Portalnusa.id – Semangat untuk mengembalikan kejayaan wilayah Gebang kini menemui babak baru. Sejumlah tokoh dan elemen masyarakat secara resmi mendeklarasikan pembentukan Forum Wong Gebang Bangkit (FWGB) pada Senin (20/01/26).
Bertempat di Sekretariat FWGB Desa Gebang, Kecamatan Gebang, Kabupaten Cirebon, organisasi ini lahir sebagai wadah kolektif untuk menjemput kembali kemandirian dan martabat masyarakat setempat sesuai catatan sejarah yang ada.
Ketua Umum FWGB, H. Tukijan, menyatakan bahwa pembentukan forum ini merupakan bentuk ikhtiar nyata masyarakat dalam mengawal kearifan lokal di berbagai bidang. Ia menilai, selama ini potensi besar putra daerah Gebang masih berjalan sendiri-sendiri secara personal, sehingga dampaknya bagi kemajuan wilayah belum terasa secara maksimal.
“Banyak masyarakat Gebang yang sukses secara personal, baik di jabatan strategis maupun dunia usaha. Namun, kita ingin kesuksesan itu ditarik menjadi kekuatan kolektif. Meski organisasi ini baru lahir, melihat komposisi SDM pengurus yang diisi oleh orang-orang profesional, kami optimis FWGB bisa langsung ‘berdiri dan berlari’ untuk masyarakat,” ujar pria yang akrab disapa Mang H. Tukijan tersebut.
Semangat Kesetaraan dan Gotong Royong
Struktur kepengurusan FWGB yang berasal dari berbagai elemen sosial menjadi keunikan tersendiri. Namun, Mang H. Tukijan menekankan prinsip “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”. Artinya, setiap pengurus wajib menanggalkan status sosial masing-masing demi kepentingan organisasi. Kebersamaan dan kekompakan menjadi modal utama untuk menjalankan roda organisasi agar selaras dengan cita-cita para pendiri.
Berdasarkan naskah deklarasi yang dibacakan, FWGB berdiri atas dorongan semangat “Sedarah, Sejiwa, Sebudaya anak putu Pagebangan”. Fokus utamanya adalah mewujudkan kehidupan warga Gebang yang sejahtera, damai, dan bermartabat dengan tetap berpedoman pada Pancasila dan UUD 1945.
Kehadiran FWGB bukan sekadar wadah silaturahmi, melainkan juga instrumen advokasi bagi masyarakat. Pengawas FWGB, H. Dade Mustofa, menyoroti tantangan besar yang dihadapi warga lokal di tengah masifnya industrialisasi di wilayah Kecamatan Gebang.
Ia menekankan pentingnya peran FWGB dalam memfasilitasi warga agar tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Masalah ketenagakerjaan, seperti dugaan pungutan liar untuk masuk kerja hingga isu persaingan dengan tenaga kerja asing (WNA), menjadi perhatian serius forum ini.
“Bagaimana FWGB bisa memfasilitasi ketika ada warga kita yang kesulitan masuk kerja di pabrik yang ada di lingkungannya sendiri? Bagaimana kita menjaga budaya lokal agar tidak luntur akibat akulturasi dengan warga asing di kawasan industri? Ini adalah tugas kita,” tegas H. Dade.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa FWGB harus menjadi mitra strategis bagi 13 desa di Kecamatan Gebang. Forum ini diproyeksikan untuk berkolaborasi dengan pemangku kebijakan (Pemerintah Desa dan Pemkab Cirebon) serta pihak industri agar pembangunan yang ada bisa memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal tanpa mencerabut nilai-nilai budaya.
“Kita tidak boleh hanya diam. FWGB harus mampu menampung, menyambungkan, dan mewarnai arah pembangunan di Gebang. Kolaborasi dengan pemilik industri dan pemangku kebijakan adalah kunci agar kesejahteraan masyarakat bisa terwujud secara nyata,” pungkasnya.
Dengan deklarasi ini, FWGB resmi memulai langkahnya untuk mengawal transisi Gebang dari wilayah agraris-maritim menuju wilayah industri tanpa meninggalkan akar sejarah yang telah membentuk identitas “Wong Gebang”.
Wujud Nyata Kepedulian Polri, Polsek Losari Salurkan Bansos untuk Warga Prasejahtera di Desa Kalisari
Portalnusa.id – Jajaran Polsek Losari, Polresta Cirebon, melaksanakan aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan sosial (bansos) berupa paket sembako kepada warga...




































Discussion about this post