Bandung – Suasana hangat dan penuh kebanggaan menyelimuti Hotel Travello Kota Bandung, Minggu, 26 Oktober 2025, ketika Komunitas Pengajar dan Penulis Jawa Barat (KPPJB) menggelar ajang bergengsi Parasamya Anugerah Aksara Indonesia VI. Dalam momen itu, salah satu nama yang kembali naik ke panggung penghargaan adalah Eti Nurhayati, S.S., M.Pd., tokoh literasi dan pendidik asal Kabupaten Tasikmalaya.
Ia menjadi salah satu penerima Parasamya Suratma Nugraha pada tahun ini, melanjutkan tradisi prestasinya selama lima tahun berturut-turut. Di tahun 2020, ia mengikuti kedua kategori, yakni Parasamya Susastra Nugraha dan Parasamya Suratma Nugraha.
“Alhamdulillah, aku bahagia dan bangga dengan semua pencapaian hingga hari ini. Ku syukuri semuanya. Parasamya 1 sampai 6 telah mengukir cerita dalam langkah-langkahku,” ungkap Eti dengan senyum hangat usai menerima penghargaan.
Sosok di Balik Prestasi
Lahir di Tasikmalaya, 13 November 1972, Eti Nurhayati dikenal sebagai guru, penulis, sekaligus pegiat literasi yang gigih. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala SMP Negeri 2 Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya, sekaligus menjadi bagian aktif berbagai komunitas literasi seperti Forum Guru Menulis, Komunitas Pegiat Literasi Jawa Barat (KPLJabar), Guru Kreatif Nusantara, TULIP (Teras Untuk Literasi Perempuan), KPPJB, dan GLN Gareulis Jawa Barat.
Kecintaannya terhadap bahasa dan sastra tumbuh sejak masa kuliah di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (UNDIP) yang ia tamatkan pada 1996. Ia kemudian melanjutkan studi magister pada 2011. Karya-karyanya banyak menghiasi media seperti Suara Merdeka, Radar Tasikmalaya, Radar Cirebon, Hibar Sabilulungan, hingga media daring seperti Kompasiana, Gurusiana, Kabar Priangan.com, dan Beritadisdik.com.
Rangkaian Karya dan Dedikasi
Hingga kini, Eti telah menulis 52 buku antologi dan sejumlah karya tunggal, antara lain Pengantar Sastra (2017), Jejak-jejak dalam Sajak (2017), Adelaide dalam Bingkai Kenangan (2017), The Miracle of Life (2017), Literasi Jendela Duniaku (2017), Nafas Kehidupan (2018), Sisindiran, Fikmin & Carita Sunda (2018), Anaking (2019), Jejak Pun Bicara (2020), dan Aku dan Alineaku (2024).
Berkat konsistensinya, Eti kerap dianugerahi berbagai penghargaan. Tahun 2010, ia meraih Dede Yusuf Award atas artikelnya “Kursi Bukan Wahana Korupsi.” Tahun 2017, ia menerima apresiasi dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat atas partisipasinya dalam Gerakan Literasi Sekolah melalui WJLRC. Di tahun yang sama, ia menjadi peserta Diseminasi Nasional Literasi Guru SMP Berprestasi oleh KEMDIKBUD di Jakarta.
Pada 2018, Eti mendapat gelar Pelopor Gerakan Literasi Keluarga dari Dispusipda Jawa Barat, dan sejak 2020 hingga 2024 secara berturut-turut ia menjadi penerima Parasamya Susastra Nugraha dan Suratma Nugraha dari KPPJB.
Perjalanan Internasional dan Kiprah Pendidikan
Langkah Eti juga menembus kancah internasional. Pada 2015, ia berkesempatan mengikuti Teacher Professional Development Program di Adelaide, Australia Selatan. Setahun berselang, ia menjadi presenter dalam Siliwangi International English Conference (SIEC) dan meraih Book Award sebagai The Best Attendee.
Sebagai pendidik, Eti terus mengembangkan diri. Ia lulus sebagai Guru Penggerak Angkatan 2 Kabupaten Tasikmalaya (2021), mengikuti School Leadership Workshop (SLW) bersama NIE Singapura (2022), dan kini berperan sebagai Pengajar Praktik Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 8.
Puncak pengakuan atas kiprahnya datang pada 2024, ketika ia dianugerahi ASN Inspiratif Kabupaten Tasikmalaya oleh Bupati Tasikmalaya pada peringatan Hari Ibu ke-96, HUT KORPRI ke-53, dan HUT PGRI ke-79.
Makna dan Semangat yang Tak Pernah Padam
Bagi Eti, menulis adalah bagian dari ibadah dan dedikasi. Dalam setiap lembar puisinya tersimpan pesan moral, refleksi kehidupan, dan semangat literasi. Ia mengajak para pendidik untuk terus menulis dan berkarya.
“Ayo kita terus memompa semangat, mendongkrak kreativitas tanpa batas untuk kemajuan literasi bangsa,” ujarnya penuh semangat.
Dari Tasikmalaya hingga Bandung, dari ruang kelas hingga panggung penghargaan, kiprah Eti Nurhayati menjadi bukti bahwa seorang guru bisa menjadi penulis besar, inspirator literasi, dan penggerak perubahan bagi pendidikan Indonesia.









































Discussion about this post