Oleh Doddi Ahmad Fauji
Bola itu bundar, dan bisa bergulir ke manapun. Itulah salah satu semboyan dalam dunia sepak bola yang terus berdengung sampai kapanpun. Makna terdalam dari semboyan tersebut adalah harapan dari tim-tim bukan unggulan, dapat memenangkan pertandingan melawan tim unggulan. Di atas kertas, tim unggulan akan menang, namun kenyataan di lapangan, tim kelas bawah ternyata bisa menjadi kuda hitam yang melesat tak terduga, dan memenangkan pertandingan.
Semboyan di atas dapat kita saksikan ketika Argentina kalah oleh Kamerun pada Pildun 1990, atau kalah oleh Arab Saudi pada Pildun 2022 lalu. Pada Pildun 2022, semboyan itu makin berdengung ketika para raksasa bola dari Benua Biru, digiring pulang kandang oleh Jepang.
Pada laga Indonesia vs Jepang di kandang mereka, semboyan di atas bisa saja berlaku. Dari berbagai bangsa mengenal diksi ‘who knows!”
Memperdebatkan yang sudah lewat sampai berlarut-larut, pada saat ini, menjadi tidka menarik. Kenapa STY diusir, padahal bla… bla… bala… Kenapa Kluivert dan bukan van Gaal yang menggantinya. Perdebatan itu, jikapun terjadi, biarlah nanti saja, setelah bulan Juni beralih menjadi Juli, dan kita tahu hasilnya.
Meskipun skuad Garuda yang dijagokan kebanyakan dari naturalisasi, apa boleh buat, adalah fakta untuk saat ini, The Dream Tim itu harus dibangun oleh personel yang secara fisik lebih kuat, secara mental juga lebih stabil, dan tak kalah penting, pengalaman merumput di tim-tim Eropa, membuat para naturalis lebih meyakinkian tinimbang pemain yang bukan naturalisasi.
Pengalaman adalah guru yang terbaik, itulah determinasi yang memperkuat argumen bahwa para naturalis itu lebih kaya bergulat dengan para pebola terbaik dari berbagai bangsa. Dan juga, Indonesia semasa masih Hindia Belanda pernah masuk Pildun, kebanyakan pemain itu kan orang Belanda, yang secara tubuh lebih kokoh, dengan mental lebih superior.
Inverioritas dan superioritas adalah mental dasar yang bisa menentukan keberhasilan dalam berbagai hal, termasuk merumput.
Kans Garuda untuk masuk Pildun pada 2026, cukup besar, apalagi bila ditambah dengan dukungan total suporter. Apakah doa penting? Tentu saja, meski berdoa saja tidak cukup. Orang Arab yang lebih dekat ke Ka’bah toh bisa kalah oleh tim Garuda, yang para suporter dari kedua belah pihak mayoritas muslim. Doa tanpa usaha, adalah ilusi.
Ora et labora, berdoa sambil bekerja (berlatih) barangkali tepat untuk diterapkan. Keyakinan orang Latin ini pada sekelimut frase ‘berdoa sambil bekerja’, adalah untuk memantapkan mental bahwa salah satu semboyan bola yang mengawali harapan ini: Bola itu bundar dan bisa bergulir ke manapun. Who knows Garuda berlaga di Pildun 2026.
Bisa jadi leluhur Patrick Kluivert itu dari Rangkasbitung atau Suriname, sama seperti dugaan terhadap van Brongkos yang leluhurnya berasal dari wilayah Barat Pulau Jawa ini. Katakanlah dugaan ini salah. Namun setidaknya ada ‘politik etis’ yang pernah didengungkan oleh Conrad Theodore van Deventer, yang menjadi bara kecil lahirnya semangat kebangkitan bangsa hingga Indonesia merdeka. Secara pribadi, saya berkeyekinan, Kluivert akan bekerja allout, apalagi ia dibayar cukup bagus. Entahlah, apakah dia belajar sejarah dan tahu bahwa leluhurnya pernah menjajah bangsa yang terperentah, atau tidak sama sekali. Jika ia tahu itu, politik etis itu akan mengalur dalam jiwanya, sehingga ia berkerja mati-matian, dan bagaimanapun, target Garuda masuk Pildun 2026, adalah pertaruhan besar yang harus ia bayar dengan bekerja keras, cerdas, dan tuntas.
Akhir kata, semoga Timnas Garuda memperoleh banyak keberuntungan. Di Indonesia melimpah kata untung, dari mulai Untung Suropati hingga Untung Wardojo (kata Kg Afi: Ahmad Faisal Imron, UW adalah salah satu tokoh Jabar)
Hiya hiya hiya… hayu baladiya dewa, ramekeun!





































Discussion about this post