Musik selalu berpagutan dengan politik. Entah itu sebagai politik ideologi, perlawanan, atau grup-grup musik yang diundang untuk berdendang dalam helatan kampanye calon a atau b. Apapun itu, musik sekalipun penciptanya berjarak dengan politik, ia tak bisa melepaskan itu semua. Seperti kara Arief Setiawan , dilansir dari kompas.id seberapa pun jauhnya seorang musisi mengambil jarak penciptaan karyanya dengan politik, pada kesempatan yang sama sejatinya ia telah berpolitik untuk tak menghubungkan karyanya dengan urusan politik. Dengan kata lain, musik tercipta karena suatu kondisi yang menyebabkan ia hadir dan menyapa publik. Kondisi tersebut sering kali berupa situasi di mana kebebasan dan keterkungkungan kreativitas terjadi karena masalah kebijakan [politik]. Secara lebih jauh, Arief Setiawan mengatakan klaimnya bahwa musik itu bukan dengung atau sekadar bunyi, tetapi menyuarakan tentang sesuatu, selayaknya timbunan makna puisi Widji Tukul dalam karya sastra.
Musik sebagai bagian dari kesenian, ia memiliki wilayah yang merakyat. Sebab secara teoritis, dilansir dari kompas musik merupakan salah satu wujud dari budaya populer, yang dalam bahasa Raymond Williams (1983), diproduksi sekaligus dikonsumsi oleh banyak orang. Kemampuannya untuk menjangkau khalayak dengan cara yang cepat dan masif ini kerap dimanfaatkan oleh beberapa pelaku seni musik untuk menyampaikan pesan tertentu kepada pendengarnya. Dominic Strinati (1995) dalam An Introduction to Theories of Popular Culture berpendapat bahwa budaya populer memiliki beragam definisi dan peran dalam kebudayaan. Salah satu yang menarik adalah ia memiliki peran ideologis yang secara potensial berperan sebagai salah satu bentuk kontrol sosial yang kerap digunakan oleh rezim politik sebagai salah satu strategi untuk mempertahankan kekuasaannya. Di sini, musik mempunyai fungsi sebagai komunikasi massa, dan alat atau kiat-kiat kekuasaan melanggengkan kursi kekuasaan.
Indonesia sendiri, pada dekade tahun 1960-1965 memiiliki dua kutub ideologi kesenian yang berbeda; satu, seni untuk politik yang dipropagandakan oleh kelompok lekra (lekmbaga kebudayaan rakyat) dan satu lagi seni untuk seni yang dipropagandakan oleh kelompok manikebu (manifest kebudayaan). Dua kutub ini saling bertarung dalam politik kebudayaan yang diusung oleh masing-masing kelompok.
Menimbang itu, kiranya kiwari dalam konteks kesenian, mestilah dua muatan ideologi kesenian itu mesti seni yang estetik dan politis, agar ketegangan dua kutub ideologi kebudayaan itu terakhiri. Dalam konteks lagu, berikut ini lagu-lagu yang secara lirik membawa ideologi perlawanan dan keprihatianan akan alam semesta , dan secara estetik enak didengar, yang merupakan cermin dari dua semangat yang estetik dan politik. Sebab kesenian, atau musik yang merupakan komunikasi massa punya fungsi menyampaikan dengan lirik dan nada tentang sesuatu.
Di tengah situasi iklim yang balau, seluruh bentuk dan cara kampanye menuju titik awal peradaban dan kehancuran antroposentrisme mesti digalakkan, agar terciptanya suatu tatanan baru, dimana kehdiupan dan alam semesta bisa baik-baik saja, dan kepunahan manusia tidak disegerakan hari ini. berikut ini lagu-lagu yang peduli semesta dan menyuarakannya.
1. Sisir Tanah (lagu alternatif, lau bebal)


Sisirr tanah dibentuk pada tahun 2010 di Bantul, Jogjakarta. Bagus Dwi Dantolah yang membuat secara sendiri sisir tanah, yang ia proyeksikan untuk menuang gagasan, peristiwa, dalam lirik dan nada. Mesikpun tidak ingin musiknya ditetapkan dalam satu aliran, semua orang pun mengakui kalau Sisir Tanah membawa musik folk dalam lagu-lagunya. Isu dalam lagu-lagu sisir tanah sarat dengan muatan kepedulian akan alam, ekologi dan kriritik atas antroposentrisme.
2. Hara (kebun terakhir)


Hara, merupakan project solo dari Rara sekar (sebelumnya Banda Neira dan Daramuda). Dengan lagunya kebun terakhir, Hara tidak kehilangan bahasa puitisnya yang filosofis. Kebun terakhir akan membawa kita pada permenungan bagaiamana akhirnya bila dunia tinggal selembar daun terkahir? Ini suatu pesan ekologis, bahwa kita mesti menjaga, merawat pohon dan kebun-kebun kita.
3. Navicula (lagu sampah)


Band yang beraliran grunge asal Bali, lagu-lagu dari Navicula sarat dengan muatan sosial-lingkungan. Bahkan album mereka pun dibuat dari bahan daur ulang. Navicular juga kerap ikut aksi perihal deforstasi bersama walhi, greenpeace dll. Dalam lagu sampah ia menyuarakan dan mengajak seluruh pendengar musiknya untuk memerangi sampah plastik.
4. Feast (tarian penghancur raya)


Band yang beraliran rock ini, dalam lagunya tarian penghancur alam raya membawakan pesan-pesan politis tentang lingkungan kita yang kian rusak, keraifan lokal yang tergerus. kita tahu betul, di tengah situasi yang serba tak terduga dan kacau, seluruh suara dari ragam karya sangat bermakna.
Pada akhirnya, kesenian mestilah berdiri diatas keberpihakannya, dan musik yang berpihak itulah musik yang politis!


































Discussion about this post