Portalnusa.id – Longsor yang memutuskan Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 32 meter, di Desa Munjul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, di awal Bulan Februari 2026, lalu, berdampak terancamnya akses bagi petani mangga di desa setempat.
Kondisi ini mengganggu aktivitas ribuan petani yang mengandalkan jalan tersebut untuk mengangkut hasil panen dan mengakses lahan pertanian mereka.
Kuwu Munjul Chaerudin mengungkapkan bahwa Jalan Usaha Tani bukan sekadar infrastruktur jalan biasa, melainkan menjadi urat nadi kehidupan masyarakat setempat bahkan beberapa desa sekitar.
“Jalan ini vital, bukan hanya untuk Masyarakat Munjul saja, tapi juga untuk beberapa desa lain. Di sinilah, lahan pertanian mangga yang subur, mencapai kurang lebih 150 hektar, tumbuh dengan lebat,” ujarnya, Minggu (15/2/2026).
Menurut Chaerudin, lahan pertanian mangga di kawasan tersebut merupakan sumber mata pencaharian utama bagi sebagian besar warga di Desa Munjul dan desa tetangga. Setiap musim panen, ribuan ton buah mangga diangkut melalui jalan ini menuju pasar lokal maupun ke luar daerah.
“Jika akses terputus, bukan hanya aktivitas pertanian yang terganggu, tapi juga perekonomian masyarakat secara keseluruhan akan terdampak berat,” tambahnya.
Ia menyebut, kejadian longsor pada jalan tersebut sudah berlangsung selama lebih kurang sepuluh hari.
“Jalan ini sudah longsor selama lebih kurang sepuluh hari. Tapi, alhamdulillah, semangat gotong royong masyarakat luar biasa. Mereka saling membantu demi kepentingan bersama,” ucapnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa pihak terkait telah merespons kondisi darurat ini. Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, dan Perwakilan Kementerian Pertanian pun sudah melihat secara langsung kondisi ini dan mengevaluasi tingkat kerusakan.
Dirinya pun menjelaskan, JUT tersebut di akhir tahun 2025 lalu telah mendapatkan bantuan dari kementerian.
“Kejadiam disini ada titik, ada longsor dan jembatan yang putus. Kami bersama masyarakat dan dukungan dari Koramil 0620/11/Astanajapura yang turut berkontribusi dalam membantu masyarakat menangani situasi tersebut.”ungkapnya.
Menurutnya, rencana perbaikan telah disusun, rencananya pekerjaan perbaikan akan dimulai setelah bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri mendatang.
“Insya Allah, setelah Lebaran, masyarakat akan memulai perbaikan. Panjang jalan yang longsor ini sekitar 32 meter, dan saat ini kami sudah mulai mencari solusi agar akses motor bisa kembali terbuka,” jelas Chaerudin.
Saat ini, masyarakat dan Pemerintah Desa tengah melakukan langkah awal dengan melakukan penangan darurat untuk mencegah longsor dengan menggunakan bambu dan material tanah ke dalam karung. Hal ini agar longsoran tidak semakin parah.
” Kami lakukan perbaikan darurat untuk memudahkan akses kendaraan roda dua ke kawasan pertanian, ” jelasnya.
Chaerudin menjelaskan bahwa kejadian longsor kali ini merupakan yang ketiga kalinya yang terjadi di lokasi yang sama. Penyebab utama adalah hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa minggu terakhir, ditambah dengan kondisi tanah yang dianggap tidak stabil.
“Hujan deras menjadi penyebab longsor yang ketiga kalinya. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang mungkin tidak stabil dan curah hujan yang sangat tinggi. Sebelumnya tidak pernah mengalami hal seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, lereng di sisi jalan yang longsor memang memiliki kemiringan cukup tinggi dan tidak memiliki sistem drainase yang memadai. Hal ini menyebabkan air hujan menggenangi tanah dan memperlemah struktur tanah hingga akhirnya terjadi longsoran.
Selain memperbaiki kondisi jalan yang saat ini rusak, pemerintah Desa Munjul juga memiliki visi jangka panjang untuk menjadikan Jalan Usaha Tani sebagai akses strategis yang menghubungkan Desa Munjul dengan Desa Belawa di wilayah yang berdekatan.
” Jalan ini sangat strategis, dan ke depannya bisa menjadi akses penting menuju Desa Belawa. Namun untuk menyatukan akses jalan tentunya harus dengan kesepakatan dengan Desa Belawa,” jelas Chaerudin.
Ia berharap dukungan dari pemerintah untuk pembangunan jalan usaha tani ini bisa dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya untuk memperbaiki bagian yang longsor namun juga untuk memperkuat struktur jalan dan menambah sistem drainase yang memadai agar tidak terjadi kerusakan serupa di masa depan.































Discussion about this post