Oleh Doddi Ahmad Fauji *
Jika diibaratkan nyala api, maka elan vital kebangsaan Indonesia ini akan tampak seperti nyala lilin dalam tiupan angin. Sebab angin tak pernah berhenti bertiup, nyala lilin itu pun berkali-kali melindap dan nyaris redup.
Pengandaian elan vital atau semangat utama kebangsaan dengan menganalogikan ke dalam nyala lilin, sebab hari kebangkitan nasional yang selalu diperingati tiap tanggal 20 Mei, yaitu hari ini, yang menjadi penanda berdirinya Perkumpulan Budi Utomo (dalam ejaan van Ophuijsen: Boedi Oetomo), yang dideklarasikan oleh 9 mahasiswa kedokteran School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), di Jakarta pada 1908. Budi Utomo dinisbatkan sebagai organisasi pertama yang telah menyalakan api kesadaran nasionalisme dan kebangsaan bagi masyarakat pribumi yang terperentah.
Adalah dr. Wahidin Sudirohusodo, yang juga lulusan STOVIA, yang menyodorkan argumentasi pentingnya berdiri sebuah organisasi yang dapat mengangkat derajat bangsa pribumi yang terjajah, serta organisasi yang dapat mengadakan dana pendidikan bagi warga pribumi yang cerdas namun tak memiliki biaya untuk sekolah.
Mengangkat derajat bangsa inilah yang menjadi ruh utama dari gagasan Budi Utomo, yang tiap tahun diperingati secara nasional. Maka kita bisa bertanya dan introspeksi, seperti apakah derajat bangsa Indonesia dibandingkan negara-negara liyan saat ini?
Ada banyak parameter untuk mengukur derajat atau martabat sebuah bangsa. Misalnya dari aspek Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang diukur oleh United Nation Development Programme (UNDP), dengan melihat usia harapan hidup, pendidikan, serta perekonomian. Semua negara bisa becermin ke sana, termasuk Indonesia. Pada 2021, dari 158 negara yang dianalisis oleh UNDP, Indonesia menempati urutan 107, alias tidak bergeser dari urutan tahun 2020, atau mengalami stagnasi yang nyata.
Selain berkaca pada ideks IPM, derajat kebangsaan juga bisa diukur dari prestasi dalam bidang PISA atau Programme for International Student Assessment, yang mengukur kemampuan siswa dalam kecakapan pelajaran membaca, matematika, serta penguasaan ilmu sains. Data yang dikeluarkan Kemdikbudristek sungguh menghawatirkan, indeks PISA Indonesia berada pada posisi 72 dari 78 negara yang mengadakan tes PISA.
Dari data IPM dan PISA saja, kita harus mengakui martabat kebangsaan Indonesia sungguh belum melompat jauh ke depan, seperti yang dipersuasikan oleh dr. Wahidin Sudiro Husodo kepada 3 siswa STOVIA yang ditemuinya kala itu, yaitu Seobroto yang kemudian mengganti nama menjadi dr. Seotomo, Gunawan Mangunkusumo, dan Soeradji Tirtonegoro. Ketiga siswa ini meneruskan gagasan Wahidin, hingga pada 20 Mei 1908, 9 siswa STOVIA bersepakat mendirikan Perkumpulan Budi Utama yang diperingati dari tahun ke tahun.
Hari ini, melalui sosmed, menyebar beberapa twibbon atau flyer tentang hari kebangkitan nasional yang pernah menyala dan membara, hingga turut andil melahirkan para ‘founding father’ yang memerdekakan Indonesia dari kolonialisme Belanda. Namun api itu, tampak seperti kehilangan ‘bara’ agar tetap berkobar dan tidak melindap.
Bila kita mencoba menelisik dari sektor pertanian, penciptaan tekonologi dan kreativitas inovatif, sesungguhnya bangsa Indonesia bukan saja tidak mengalami kemajuan, tapi malah mengalami kemunduran. Di bidang pertanian misalnya, pada 1984 Indonesia patut menjadi contoh dari negara berkembang yang berhasil mengadakan swasembada pangan, terutama mengadakan beras. Namun kini hampir setiap tahun kita mengimpor beras di kisaran 1,7 juta ton. Kedelai, daging sapi, dan tanaman holtikultura lainnya, harus pula kita beli dari luar. Bahkan sejak 1994, kita harus mengimpor garam terutama untuk kebutuhan industri. Betapa ironis, negeri bahari dengan warisan budaya agraris ini, kurang berhasil mengadakan kebutuhan pokok sehar-hari untuk dirinya sendiri.
Apalagi bila bicara tentang teknologi, kita benar-benar tertinggal jauh, dan akan makin tertinggal. Hingga kini Indonesia tidak bisa membuat mesin yang dibutuhkan di banyak bidang industri. Jangankan menciptakannya, bahkan mengendarakan otomotif, pesawat terbang, kapal laut dan kapal selam, malah masih salah prosedur dan kadang ‘bodo nekat’, hingga tingkat kecelakaan lalulintas moda darat, laut, dan udara, termasuk tinggi di tingkat internasional.
Kita juga tidak bisa menciptakan komputer, yang sangat membantu mempercepat pengembangan imajiansi dan perencanaan pembangunan. Juga, kita tidak bisa menciptakan telepon berikut diversifikasinya seperti internet. Menurut data survey perusahaan apple, yang menciptakan komputer dan telepon dengan harga termahal di dunia, Indonesia termasuk pembelanja besar produk mereka. Jadi, kita memang sampai pada angka tertinggi, tapi sebagai bangsa follower dan user, sebagai pengguna dan pembelanja yang konsumtif lagi konsumeristik.
- Dewan Redaksi portalnusa.id




































Discussion about this post