Oleh Djadjat Sudradjat
KINI memang era senjakala media cetak. Tapi di sepanjang Jalan Malioboro, Jogyakarta, masih banyak penjaja koran. Juga di beberapa jalan lain di kota ini. Jumlahnya tentu jauh berkurang dibandingkan era kejayaan media cetak pada 1980-an hingga awal 2000-an.
Di kota mana pun saya singgah, kini, saya selalu berburu koran. Ada semacam rindu yang tak tertahankan pada benda, yang ketika saya kanak-kanak di kampung menjadi “barang ajaib”; dan beberapa tahun kemudian menggelutinya hingga hampir 30 tahun. Koran sudah menjadi semacam kekasih yang tak tergantikan.
Dulu, di jalan-jalan kota Jogya, terlebih di Jalan Malioboro yang menjadi lokus favorit para pelancong, kerap melihat berderet penarik becak membaca koran ketika menunggu penumpang. Ada rasa bungah dan bahkan takjub setiap melihat pemandangan serupa itu. Pantaslah ibukota provinsi kerajaan ini mendapat predikat “Kota Pelajar”. Bisa jadi hobi membaca para penarik becak pengaruh dari keterpelajaran kota ini.

Kini tinggal satu-dua saja melihat mereka membaca koran. Terlebih banyak becak di kota ini sudah bermesin motor pula. Semuanya menjadi serba bergegas. Tapi Malioboro makin cantik. Bersih. Tak hiruk pikuk dan bau pesing seperti puluhan tahun lalu. Para pedagang kaki lima juga sudah punya tempat permanen di Teras Malioboro.
Di Jalan Malioboro juga masih ada papan berkaca tempat koran dipajang. Tempat warga membaca. Suasana yang juga mengingatkan ketika koran masih berjaya dan bagi mereka yang tak bisa atau tak sempat membeli koran, bisa membaca di ruang publik itu.
***
DI sela-sela jalan pagi Senin (30/5), saya menemui dan berbincang dengan beberapa penjaja koran di Malioboro. Salah satunya Pak Subardi (68 tahun), penjual koran yang menurut saya paling senior. Ia memulai kariernya sejak 1974. Ia mengungkapkan, bisa mencari uang sekaligus menambah wawasan dengan menjual dan membaca koran.
Selepas SLTA, ia memang tak berniat mencari pekerjaan seperti teman-temannya. Misalnya melamar pekerjaan menjadi PNS. Menjual koran dan media cetak lain, jelas pekerjaan yang menjanjikan kala itu. Koran benar-benar menjadi kebutuhan warga kota.
“Sekarang media cetak telah dikalahkan oleh telepon selular. Media cetak mungkin tinggal 20 persen saja. Hp telah mengambil alih banyak pekerjaan. Ini memang eranya. Kami tak mungkin bisa melawan,” kata Subardi sambil menata koran jajaanya yang tak menumpuk-menggunung seperti dulu. Nada suaranya datar saja. Tanda ia amat paham akan “tanda-tanda zaman”. Bahwa setiap era ada akhirnya.
Saya membeli beberapa koran terbitan Jogya. “Kedaulatan Rakyat” koran bersejarah kota ini, masih terbit. Meski seperti media lain sudah amat berkurang tirasnya. Halamannya pun menipis. Harian “Bernas” sudah beberapa tahun almarhum.
Saya tak tahu persis kapan media cetak di Indonesia akan benar-benar mati. Sejak dua dasa warsa lalu, sinyal “robohnya koran kami ” sesungguhnya sudah sering saya dengar.
Dalam berbagai kegiatan organisasi seperti World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-Ifra) dan berbagai organisasi jurnalis dan pers, juga sudah lama mengingatkan media cetak bakal meluruh. Sinyal ini muncul setelah koran-koran di Eropa kian berkurang tirasnya.
***
MUNGKIN di Indonesia, juga di Jogyakarta, koran tak akan semuanya mati. Ada yg terus bertahan meski digempur begitu rupa oleh media sosial, online-online, dll.

Koran akan tetap ada sebagai bagian nostalgia orang-orang tertentu. Mungkin tak seperti nostalgia makanan lama atau makanan desa yang kian dicari.
Seperti sajak Joko Pinurbo, “Jogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.” Makanan yang jadi kerinduan. Bukan koran. Sajak ini terpampang di salah satu sentra kuliner di Malioboro. Ajakan
“bergoyang lidah” yang elegan.
Jogya memang bukan terbuat dari rindu, pulang dan membaca koran. ***
Djadjat Sudradjat (Dewan Redaksi Media Indonesia Grup), Mantan Pemred Lampung Pos. Kini Djadjat Sudradjat adalah Anggota DPRD Banyumas, dan Ketua Partai Nasdem Banyumas.
Tulisan ini pernah dimuat di FB Pribadi penulis, juga di jurdik.id




































Discussion about this post