Portalnusa.id – Bayang-bayang kehilangan tempat tinggal kini menghantui ribuan warga di Desa Ambulu, Kabupaten Cirebon. Di tengah keputusasaan menghadapi banjir rob yang kian ganas, warga memilih menempuh jalur spiritual sebagai upaya terakhir menjaga tanah kelahiran mereka dari terjangan air laut
Pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, menjadi saksi bisu dari sebuah ritual penuh harap yang digelar oleh warga setempat baru-baru ini. Di bawah terik matahari dan aroma garam yang menyengat, puluhan warga berkumpul di bibir pantai bukan untuk berpesta, melainkan untuk memohon keselamatan.
Ritual ini dilakukan menyusul kondisi banjir rob yang dari hari ke hari kian memprihatinkan. Bagi warga Ambulu, laut bukan lagi sekadar sumber mata pencaharian, melainkan ancaman nyata yang siap menelan rumah-rumah yang telah mereka tinggali selama puluhan tahun. Kenaikan permukaan air laut yang melimpah hingga ke ruang tamu dan dapur warga telah menjadi pemandangan sehari-hari, namun belakangan kondisinya kian mengkhawatirkan.
Ketakutan akan desa mereka yang benar-benar tenggelam di masa depan kini bukan lagi sekadar isapan jempol, melainkan ancaman nyata yang ada di depan mata.
Selain melaksanakan ritual adat di pesisir, sisi religiusitas warga juga semakin kental. Di masjid-masjid dan rumah-rumah, untaian doa kepada Allah SWT terus dipanjatkan setiap saat. Perpaduan antara tradisi lokal dan ketakwaan ini menjadi benteng psikologis bagi warga yang merasa sudah kehilangan banyak hal akibat terjangan air laut yang asin.
Kuwu Ambulu, Sunaji, mengungkapkan bahwa langkah yang diambil warganya ini merupakan cerminan dari rasa lelah dan frustrasi yang mendalam. Ia mengakui bahwa upaya secara fisik maupun administratif telah diupayakan semaksimal mungkin oleh pemerintah desa.
“Warga sudah lelah. Bencana rob ini melanda desa kami terus-menerus. Kami dari pemerintah desa sudah melakukan berbagai upaya pembangunan dan koordinasi, namun jujur saja, hingga saat ini hasilnya belum membuahkan solusi yang permanen,” ujar Sunaji. Rabu (07/01/2026).
Sunaji menambahkan bahwa dirinya sangat memaklumi tindakan warga yang memilih jalur ritual. Menurutnya, hal ini adalah bentuk ekspresi harapan rakyatnya agar alam kembali bersahabat dengan mereka.
Bahkan belum lama ini pun Pemdes bersama masyarakatnya melaksanakan ziarah, mereka hanya ingin fokus berdoa agar pemerintah segera membuat tanggul laut untuk mengurangi penderitaan masyarakat Ambulu.
“Jadi wajar jika mereka melakukan ritual tersebut. Ini adalah ikhtiar batin. Harapan mereka satu, agar bencana yang selama ini dirasakan bisa membaik, dan anak cucu mereka masih bisa melihat Desa Ambulu tetap berdiri, tidak hilang ditelan laut,” lanjutnya.
Ritual ini adalah simbol harapan terakhir. Warga berharap dengan mengetuk “pintu langit” dan memberikan penghormatan kepada alam, bencana yang merusak sendi-sendi ekonomi dan kenyamanan hidup mereka bisa segera membaik.
Hingga saat ini, warga Desa Ambulu masih sangat menantikan adanya perhatian serius dan bantuan teknis dari pemerintah daerah maupun pusat, seperti pembangunan tanggul laut mapun tanggul penahan rob yang lebih kokoh. Sebelum bantuan itu datang secara nyata, doa dan ritual menjadi satu-satunya kekuatan yang membuat mereka tetap bertahan di tanah yang kian tergerus air pasang.
Pemkot Cirebon Matangkan Rencana WFH Bagi ASN, Berlaku Mulai Jumat Depan
Portalnusa.id – Pemerintah Kota Cirebon tengah melakukan pembahasan serius terkait rencana penerapan kebijakan Bekerja dari Rumah atau Work From Home...


































Discussion about this post