Portalnusa.id – Pemerintah Desa (Pemdes) Gumulung Lebak, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, mulai menunjukkan keseriusannya dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui program desa tematik hortikultura. Dengan memanfaatkan lahan seluas 3 hektare, desa ini kini bertransformasi menjadi sentra budidaya cabai rawit jenis Ori 212 dan jagung pipil.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk implementasi program ketahanan pangan yang bersumber dari 20 persen Dana Desa (DD). Pemilihan komoditas ini bukan tanpa alasan, melainkan hasil dari pertimbangan matang berdasarkan kondisi geografis dan kultur tanah di wilayah tersebut.
Kuwu Gumulung Lebak, Akman Sodikin, menjelaskan bahwa penetapan jenis tanaman didasarkan pada hasil musyawarah desa yang menyesuaikan dengan potensi alam setempat. Dari total lahan yang ada, 2 hektare di antaranya difokuskan untuk penanaman cabai rawit sebanyak 30.000 bibit.
“Berdasarkan kultur geografisnya, kami berfokus ke sektor pertanian berupa tanaman cabai dan jagung pipil. Untuk jagung, saat ini kami sudah mulai bisa menentukan estimasi waktu panen,” ujar Akman saat ditemui di lokasi lahan pertanian, Selasa (13/1/2026).
Proses persiapan lahan untuk cabai diakuinya cukup memakan waktu, yakni sekitar tiga bulan untuk memastikan tanah siap ditanami. Saat ini, tanaman cabai baru memasuki usia tanam satu minggu.
“Hari Senin besok kita mulai masuk tahap pengobatan pertama, pemberian vitamin, serta fungisida agar pertumbuhan tanaman optimal,” tambahnya.
Akman menyebut, meski cuaca panas di wilayah Greged menjadi tantangan tersendiri, Pemdes Gumulung Lebak telah melakukan kajian usaha yang mendalam. Akman menyebutkan, pada daerah dengan cuaca dingin, cabai bisa dipanen hingga 15-20 kali petik. Namun, untuk kondisi cuaca panas di desanya dalam satu tanaman cabai bisa dipetik minimal sebanyak 8 kali.
“Prediksi kami berdasarkan kajian usaha, dengan 30.000 tanaman dan estimasi hasil 6 ons per tanaman, kita bisa menghasilkan kurang lebih 18 ton cabai dalam satu siklus tanam,” paparnya optimis.
Dari sisi ekonomi, potensi ini sangat menjanjikan. Dengan harga pasar saat ini yang mencapai Rp80.000 per kilogram, dan harga di tingkat petani yang stabil di angka Rp60.000 hingga Rp65.000 per kilogram, program ini diharapkan mampu memberikan pemasukan yang signifikan bagi desa.
Menyikapi adanya kebijakan efisiensi anggaran ketahanan pangan yang tengah ramai diperbincangkan, Akman mengaku tidak terlalu khawatir. Baginya, program pertanian yang sedang berjalan ini merupakan bentuk investasi jangka panjang yang akan menjadi sumber Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Kami cukup santai menghadapi efisiensi anggaran ini karena kami sudah memiliki investasi yang menurut kami cukup untuk mencapai target PADes. Hasil dari pertanian ini nantinya akan kami gunakan kembali untuk pembangunan dan kepentingan masyarakat desa,” pungkasnya.
Samsung Resmi Luncurkan Galaxy A57 5G dan A37 5G: Bawa “Awesome Intelligence” ke Segmen Menengah
Portalnusa.id – Samsung Electronics Co., Ltd. secara resmi memperkenalkan lini terbaru dari keluarga Galaxy A series, yakni Galaxy A57 5G...




































Discussion about this post