarin kebetulan baru ke Thailand, terus Jepang, terus ada sebagian teman kita masuk ke Amerika,”katanya.
Robi terlihat sangat semangat menjelaskan setiap perkembangan Bontanika Kopi, hingga apa menjadi pembeda kopi hasil Bontanika dengan yang lainnya.
“Untuk spesialnya ya kita di sini ya untuk cenderung kopinya lebih manis, smooth, ya untuk ke buahnya juga lebih ada gitu. Untuk ke buahnya, untuk ke fruity-nya gitu kan, untuk cenderung gaya Arabika utamanya,”katanya yang juga Anggota Buana Ciremai.
Tak terasa perjalanan di perkebunan kopi Bontanika sudah jauh, sambil mendengarkan penjalasan dari robi, rasa pegel di kaki seolah tidak terasa.
Di tengah perjalanan, Robi di depan KPw BI Cirebon Wihujeung Ayu Rengganis, menyampaikan terima kasih atas peran BI dalam membina Bontanika Kopi dari tahun 2023 sampai sekarang.
“Ya untuk BI juga untuk sistem pemasaran alhamdulillah membantu juga gitu. Karena tiap-tiap event kita selalu diajak gitu. Kebetulan teman juga kemarin kan sampai diajak ke Bangkok untuk pemasaran,”kata Robi yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani Pasir Tengah.
Sepanjang perjalanan di perkebunan kopi Bontanika, tak mau kalah dengan rombongan jurnalis, Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Cirebon Wihujeung Ayu Rengganis sangat takjub dapat melihat dan memegang langsung pohon-pohon kopi yang sudah berbuah.
Di balik sejuknya udara lereng Gunung Ciremai, kawasan Palutungan, Kuningan, menyimpan surga kecil bagi para pecinta kopi. BotaniKa Kopi hadir bukan sekadar sebagai tempat nongkrong, melainkan ruang untuk merayakan cita rasa lokal kopi asli Kuningan yang berkarakter.
Sambil menikmati pemandangan hijau yang membentang, pengunjung disuguhkan seduhan kopi lokal berkualitas. Kehadiran varietas kopi khas daerah ini menjadi bukti bahwa potensi komoditas lokal mampu bersaing dan menjadi daya tarik pariwisata yang kuat di wilayah Ciayumajakuning.
Dukungan terhadap pengembangan potensi kopi lokal ini juga terus didorong oleh Bank Indonesia. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon, Wihujeng Ayu Rengganis, menyampaikan apresiasi serta harapannya terhadap potensi besar yang dimiliki kopi Kuningan.
“Kopi dari Kuningan ini memiliki cita rasa yang sangat khas dan berpotensi besar untuk terus dikembangkan, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga hingga tembus ke pasar global,” ujar Wihujeng Ayu Rengganis.
Dengan perpaduan suasana alam yang asri, serta dorongan dari berbagai pihak, Botanika Kopi dan kopi khas Kuningan kini siap melangkah lebih jauh untuk memanjakan lidah para penikmat kopi dari berbagai penjuru.































Discussion about this post