• Latest
Mahasiswa Sekarang Adalah Puisi Yang Minder Di Atas Cinta

Mahasiswa Sekarang Adalah Puisi Yang Minder Di Atas Cinta

27 May 2022
Pemkot Cirebon Matangkan Rencana WFH Bagi ASN, Berlaku Mulai Jumat Depan

Pemkot Cirebon Matangkan Rencana WFH Bagi ASN, Berlaku Mulai Jumat Depan

1 April 2026
Kasus Dugaan Pengeroyokan Ibu Hamil di Pekanbaru Memanas, Kuasa Hukum Beri Ultimatum 7 Hari

Kasus Dugaan Pengeroyokan Ibu Hamil di Pekanbaru Memanas, Kuasa Hukum Beri Ultimatum 7 Hari

31 March 2026
ADVERTISEMENT
Warga Cirebon Serbu SPBU Jelang Kenaikan Harga BBM per 1 April

Warga Cirebon Serbu SPBU Jelang Kenaikan Harga BBM per 1 April

31 March 2026
Danramil Astanajapura Tinjau Pembangunan KDMP Rawaurip

Danramil Astanajapura Tinjau Pembangunan KDMP Rawaurip

31 March 2026
Efendi Edo Serahkan SK dan Ambil Sumpah Ratusan ASN Pemkot Cirebon

Efendi Edo Serahkan SK dan Ambil Sumpah Ratusan ASN Pemkot Cirebon

31 March 2026
Atasi Sampah Liar 100 Meter di Jalur Pelayangan, Camat Ciledug Ancam Sanksi Denda

Atasi Sampah Liar 100 Meter di Jalur Pelayangan, Camat Ciledug Ancam Sanksi Denda

31 March 2026
Rencana KBM Lima Hari di SD Kota Cirebon, Disdik Masih Tunggu Regulasi Pusat

Rencana KBM Lima Hari di SD Kota Cirebon, Disdik Masih Tunggu Regulasi Pusat

31 March 2026
Dari Urus Parkir Jadi Urus KTP. Andi Armawan Kini Nakhodai Disdukcapil Kota Cirebon

Dari Urus Parkir Jadi Urus KTP. Andi Armawan Kini Nakhodai Disdukcapil Kota Cirebon

31 March 2026
Perkuat Sinergi Pembangunan, Pemdes Sumber Kidul Gelar Halalbihalal Pasca-Lebaran

Perkuat Sinergi Pembangunan, Pemdes Sumber Kidul Gelar Halalbihalal Pasca-Lebaran

30 March 2026
Perkuat Sinergi di Gedung Sate, Wawali Cirebon Tekankan Pembangunan Berbasis Kebutuhan Riil Masyarakat

Perkuat Sinergi di Gedung Sate, Wawali Cirebon Tekankan Pembangunan Berbasis Kebutuhan Riil Masyarakat

30 March 2026
Gelar Haul Ki Gede Mundu, Warga Mundupesisir Pererat Silaturahmi dan Jaga Tradisi Cagar Budaya

Gelar Haul Ki Gede Mundu, Warga Mundupesisir Pererat Silaturahmi dan Jaga Tradisi Cagar Budaya

30 March 2026
Kejar Target WTP Lagi, Pemkot Cirebon Resmi Serahkan LKPD 2025 ke BPK Jabar

Kejar Target WTP Lagi, Pemkot Cirebon Resmi Serahkan LKPD 2025 ke BPK Jabar

30 March 2026
  • Tentang Kami
  • Personalia
  • Kontak Kami
  • Iklan
Thursday, April 2 2026
  • Login
  • Register
portalnusa.id
Advertisement
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G: Bawa “Awesome Intelligence” ke Segmen Menengah

    Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G: Bawa “Awesome Intelligence” ke Segmen Menengah

    IKADA UNJ Gelar Webinar Motivasi Ramadhan, Tekankan Spiritualitas sebagai Pondasi Kebangsaan

    IKADA UNJ Gelar Webinar Motivasi Ramadhan, Tekankan Spiritualitas sebagai Pondasi Kebangsaan

    Antusiasme Tinggi, BI Cirebon Siapkan Rp3,89 Triliun Uang Baru untuk Lebaran 2026

    PT. Chinli Gelar Donasi Sembako di Desa Damarguna

    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • All
    • Esai
    • Prosa
    • Puisi

    Majelis Seni dan Tradisi Desak Pemerintah Beri Penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Ayip Muh

    Wisuda ke-76 UGJ: 30% Lulusan Langsung Terserap Dunia Kerja Nasional dan Internasional

    Festival Literasi Tingkatkan Daya Baca Masyarakat

    Deklarasi Dukungan KH. Abas Buntet Jadi Pahlawan Nasional Menggema di Bukit Maneungteung

    SMK Muhammadiyah Lemahabang Kembali Jadi Rujukan Studi Banding Sekolah Binaan Yamaha.

    Mantan Dirut BUMD Pandji Amiarsa Dilantik Jadi Dekan FH Untag. Bawa Misi Perubahan

    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G: Bawa “Awesome Intelligence” ke Segmen Menengah

    Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G: Bawa “Awesome Intelligence” ke Segmen Menengah

    IKADA UNJ Gelar Webinar Motivasi Ramadhan, Tekankan Spiritualitas sebagai Pondasi Kebangsaan

    IKADA UNJ Gelar Webinar Motivasi Ramadhan, Tekankan Spiritualitas sebagai Pondasi Kebangsaan

    Antusiasme Tinggi, BI Cirebon Siapkan Rp3,89 Triliun Uang Baru untuk Lebaran 2026

    PT. Chinli Gelar Donasi Sembako di Desa Damarguna

    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • All
    • Esai
    • Prosa
    • Puisi

    Majelis Seni dan Tradisi Desak Pemerintah Beri Penghargaan untuk Mayor Tan Tjin Kie dan Ayip Muh

    Wisuda ke-76 UGJ: 30% Lulusan Langsung Terserap Dunia Kerja Nasional dan Internasional

    Festival Literasi Tingkatkan Daya Baca Masyarakat

    Deklarasi Dukungan KH. Abas Buntet Jadi Pahlawan Nasional Menggema di Bukit Maneungteung

    SMK Muhammadiyah Lemahabang Kembali Jadi Rujukan Studi Banding Sekolah Binaan Yamaha.

    Mantan Dirut BUMD Pandji Amiarsa Dilantik Jadi Dekan FH Untag. Bawa Misi Perubahan

    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
No Result
View All Result
portalnusa.id
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
  • Sastra
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan
Home Opini

Mahasiswa Sekarang Adalah Puisi Yang Minder Di Atas Cinta

Redaksi PortalNusa by Redaksi PortalNusa
27 May 2022
in Opini
0
Share on FacebookShare on WhatsAppShare on Twitter

Arip Senjaya

Sudah lama saya dengar cerita dari orang-orang yang pernah mengalami langsung bahwa ada keluarga-keluarga di Jawa yang membebaskan anggota-anggota keluarganya dalam memilih agama sebagaimana negara sendiri membebaskan rakyatnya untuk memilih agama apa pun. Semua agama itu baik. Keluarga-keluarga tersebut—seperti negara ini—seakan tidak ikut campur dalam urusan kebebasan beragama. Itu benar-benar pilihan bebas.

Lantas saya bertanya-tanya kepada diri sendiri apakah keluarga-keluarga ini, juga negara ini, mengizinkan siapa pun untuk menentukan metode penelitian sastra dengan bebas?

Kadang-kadang saya mendengar—entah benar entah tidak—bahwa di kampus tertentu di zaman saya kuliah S1 dulu para mahasiswa tidak boleh meneliti sastra berisi pemikiran kiri. Kiri itu apa, jangankan mahasiswa, banyak dosen pun tidak tahu kecuali mencurigai istilah tersebut, tanpa pernah ada kajian-kajian ilmiah bidang ini.

Mungkin “kiri” itu Rusia karena berada di sebelah kiri Eropa dan juga disebabkan Amerika yang kita sebut “Barat”, dan Rusia adalah komunis, dan komunis itu anti-Tuhan, antiagama. Tapi jika itu diserap dari bahasa Inggris left tentu dalam bahasa aslinya ia tidak bermakna negatif, sedangkan di negara kita kanan itu selalu bermakna kebaikan dan kiri itu selalu bermakna keburukan. Bersalaman dengan tangan kanan, makan dengan tangan kanan, menulis sebaiknya dengan kanan, hormat dengan tangan kanan, memberi uang dengan tangan kanan, menunjuk sesuatu dengan tangan kanan; tapi cebok dengan tangan kiri, dan segala hal yang semestinya kita kerjakan dengan tangan kanan lalu dilakukan dengan tangan kiri akan disebut tidak etis, tidak bermoral, tidak baik, negatif.

Cebok dengan tangan kanan akhirnya disebut jorok. Bukan ceboknya, tapi kanan itu terhormat.
Jadi, istilah “kiri” itu istilah yang belum apa-apa sudah bermuatan negatif karena berkaitan dengan budaya kita sendiri memahami kata tersebut. Jika kita mengenangkan puisi “Kampung” Subagio Sastrowardoyo, tampaknya apa yang dikatakan Subagio sebagai Di mana curiga lebih mendalam dari cinta dan percaya itu benar-benar nyata dalam tradisi memahami istilah di lembaga-lembaga akademik.

Mencurigai apa pun tanpa mempelajarinya dalam hemat saya malah kampungan, terlebih jika hal ini terjadi di lembaga-lembaga akademik.
Tapi memang kenyataannya begitu. Dalam puisi tersebut Subagio bilang bahwa:
…
hawa di sini sudah pengap oleh
pikiran-pikiran beku

Hidup di negeri ini seperti di dalam kampung
di mana setiap orang ingin bikin peraturan
…
Di mana setiap orang ingin bersuara
dan berbincang tentang susila, politik dan agama
seperti soal-soal yang dikuasai

Maka barang siapa di masa Reformasi masih saja pencuriga, sungguh ia termasuk dalam kelompok manusia kampungan Orde Baru, tak peduli itu dosen, tak peduli itu guru, tak peduli itu mahasiswa, tak peduli itu pengarang, tak peduli itu agamawan, tak peduli itu aktivis, tak peduli itu rektor kampus ternama.

Masa awal Reformasi

Nah, mari kita bicara tentang seorang aktivis yang paling saya kenali. Namanya Dadan Saputra. Di masa Orba itu belum lama tumbang, ia ternyata harus mengganti skripsinya dengan skripsi baru karena ia ketahuan menggunakan pendekatan Kritik Sastra Marxis. Itu artinya, pilihan ilmu jauh lebih tidak bebas daripada pilihan agama sebagaimana yang di bagian awal sekali saya contohkan, ilmu ternyata lebih sakral dan lebih ketat daripada agama, ilmu jauh lebih bercokol daripada Orde Baru itu sendiri. Pilihan ilmu seakan mengandung konsekuensi bahaya bagi negara, kemanusiaan, ketuhanan, secara serempak tetapi pilihan agama tidak. Saya sampai sering berpikir jangan-jangan cara kita beragama itu tidak menyadari agama sebagai ilmu! Kalau pilihan agama bebas, kenapa pilihan ilmu tidak? Benarkah negara mengatur para dosen pembimbing agar membuat batas-batas bagi kebebasan akademik mahasiswa atau dosen-dosen macam itu berimajinasi tentang batasan-batasan tersebut?

Dalam kasus Dadan, mungkin karena dosen pembimbingnya masih produk Orba, sehingga kita mungkin bisa mengatakan mereka belum move on dari mentalitas Orba itu sendiri. Mereka memasuki Reformasi dengan mental Orba. Bahwa sekarang ternyata masih juga ada dosen-dosen macam itu, bahkan rektor-rektornya pun beberapa macam itu, problem kita berarti bukan Orba atau bukan Orba, tetapi kampungan atau tidak kampungan, sehingga kita harus kembali membenarkan puisi “Kampung” Subagio saja.

Lagi pula, kalau kita kembali kepada isu sastra kiri tadi, memang begitu banyak produk sastra yang kekiri-kirian, disadari atau tidak oleh pengarangnya. Karenanya pilihan Dadan tepat jika memakai pendekatan Marxis untuk membicarakan sastra yang mengandung semangat kiri. Cara pandang Marxis juga bisa berlaku pada produk-produk sastra yang berlawanan dengan semangat kiri sehingga produk riset menjadi kritik terhadapnya.

Namun sayang sekali di masa awal Reformasi itu sastra kiri seakan suatu sastra haram (tapi sastra yang bertolak belakang dengan semangat kiri tidak disebut sastra halal). Sastra kiri seakan atheis dan atheisme itu suatu problem moral yang menghantui lembaga akademik sebagai representasi negara. Padahal tentu saja peneliti muda tingkat skripsi macam Dadan Saputra saat itu boleh jadi jauh lebih beragama daripada dosen pembimbingnya sendiri, dan kalaupun tidak tetap harus dihargai selaku anak muda yang sedang mencari kebenaran. Secara kebetulan saya mengenal Dadan dan ia tak pernah meninggalkan ibadah-ibadah wajibnya, bahkan ia sering juga mengerjakan ibadah sunat seperti puasa sunat Senin-Kamis. Ia bisa dipercaya dan karenanya ribuan mahasiswa mengikuti dia turun ke jalan di minggu-minggu penting penggulingan Rezim Bapak Pembangunan itu.

Menurut saya pilihan ilmu tidak harus sama dengan pilihan agama sehingga ideologi seseorang tidak identik dengan agama atau ilmunya juga. Mungkin yang terjadi dalam kasus Dadan adalah suatu asimilasi spiritual: Marxisme di satu sisi dan Islam di sisi lainnya memang beririsan dalam hal-hal tertentu sehingga pilihan pendekatan Kritik Sastra Marxis adalah kebebasan ideologis dalam arti asimilasi tersebut. Bukankah orang-orang Indonesia sudah sejak lama pandai melakukan asimilasi dalam berbagai hal? Agama, seni, budaya, filsafat, pendidikan, segalanya merupakan hasil-hasil asimilasi, tidak ada lagi yang murni, atau mungkin juga disebut hasil-hasil dialektika.
Berkaca pada contoh pengalaman Dadan, pada saat itu saya sering berpikir jangan-jangan negara adalah pembimbing utama sebenarnya para mahasiswa. Mana ada di zaman kami orang bisa bebas membaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer. Jangankan meneliti, membaca pun terasa haram bagai haramnya menghirup heroin. Dan ketika Reformasi kami masuki, keadaan belum benar-benar berubah. Yang kemudian menjadi otoritas memang bukan lagi simbol macam Presiden, tetapi moral berbulu ilmu! Dan moral itu sendiri tak lebih dari standar nilai sepihak pembimbing yang “mengatasnamakan negara”—sadar atau tidak—dan seakan-akan itulah ilmu, padahal benar-benar moral dan sebagai moral itu adalah moral kampungan.

Moral yang tidak kampungan tentu melalui tahapan pengkajian dan tidak berlaku sepihak.
Apa buktinya? Di masa yang sudah seharusnya kita mencicipi kebebasan akademik, malah skripsi-skripsi itu benjadi bangun datar, tidak terlihat grafik peningkatan kebebasan mahasiswa dalam memahami dunia. Buku-buku Pramoedya kini dapat dimiliki dengan bebas, tapi mereka sedikit saja yang membacanya. Prestasi akademik lalu dinyatakan dengan nilai IPK (Indeks Prestasi Akademik). Sungguh, nilai IPK itu omong-kosong, tak lebih dari simbol untuk keberhasilan yang tidak menunjukkan kebebasan sama sekali.

Nilai IPK yang baik dapat dimiliki dengan mudah saja: jangan sering bolos kuliah, dan katakan “maaf” jika terlambat masuk, titipkan tanda tangan kepada kawan jika terpaksa bolos; kerjakan tugas-tugas dan ujian pada waktu yang sudah ditetapkan; skripsi kerjakan dengan cepat, cepat itu prestasi; kalau perlu dekati dosen dengan lebih akrab; kalau perlu bawa hadiah-hadiah untuk dosen; intinya mahasiswa bisa bersandiwara untuk semua itu. Banyak juga dosen yang tahu dengan sandiwara-sandiwara moral itu, tapi mereka suka kok menonton sandiwara. Banyak dari mereka itu yang akan merasa seakan tamu kehormatan di sebuah gedung kesenian dusta kedisiplinan.

Kenapa di zaman saya banyak orang kuliah S1 hingga enam atau tujuh tahun? Karena ilmu itu bukan bangun datar, tapi sebuah dimensi yang membutuhkan ruang dan waktu untuk menyetel setiap sisinya agar tidak terlalu condong sana-condong sini. Mereka yang lama kuliah dan pembaca serius memang sering ada dalam kelabilan ruang, seakan setiap bagian yang dibacanya menjadi sudut baru, garis baru, lekukan baru, patahan baru, yang sulit ia kontrol sendiri, sehingga ia perlu waktu dan waktu. Tujuh tahun S1 pun rasanya belum cukup!

Kenapa di zaman sekarang prestasi akademik itu ukurannya cepat lulus? Karena ilmu tidak lagi labil, ilmu telah tegak sebagai segitiga sama sisi, segi empat yang presisi, lingkaran yang sempurna. Masya Allah!

Ketika ilmu dibiarkan dalam dirinya sendiri dan mahasiswa menghamba kepadanya, sudah jadilah ia agama yang lebih agama daripada agama-agama itu sendiri. Mahasiswa muslim yang saya kenal boleh tidak taat beribadah menurut selera masing-masing—kadang solat kadang tidak, puasa wajib dibatalkan alasan apa saja, tapi mereka tak akan sanggup melawan teori dan metode yang mereka tetapkan sendiri dan atas dukungan dosen pembimbingnya. Ilmu telah menjadi Tuhan yang paling menakutkan mereka.

Masuk akal kiranya di zaman saya ada gelombang demostrasi Reformasi yang akbar itu, karena ada geliat kebebasan akademik yang tidak mendapat tempat di dalam kelas sehingga ditransformasi ke arah kebebasan berpendapat. Jalan raya adalah mimbar akademik yang sebenarnya ketika ruang-ruang kelas di kampus-kampus kami berisi moral-moral sakral sepihak saja. Tidak mungkin sekarang ada demonstrasi besar-besaran lagi karena mahasiswa tidak belajar kebebasan dalam ilmu, tidak ada “ideologi-asimilatif-dialektik” macam Dadan Saputra yang saya contohkan di atas.

Untuk apa jalan raya bagi mahasiswa sekarang? Apakah mereka merasa tidak ada kebebasan akademik? Apakah mereka kini tak boleh membicarakan Karl Marx, Pramoedya, Utuy Tatang Sontani? Kata siapa? Sekarang kalian bebas membaca buku-buku yang dulu dilarang!

Karena itu kalian kini tak butuh jalan raya lagi!
Lalu datanglah masa belajar daring, ya, memang ini zaman yang pas buat ketakriduan pada kebebasan akademik lagi! Jangan-jangan puisi-puisi mimbar macam karya-karya W.S. Rendra tidak lagi punya gema buat angkatan kalian. Jangan-jangan ya… dan jangan tersinggung, kecuali kalian adalah para kampungan yang saya maksudkan itu.

Baik. Akhirnya harus saya akui berdasarkan perkembangan terkini, bahwa negara telah berhasil menjadi agama di atas agama, lembaga akademik di atas lembaga-lembaga akademik sebenarnya, pembimbing di atas pembimbing-pembimbing, dan telah menjadi puisi yang tidak merindukan mimbar kebebasan lagi seperti puisi-puisi kamar yang kehilangan negara dan minder di atas cinta.

Mana mungkin ada cinta tanpa kebebasan mencintai ilmu dan negara![]

Arip Senjaya, dosen sastra dan filsafat Untirta.

Tags: ARIP SENJAYA
Previous Post

Anak Sulung Ridwan Kamil Alami Musibah

Next Post

Senyum Mujahid Syafi’i Ma’arif

Redaksi PortalNusa

Redaksi PortalNusa

Jendela Informasi Nusantara

Related Posts

Rumor Pencabutan Kartu Liputan CNN Indonesia dan Ujian Kebebasan Pers

Rumor Pencabutan Kartu Liputan CNN Indonesia dan Ujian Kebebasan Pers

by Redaksi PortalNusa
29 September 2025
0
6

Oleh: Mahmud Marhaba (Ketua Dewan Pimpinan Pusat PJS) Sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pro Jurnalismemedia Siber (PJS), saya...

Insiden Doorstop Jambi: Humas Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Penghalang

Insiden Doorstop Jambi: Humas Seharusnya Jadi Mitra, Bukan Penghalang

by Redaksi PortalNusa
13 September 2025
0
4

Oleh Wahyu Jati Syawaludin* PERISTIWA penghalangan wartawan saat melakukan wawancara cegat (doorstop) dalam kunjungan kerja Komisi III DPR RI di...

Catatan Mahmud Marhaba: Penantian Panjang Cak Munir di Puncak PWI

Catatan Mahmud Marhaba: Penantian Panjang Cak Munir di Puncak PWI

by Redaksi PortalNusa
31 August 2025
0
5

PERJALANAN Akhmad Munir menuju puncak kepemimpinan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bukanlah cerita singkat. Jalan yang ia tempuh panjang, penuh...

Next Post
Senyum Mujahid Syafi’i Ma’arif

Senyum Mujahid Syafi'i Ma'arif

Gerakan Non-Blok

Gerakan Non-Blok

Buku Digital: Facelift atau All New?

Buku Digital: Facelift atau All New?

Kemenpora Kirim 4 Pemuda Wakili Indonesia di Youth 7 Summit 2022

Kemenpora Kirim 4 Pemuda Wakili Indonesia di Youth 7 Summit 2022

Discussion about this post

Advertorial

https://youtu.be/jk4SPl9IYFs

Trending

  • Pemerintah Blokir Akun Medsos Anak : Komitmen Keluarga Diperlukan

    Pemerintah Blokir Akun Medsos Anak : Komitmen Keluarga Diperlukan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Danramil Astanajapura Tinjau Pembangunan KDMP Rawaurip

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Atasi Sampah Liar 100 Meter di Jalur Pelayangan, Camat Ciledug Ancam Sanksi Denda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kasus Dugaan Pengeroyokan Ibu Hamil di Pekanbaru Memanas, Kuasa Hukum Beri Ultimatum 7 Hari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wisata Malam Cirebon Kian Berwarna: Lumi Land di Goa Sunyaragi Jadi Magnet Wisatawan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

BeritaTerbaru

Pemkot Cirebon Matangkan Rencana WFH Bagi ASN, Berlaku Mulai Jumat Depan

Pemkot Cirebon Matangkan Rencana WFH Bagi ASN, Berlaku Mulai Jumat Depan

1 April 2026
3
Kasus Dugaan Pengeroyokan Ibu Hamil di Pekanbaru Memanas, Kuasa Hukum Beri Ultimatum 7 Hari

Kasus Dugaan Pengeroyokan Ibu Hamil di Pekanbaru Memanas, Kuasa Hukum Beri Ultimatum 7 Hari

31 March 2026
18
Warga Cirebon Serbu SPBU Jelang Kenaikan Harga BBM per 1 April

Warga Cirebon Serbu SPBU Jelang Kenaikan Harga BBM per 1 April

31 March 2026
1
Danramil Astanajapura Tinjau Pembangunan KDMP Rawaurip

Danramil Astanajapura Tinjau Pembangunan KDMP Rawaurip

31 March 2026
28

RSS PortalNusa Youtube

  • Warga pengguna jalan, mengeluhkan rusaknya jalan di Desa Cikarang, Kec. Cidolog, Sukabumi, Jabar. 5 July 2025
  • Warga Desa Cikarang, Kec. Cidolog, Sukabumi, meminta jalan diperbaiki agar mendongak perekonomian. 6 May 2025
  • Komplain Oppo F11 23 April 2025
  • Penampakan angin puting beliung di Desa Bugis Kab. Indramayu, Minggu 16/03/25 sore. 17 March 2025
  • Puluhan Rumah di Desa Bugis, Kab. Indramayu hancur diterjang angin puting beliung, sore 16/03/25 17 March 2025
  • Viral lagu "Bayar Bayar Bayar", Band Punk Sukatani cabut lagu dan minta maaf pada Polri. 21 February 2025
  • Bahlil Buat Gaduh Penjualan Gas Subsidi, Seekor Ular Okupasi Gudang Agen Gas LPG di Kab. Mamuju 4 February 2025
  • Dosen ASN Gaduh karena Disebut Bukan Pegawai 4 February 2025
  • Kondisi Warga Kp. Sidang Hayu, Desa Curugluhur, Kec. Sagaranten, Sukabumi pasca banjir bandang 4/12 9 December 2024
  • Aspirasi Masyarakat terdampak banjir Sukabumi 04/12, 9 December 2024
ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Personalia
  • Kontak Kami
  • Iklan
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers

© 2022 - PortalNusa - PT. Pers Kita Bersama

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Senandika
  • Advertorial
  • Daerah
  • Nasional
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Gaya Hidup
    • Seni
    • Wisata
    • Kuliner
    • Hiburan
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
    • Esai
  • Sejarah
  • Sosial Budaya
  • Politik
  • Opini
  • Perbincangan

© 2022 - PortalNusa - PT. Pers Kita Bersama

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?