Doddi Ahmad Fauji
Pada hari terakhir penciptaan
dengan kata, Ia menggerinda Singgasana
di Arasy, dari akik dan jamrud
Serbuk-serbuknya mengambang
berkilauan serupa mutumanikam
membentuk gugus nusa dan nestapa
Ke nusa itu pula, kelak
sebuah bahtera melintas
setelah bah menyusut
nahkoda berujar kepada para awak:
“Kita memasuki paparan Lemuria
pentas paling ganas, kelak
para trubador benua biru
tak sanggup menembusya
perang akan berkepanjangan
turunkan sepasang gajah
tanamlah emas hijau terbaik
di sini, di bawah khatulistiwa!”
Maka ini puisi terakhir
untuk-mu melayari pikiranku
karena di Lemuria, yang kekal tinggal kesumat
ombak dan semilir, seakan tak punya belas
gerimis tak bermakna, bagi tubuh Tokyo-mu
kabut pekat dan badai biru
akan menari mengiringi takdir-mu
karena kau menjauh dariku
dari laut yang mengepung rumah-mu
Ingin selalu kusampaikan
menunggu surut tsunami
pada hari ketujuh, sebelum rehat
Ia menyelesaikan pekerjaan
dengan berseloroh:
Jadi, maka jadilah
Maka jadilah Copernicus dan Galilei-Galileo
yang membuka jalur sutra di lambung samudra
maka jadilah Cornelis de Houtman bersaudara
mereka membangun jalan menuju kebun rempah
era penghisapan dimulai
leluhur kita mulai saling bacok
Plato mencatat, perang besar antara yang di dalam
dan di luar Pilar Heracles. Athena memimpin
pasukan yang di dalam, dan raja-raja Atlantis
membentuk barisan di luar
Yang di luar itu, tak terjangkau oleh nalar
mereka berumah di Samudra Raya
yang lebih luas dari Lybia dan Asia
Perang besar berakhir tanpa pemenang
sejak sebuah gunung menghancurkan dirinya
di Lemuria, tempat tumpah darah-mu
Benar kan, yang tinggal di Lemuria
hanya kesumat
bahkan tertulis dalam syair lagu kebangsaan
Dengan sesungai rindu
orang-orang mengenang laut
yang terbakar seteru sejagat
Kau pernah datang dengan semerbak
seperti oase di gurun sengketa
dengan seringai lira menggelitik, mengikir sukma
seperti debur bernyanyi
mengantarkan rindu burung-burung
pulang kampung, ke Pelabuhan Ratu
Kita pernah sama-sama menaklukkan hujan, bukan?
tetapi samudra raya, bahkan nafasnya
jauh panggang dari api
Aku tak faham, dan tak akan pernah hatam
sedari kecil, ada yang menjauhkan
kita dari laut, memisahkan dari selat
hanya meninabobokan
dengan sekelumit kalimat
“nenek moyangku orang pelaut”
Tetapi kenapa pakan empat sehat lima sempurna
tidak menyisipkan ikan bahari
padahal melimpah dan gratis
kenapa selalu bunuh diri dengan kebijakan
kenapa sejarah terbunuh dari ingatan
Kau pasti berlalu. Lalu aku berkelana kembali
serupa Hidir yang ganjil, tanpa santri
menyusur jejak Nuh pada tiap helai pantai
Tapi jejak kita, bekas cengkrama, luka-mu
dan perihku
kuharap tak pernah jadi kenangan
Kuharap, kelak
aku membawa-mu ke zenith cincin api
dan berwisata ke sarang gempa
tempat minyak dan emas merahasiakan dirinya
Ada yang akan menyusun kembali jalur sutra
di lambung samudra, dan kapal-kapal musuh
hilir mudik seperti setrika di rumah laundry
Kau pasti paham
mengapa aku selalu berbusa-busa
membincangkan rempah
dan tanah gemah ripah
yang tidak bertuan
dan Laut Jawa yang dangkal
kelak jadi rumah jagal
Benar kan, yang tinggal di Lemuria
hanya kesumat
bahkan tertulis dalam syair lagu kebangsaan
Begitulah, bahkan dulu sekali
sebelum pemakaman dikenal
Kabil mengucurkan darah Habil
ia mengebumikan saudaranya
di punden berundak Gunung Padang
meniru burung garuda
yang menguburkan kawannya
pada sebuah falsafah
dulu kita meng-imla falsafah itu
tiap upacara bendera dihelat
Era Gomedha dan Einstein telah berlalu
berganti zaman keemasan Stephen Hawking
dengarlah tuturan Arysio Santos
kabut pekat dan badai biru itu
hanya sejengkal dari pelipis-mu
Kita akan menaklukkan ombak
dan berumah di laut
seperti rompak dari Bajau
Mendekatlah ke arahku
laut untuk pikiran-mu berlayar
karena seperti kata leluhur
yang gemar membelah perut samudra
di laut kita jaya
Jampang Kulon, 2015
Puisi ini pernah dipublikasikan dalam antologi “Gelombang Puisi Maritim” (Dewan Kesenian Banten, 2016)





































Discussion about this post