Oleh: Hendy Wijaya*
Seorang kawanku, sebut saja si A, pernah mengeluh bahwa ia diperlakukan tidak adil oleh rekan kerjanya. Pasalnya, ia hanya dihargai murah untuk proyek kerja yang dilimpahkan kepadanya. Padahal, ia sedari awal malah sudah berencana bekerja gratisan sebagai bentuk ketulusan seorang kawan. Lah? Anda bingung? Kerja gratis mau, tapi dibayar kok malah ogah?
Kejadian semacam ini pasti sering Anda dengar, atau malah Anda alami sendiri, di mana seseorang justru lebih memilih tidak dibayar sama sekali atas jerih payahnya daripada dibayar murah.
Sekarang aku akan coba melakukan sedikit eksperimen kepada para pembaca postingan ini. Maukah Anda terima uang satu juta rupiah secara cuma-cuma sekarang? Hampir pasti Anda mau. Enak to? Anda tidak ngapa-ngapain eh dapat uang satu juta rupiah. Hanya orang gendeng yang tidak mau.
Bagaimana kalau skenarionya saya ubah sedikit. Alih-alih saya berikan uang satu juta rupiah itu kepada Anda secara langsung, saya tawari orang di samping Anda uang sepuluh juta. Dia boleh menyimpan uang itu dengan catatan ia harus mau berbagi kepada Anda berpapun yang dia mau. Bagaimana kalau seandainya dia hanya membagikan 10% dari 10 juta itu kepada Anda dan menyimpan 90% sisanya? Kemungkinan besar Anda tidak akan suka dengan skenario itu, kendati jumlah uang yang Anda terima sama persis dengan skenario pertama dan Anda sama-sama mendapatkannya secara cuma-cuma.
Eksperimen seperti di atas sudah pernah dilakukan berulang kali oleh para pakar ilmu perilaku dan dikenal dengan istilah “ultimatum game”. Hasilnya selalu konsisten, orang umumnya menolak mendapatkan upah yang lebih rendah dengan orang lain bahkan ketika upah itu diberikan cuma-cuma. Perilaku unik yang tampaknya hanya dijumpai pada spesies manusia. Primata lain, seperti simpanse misalnya, tidak peduli seberapa banyak individu lain dalam kelompoknya mendapat pisang, yang penting dirinya sendiri mendapatkan pisang itu.
Perilaku manusia seperti di atas membuktikan bahwa ada semacam “sense of fairness” dalam otak kita yang dibawa sejak lahir. Bagian otak yang bertanggungjawan terhadap “sense of fairness” atau “rasa keadilan” ini seandainya teraktivasi akan mengirimkan sinyal hambatan ke bagian otak lain supaya menolak upah yang bakal didapatkan seandainya upah itu dinilai tidak sepadan dengan usaha yang telah dikeluarkan. Tak mendapatkan apa-apa tampaknya terasa lebih mulia daripada merasa ‘murahan’.
Sementara di kutubnya yang ekstrim, manusia bukan hanya menolak upah yang menurutnya tidak adil, namun bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri demi menghukum siapapun yang dinilai berlaku tidak adil, curang, atau tidak jujur. Dua orang pakar ilmu perilaku dan ekonomi dari Swiss, Ernst Fehr dan Simon Gächter pada tahun 2002 pernah merancang sebuah eksperimen untuk membuktikan hal itu.
Fehr dan Gächter mengumpulkan sejumlah subyek dewasa, memberikan mereka sejumlah koin yang bisa dikonversi menjadi sejumlah uang. Mereka diminta untuk memasukkan koin itu ke dalam sebuah pot. Di akhir ronde, jumlah koin yang terkumpul di dalam pot akan diuangkan lalu uangnya dibagi rata ke seluruh subyek. Tidak ada aturan tentang berapa jumlah koin yang harus dimasukkan ke dalam pot oleh masing-masing subyek. Subyek bisa saja menyumbangkan semua koinnya, sebagian, atau bahkan tidak sama sekali. Memang strategi yang paling menguntungkan bagi keseluruhan kelompok adalah apabila masing-masing subyek bersepakat memyumbangkan koinnya sama rata, namun tidak semua subyek berpikiran sama. Ada di kalangan subyek yang tidak ingin menyumbangkan apa-apa tapi ingin numpang laba dari koin subyek lain. Mereka disebut dengan kaum “freeloader”, ‘freerider”, benalu atau pengemplang.
Nah yang menarik, ada ‘plot twist’ yang disediakan oleh Fehr dan Gächter. Ketika satu ronde selesai, Fehr dan Gächter mengumumkan siapa menyumbang berapa dan siapa saja yang berlaku sebagai benalu. Kini, Fehr dan Gächter memberikan piliihan pada mereka yang telah menyumbang, apakah mereka akan membiarkan para benalu ini atau menghukum mereka dengan cara memberikan denda. Mereka yang memilih memberikan denda kepada para benalu harus menyerahkan uangnya sendiri. Jadi ada dua opsi bagi subyek jujur, mereka bisa memilih membiarkan benalu tapi uangnya sendiri utuh, atau menghukum denda para benalu sementara uangnya sendiri habis.
Secara statistik, ternyata subyek lebih memilih untuk menghukum para benalu meski harus berkorban. Lagi-lagi ‘sense of fairness’ bekerja di dalam otak mereka. Orang lebih memilih sama-sama tidak mendapatkan apa-apa daripada melihat tetangganya lebih kaya padahal sama-sama nganggur.
Eksperimen-eksperimen di atas tampaknya menjelaskan mengapa orang dengan ‘senang hati’ meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan uangnya untuk menghujat, menghukum, atau membully para bos lembaga amal yang hidup bergelimang harta. Perilaku para bos itu mengusik ‘sense of fairness’ dalam otak kita semua. Bagi kita, mereka adalah ‘freeloader’ atau ‘freerider’ yang posisinya setara dengan para pengemplang pajak.
Sense of fairness adalah salah satu elemen penting yang ikut menjamin perilaku kooperatif individu dalam kehidupan sosial kelompok namun juga menjamin individu yang bersangkutan tidak jatuh ke dalam interaksi yang sifatnya eksploitatif.
Hendy Wijaya: Takeda Research Fellow at Diabetes and Endocrinology Laboratory di Kobe University. University Lecturer di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan Clinical Research Consultant di PT. Lautan Natural Krimerindo (LNK)





































Discussion about this post