Oleh Doddi Ahmad Fauji
DIA lelaki sejati!
Begitu kata Antonius tentang lelaki yang sudah terkapar, menancapkan pedangnya sendiri ke perut. Ia terkepung oleh rakyat yang kini berpihak kepada Antonius. Ia tak mau mati di tangan musuh, karenanya memilih bunuh diri.
Lelaki sejati itu bernama Brutus, orang yang membuat Julius Caesar terkapar, karena tikaman terakhir justru datang dari Brutus, anak angkat kesayangannya. Ia bersekongkol dengan para pengkhianat, di antaranya Kaska yang licik.
Tokoh Brutus itu diperankan oleh Yusef Muldiyana, Antonius oleh Wan Sofwan, dan Kaska oleh Elang Jaka, dalam lakon Julius Caesar karya Shakespeare, yang dihelat pada 1997 di Gedung Kesenian Rumentang Siang oleh Studiklub Teater Bandung (STB) dengan sutradara Suyatna Anirun.
Ini pertunjukan yang sangat mengesankan bagi saya. Bukan hanya karena temanya terasa kontekstual, Indonesia saat itu mulai dihantam krisis moneter menjelang 1998, tapi juga karena akting para aktornya yang memukau. Termasuk Yusef sebagai Brutus, yang tampak trengginas dan gagah. Sejak saat itu, saya menjjadi fans Yusef.
Yusef memang insan teater sejati. Loyalitas dan dedikasinya, entah kenapa, membuatku selalu sentimentil, acap kali menitikkan air mata. Saya merasa, pemerintah telah menelantarkan seorang Yusef hingga giginya rontok semua.
Tahun 1999 ada helatan besar di dunia teater, yaitu Pertemuan Teater ke-9, yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, namun pelaksanaannya di Yogyakarta. Saya selaku wartawan Koran Media Indonesia kala itu diajak DKJ untuk ikut menghadiri acara tersebut. Di sela seminar dan diskusi, terdapat beberapa pertunjukan, antara lain dari Laskar Panggung Bandung yang membawakan lakon Bulan dan Kerupuk (BdK), naskah dan sutradara Yusef Muldiyana.
Naskah BdK rupanya sangat cocok untuk penonton yang tampaknya kebanyakan pecinta teater dari tuan rumah, Yogya. Sepanjang pertunjukan, berkali-kali penonton tertawa lepas, puas, dan terhibur. Saya juga merasakan seperti itu, namun ada bagian yang membuat hati tertegun, dada sesak, dan tak terasa air mata menetes.
Saya seringkali terjebak perasaan sentimental saat nonton kesenian, bahkan pertunjukan tari tradisi yang tanpa dialog pernah membuat saya menitikkan air mata, karena saya menilai pemerintah telah tidak adil memberikan kesejahteraan kepada para seniman, sementara banyak pejabat dan anak-anaknya berfoya-foya menggunakan anggaran negara atau dana hasil korupsi. Tayangan di sosmed tentang tingkah laku buruk ini bukan hoaks, tapi nyata dan benar adanya.
Lakon BdK karya Yusef diganjar Juara 3 lomba naskah teater DKJ pada 1998. Ada bagian yang menggambarkan realitas getir rakyat kelas bawah yang memilih membunuh anaknya karena tidak sanggup membesarkannya dalam arus kehidupan yang begitu mencekik bagi kelas akar rumput seperti tokoh Jalu dan Ipah dalam BdK.
Tidak banyak yang saya tonton dari pertunjukan Laskar Panggung Bandung, namun dari beberapa repertoar yang dilakukan LPB bersama Yusef, selalu menyajikan menu yang serupa, yaitu tragedi komedikal yang satir.
Juga pada Rabu, 16 September 2026, bertempat di Gedung Sunan Ambu ISBI, pertunjukan tragedi komedikal yang satir itu kembali tampak dalam pertunjukan LPB berjudul Pabrik Begal. Dari judulnya yang terasa tendensius, benar saja, lakon ini menghadirkan kritik satir atas kondisi sosial, politik, dan hukum di tanah air yang silang sengkarut dan berjalin kelindan, patumpuk-tumpuk.
Pabrik kerupuk milik Bolang, karena keuntungannya terasa makin setipis kertas bungkus nasi, ia ubah menjadi pabrik begal. Namun sial, begal hasil produksinya bukannya garang, malah tampak lucu dan tidak menakutkan bagi rakyat yang dibegal.
Muncul ide untuk menciptakan robot begal kontemporer dan paling canggih, dengan menyisipkan cara berpikir Einstein dan kegarangan bintang-bintang buas. Dimintalah Ir. Joko untuk membuat robot ahli begal itu. Namun begal yang dihasilkan ternyata error dan malah berbalik menjadi pengkhotbah yang mulai membasmi para penjahat. Sialnya, istri Bolang, yang artinya pemilik Robot Begal bernama 1001 itu, malah membunuh istri Bolang. Robot itu menjadi semacam senjata makan tuan.
Tapi justru karena istrinya terbunuh, Bolang berubah pikiran, lalu bertobat, lalu pertunjukan tamat.
Hal menarik dan perlu mendapatkan catatan serius dari pertunjukan Pabrik Begal adalah usaha Yusef yang tak henti melakukan kaderisasi pecinta dan pemain teater. Dalam pertunjukan ini banyak aktornya bisa disebut pemula, merupakan siswa-siswi SMKN 10 Bandung yang mengambil jurusan teater. Kaderisasi untuk menciptakan seniman sekaligus pecinta seni, apresiator yang baik, adalah penting, sebab jantung yang mendenyutkan kehidupan kesenian, termasuk teater, adalah kehadiran penonton.
Tahun 2025 bertempat di Padepokan Seni Mayang Sunda, LPB juga melibatkan siswa SMKN 10 sambil Praktik Kerja Lapangan dalam pertunjukan Bulan jeung Kurupuk, dari naskah Bulan dan Kerupuk karya Yusef yang diterjemahkan oleh Rosyid E. Abby, dengan sutradara Yusef Muldiyana.
Membaca biografinya, loyalitas dan dedikasi Yusef Muldiyana terhadap teater patut mendapatkan apresiasi besar. Seandainya Yusef dan LPB yang sudah berusia tiga dekade ada di negara makmur seperti Eropa, tentunya akan memperoleh kesejahteraan yang memadai. Namun di Indonesia, apresiasi dari pemerintah dan masyarakat terhadap pertunjukan teater tampak suwung. Tidak sedikit pertunjukan teater yang kekurangan penonton dan tidak mendapatkan sponsor, sehingga biaya produksi tidak tertutupi dari pendapatan jualan tiket.
Pemerintah mestinya memberikan penghargaan bukan hanya selembar piagam, tapi dengan uang yang memadai dan bermakna, karena kontribusi para seniman dan budayawan, dulu hingga kini, selalu mengharumkan bangsa dan negara. Lembaga Unesco misalnya, mencatat beberapa artefak seni-budaya karya bangsa Indonesia, sebagai warisan dunia yang bermanfaat untuk kelangsungan hidup umat manusia.
*
JELUJUR BIOGRAFI YUSEF MULDIYANA — Lengkap
Yusef W. Muldiyana Subandi lahir 2 September 1961 di Subang. Sejak usia 5 tahun, Yusef sudah sering menyaksikan sandiwara di perkebunan milik kakeknya di Kasomalang, Subang.
Ia aktif berteater sejak 1972, dan menulis naskah sejak 1975. Masa kecilnya diisi Lingkung Seni Anak-Anak Damar (1972-1977), SMPN IX membentuk Sanggar Sembilan, SMA bergabung Teater Bel Bandung (dulu Teater Ge-eR), Teater Lampu, Teater Jurang, Teater Tackle, Teater Sangsaka, Teater Compang Lembang, DOT, Nih, Cantrik.
Pendidikan formal: 1982 ASTI Bandung (kini ISBI), 1983 Akademi Sinematografi Bandung. Tahun 1983 ikut Acting Course Studiklub Teater Bandung (STB), murid langsung Suyatna Anirun. Di STB ia bermain dalam King Lear, Don Carlos, Perang Troya dan lain-lain, dan pada 1998 menyutradarai Suyatna Anirun dalam Nyanyian Angsa.
Tahun 1987, Yusef merantau ke Jakarta, dan berproses bersama Teater Ketjil di bawah arahan Arifin C. Noer. Di sana ia belajar menulis naskah hingga Arifin wafat 1995.
Laskar Panggung Bandung (LPB) didirikan di Bandung, 20 November 1995. Para pendirinya ialah Yusef Muldiyana, Deddy Koral, Anton Justian, Gaus FM, Doni Achmad, Aendra Medita, Dyanto, Sarwoko. Alamat: Jalan Cipamokolan No. 25 Bandung.
Produktivitasnya luar biasa:
- Pementasan perdana LPB adalah “Manusia Dalam Botol” (1996) yang ditulis dan disutradarai oleh Yusef Muldiyana
- Pada tahun yang sama, Yusef menulis dan menggarap naskah “Lautan Membatu”
- Sebagai sutradara, Yusef sudah mengarahkan lebih dari 200 pertunjukan, dan menulis lebih dari 50 naskah
- Di bawah arahannya, LPB telah memproduksi sekitar 400-an pementasan selama tiga dekade, dengan 90 persen naskah adalah karya Yusef sendiri
- Ia sudah menulis lebih dari 50 naskah drama.
Daftar karya dan pementasan penting (naskah karya Yusef & yang ia sutradarai):
- Senja di Atas Bukit (1978) hingga karya kontemporer seperti BANPOL, Ngompol, Exodus, Tembang Langit, Monkey Politic, Bulan dan Kerupuk
- Bulan dan Kerupuk — Juara 3 Sayembara Penulisan Naskah Lakon Dewan Kesenian Jakarta 1998
- Sikat Sikut Sakit — meraih Hibah Seni Kelola 2018 kategori Karya Inovatif
- Repertoar Balai Bahasa Jabar: “Melati dan Belati”, “Peti Mati” disutradarai Yusef Muldiyana dan dipentaskan di Gedung Kesenian Rumentang Siang tahun 2002, Garis Langit, Bapak Tidak Percaya, Julius Caesar, Ngompol Ketika Kursi Di Atas Kepala, Obrok Owok-Owok dan Ebrek Ewek-Ewek, Tabib Jagoan, Ajalnya Sang Bintang Film, Wow Wasiat Oh Wasiat, Bulan dan Kerupuk, Selangit Dendam, Bandit-Bandit Manis, Kleptomania, Bulan dan Rempeyek, Tangan-Tangan Kotor, Raja Lieur, Hamster Makan Bulan
- Hibah Keliling: Arkeologi Beha dan Monodrama pernah mendapatkan dukungan Hibah Seni Kelola 2004
- Suku Suka Saku — pementasan teater garapan kelompok Laskar Panggung Bandung berjudul Suku Suka Saku karya sutradara Yusef Muldiyana di area Cikapundung River Spot
- Bulan jeung Kurupuk (terjemahan Sunda oleh Rosyid E. Abby, 2025)
- Pabrik Begal (2026)
Film independen: Karya filmnya: “Melati dan Belati” (2002), “Maunya Beli Kapal” (2003), “Bapak Tidak Percaya” (2003), “Klepto” (2004), dan “Kecemeng” (2004)
Pengabdian: Sejak 2013 melatih seniman difabel (tunanetra, tunarungu, tunadaksa, cerebral palsy) di Yayasan Smile Motivator, dramaturg Teater Awal UIN Sunan Gunung Djati Bandung, aktif di Majelis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) dan pendiri Majelis Sastra Bandung bersama Matdon dan Deddy Koral. Anugerah Budaya Kota Bandung 2015 bidang teater.
































Discussion about this post